Honda Kaget, Volkswagen Belajar: China Kini Jadi Guru Industri Mobil Dunia

Rabu, 03 Juni 2026 - 13:30 WIB
400 kilometer itu setara perjalanan Jakarta-Semarang. Setara menunggu kopi Starbucks selesai dibuat barista.

China juga unggul dalam biaya produksi.

Menurut International Energy Agency, biaya membuat SUV listrik kecil di China setidaknya 30 persen lebih murah dibanding negara maju.

Salah satu penyebabnya adalah baterai.

Penyebab lain: rantai pasok. Semuanya ada. Semuanya dekat. Semuanya terintegrasi.

Keunggulan itu tidak datang tiba-tiba.

Riset Rhodium Group menyebut pemerintah China menggelontorkan puluhan miliar dolar untuk industri kendaraan listrik dan baterai. Puluhan miliar dolar.

Jika dikonversi ke rupiah nilainya mencapai ratusan triliun rupiah. Hasilnya mulai terlihat sekarang. Dampaknya terasa di mana-mana. Pangsa pasar merek asing di China turun drastis.

Tahun 2020 masih 64 persen. Tahun ini tinggal 32 persen. Hilang separuh. Dalam lima tahun. General Motors terpukul. Pabrikan Jerman terpukul. Pabrikan Jepang juga terpukul. Bahkan merek mewah ikut terpukul.

Ada mobil baru bernama Maextro S800. Buatan Huawei. Mobil sedan mewah ini kini menjadi mobil terlaris di China untuk segmen harga di atas USD100.000. Setara sekitar Rp1,78 miliar.

Mobil itu mengalahkan Porsche Panamera. Mengalahkan BMW Seri 7. Dua nama yang dulu hampir tak tersentuh di pasar premium China.

Ford juga mulai khawatir. CEO Ford Jim Farley mengatakan: "Kami sedang berjuang untuk hidup kami."

Bukan kalimat yang biasa keluar dari bos perusahaan sebesar Ford.

Maka hubungan antara Barat dan China ikut berubah. Dulu Barat membawa teknologi. China menyediakan pabrik.

Sekarang kebalikannya mulai terjadi. Volkswagen membayar USD700 juta kepada XPeng. Setara sekitar Rp12,46 triliun.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!