Indonesia Berpeluang Besar Jadi Pemain Global di Industri Kendaraan Listrik
Sabtu, 20 November 2021 - 18:23 WIB
Meski begitu, isu lingkungan belum cukup untuk menjadi poin utama konsumen untuk beralih ke EV. Menurut pembalap Fitra Eri, value yang ada saat ini belum bisa menggoda orang Indonesia untuk membeli. Pasalnya, konsumen umumnya tidak terlalu pusing soal isu lingkungan, bagi mereka nilai ekonomisnya juga menjadi yang utama.
“Mobil listrik harganya masih diatas Rp1 miliar. Mahal. Konsumen beli mobil listrik bukan karena sadar lingkungan, tapi penasaran, layak enggak sih pindah ke mobil listrik. Ujung-ujungnya perhitungan ekonomi,” kata Fitra.
Jika dibandingkan dengan Norwegia dimana 9 dari 10 kendaraan yang beredar disana adalah EV, kita masih sangat jauh. Pemerintah negara itu membuat harga mobil EV tidak berbeda jauh dengan mobil bermesin pembakaran dalam. Bahkan kendaraan yang bukan EV akan dikenakan pajak yang lebih mahal. Jadi di Indonesia, mobil listrik harus ekonomis, dan diperkuat regulasi pemerintah dengan banyak insentif serta infrastruktur juga penting agar bisa dipakai keluar kota.
“Bagi saya yang sudah memakai EV yang jelas mengendarainya sangat menyenangkan. Harapannya agar industri bisa lebih cepat bertumbuh dari yang kita perkirakan,” kata Fitra.
Ketua Policy Center ILUNI UI M. Jibriel Avessina menambahkan, isu ini penting untuk terus dikawal. Salah satunya karena Indonesia sebagai penghasil bahan baku terbesar untuk baterai. Kedua, masa depan diharapkan ada terobosan untuk bergeser dari energi fosil ke energi non fosil di Indonesia.
”Kami akan mengadakan diskusi lanjutan agar industri baterai berkembang dan bagaimana peran dari alumni yang berkiprah di berbagai segmen bisa mengambil peran untuk seluruh pemangku kepentingan yang ada. Kita memang belum maksimal tapi sudah di arah yang benar,” tutup Jibriel.
“Mobil listrik harganya masih diatas Rp1 miliar. Mahal. Konsumen beli mobil listrik bukan karena sadar lingkungan, tapi penasaran, layak enggak sih pindah ke mobil listrik. Ujung-ujungnya perhitungan ekonomi,” kata Fitra.
Jika dibandingkan dengan Norwegia dimana 9 dari 10 kendaraan yang beredar disana adalah EV, kita masih sangat jauh. Pemerintah negara itu membuat harga mobil EV tidak berbeda jauh dengan mobil bermesin pembakaran dalam. Bahkan kendaraan yang bukan EV akan dikenakan pajak yang lebih mahal. Jadi di Indonesia, mobil listrik harus ekonomis, dan diperkuat regulasi pemerintah dengan banyak insentif serta infrastruktur juga penting agar bisa dipakai keluar kota.
“Bagi saya yang sudah memakai EV yang jelas mengendarainya sangat menyenangkan. Harapannya agar industri bisa lebih cepat bertumbuh dari yang kita perkirakan,” kata Fitra.
Ketua Policy Center ILUNI UI M. Jibriel Avessina menambahkan, isu ini penting untuk terus dikawal. Salah satunya karena Indonesia sebagai penghasil bahan baku terbesar untuk baterai. Kedua, masa depan diharapkan ada terobosan untuk bergeser dari energi fosil ke energi non fosil di Indonesia.
”Kami akan mengadakan diskusi lanjutan agar industri baterai berkembang dan bagaimana peran dari alumni yang berkiprah di berbagai segmen bisa mengambil peran untuk seluruh pemangku kepentingan yang ada. Kita memang belum maksimal tapi sudah di arah yang benar,” tutup Jibriel.
(wbs)
Lihat Juga :