Indonesia Berpeluang Besar Jadi Pemain Global di Industri Kendaraan Listrik
Sabtu, 20 November 2021 - 18:23 WIB
“Sehingga, menurut kami sangat penting terciptanya satu ekosistem untuk membangun dan berhasilnya EV di Indonesia,” ujar Andre dalam sambutannya.
Menurut Andre, UI harus bisa berperan besar dalam menciptakan ekosistem ini. “Kita tahu banyak terobosan lahir dari universitas, karena itu untuk membangun ekosistem EV perlu peran besar dari universitas dan alumninya yang tersebar di seluruh sektor untuk memperkenalkan dari hulu ke hilir. Mengomunikasikan kepada masyarakat adanya manfaat dari EV, termasuk insentif pajak yang ada,” kata dia.
Dari sudut pandang ekonomi, pengamat ekonomi UI Toto Pranoto mengatakan masyarakat global sudah mulai beralih ke EV. Dia mencatat secara global data penjualan EV naik 43 % di tahun 2020 dengan penjualan hingga 3,2 juta unit. Banyak pabrikan dunia sudah menargetkan akan segera masuk ke pasar EV. Norwegia bahkan sudah menargetkan tahun 2025 negaranya sudah 100 persen menggunakan EV.
Problemnya di Indonesia, lanjut Pranoto adalah bagaimana kita bisa mengembangkan manufaktur nasional sehingga bisa mendorong industri yang menghasilkan produk yang atraktif bagi konsumen dan harga yang kompetitif dengan produk asing. Selain itu, dukungan insentif dari pemerintah juga penting, soal pemotongan pajak kendaraan, atau insentif non materiil seperti pengecualian nomor ganjil-genap bagi EV. “Dengan harga yang kompetitif dan dukungan kemudahan lainnya, menjadikan minat masyarakat untuk membelinya akan lebih baik,” kata Pranoto.
Direktur Hyundai Tri Wahono menyambung, masyarakat butuh diedukasi lebih dalam soal EV agar tidak ada resistensi. Bagaimana dampak penggunaan EV terhadap lingkungan dan ekonomi nasional. Hal ini mengingat negara-negara di Asia Tenggara belum ada yang bergerak.
“Kita jadi punya kesempatan untuk menjadi pionir, menjadi pemain utama yang memiliki supply chain yang kuat dari hulu ke hilir,” tegas Tri.
Penggunaan EV menurut Toto sangat banyak manfaatnya bagi lingkungan hidup dan juga ekonomi. Dia menjelaskan manfaat untuk lingkungan misalnya hanya dengan konversi 30% saja dari BBM ke EV kita bisa mengurangi impor BBM secara signifikan hampir Rp 2-3 miliar setahun.
“Kita harus segera beralih ke EV danmenggunakan baterai EV yang kita produksi sendiri. Baterai produksi nasional dapat bertahan 8 tahun bisa didaur ulang 80% ,” jelas Toto.
Menurut Andre, UI harus bisa berperan besar dalam menciptakan ekosistem ini. “Kita tahu banyak terobosan lahir dari universitas, karena itu untuk membangun ekosistem EV perlu peran besar dari universitas dan alumninya yang tersebar di seluruh sektor untuk memperkenalkan dari hulu ke hilir. Mengomunikasikan kepada masyarakat adanya manfaat dari EV, termasuk insentif pajak yang ada,” kata dia.
Dari sudut pandang ekonomi, pengamat ekonomi UI Toto Pranoto mengatakan masyarakat global sudah mulai beralih ke EV. Dia mencatat secara global data penjualan EV naik 43 % di tahun 2020 dengan penjualan hingga 3,2 juta unit. Banyak pabrikan dunia sudah menargetkan akan segera masuk ke pasar EV. Norwegia bahkan sudah menargetkan tahun 2025 negaranya sudah 100 persen menggunakan EV.
Problemnya di Indonesia, lanjut Pranoto adalah bagaimana kita bisa mengembangkan manufaktur nasional sehingga bisa mendorong industri yang menghasilkan produk yang atraktif bagi konsumen dan harga yang kompetitif dengan produk asing. Selain itu, dukungan insentif dari pemerintah juga penting, soal pemotongan pajak kendaraan, atau insentif non materiil seperti pengecualian nomor ganjil-genap bagi EV. “Dengan harga yang kompetitif dan dukungan kemudahan lainnya, menjadikan minat masyarakat untuk membelinya akan lebih baik,” kata Pranoto.
Direktur Hyundai Tri Wahono menyambung, masyarakat butuh diedukasi lebih dalam soal EV agar tidak ada resistensi. Bagaimana dampak penggunaan EV terhadap lingkungan dan ekonomi nasional. Hal ini mengingat negara-negara di Asia Tenggara belum ada yang bergerak.
“Kita jadi punya kesempatan untuk menjadi pionir, menjadi pemain utama yang memiliki supply chain yang kuat dari hulu ke hilir,” tegas Tri.
Penggunaan EV menurut Toto sangat banyak manfaatnya bagi lingkungan hidup dan juga ekonomi. Dia menjelaskan manfaat untuk lingkungan misalnya hanya dengan konversi 30% saja dari BBM ke EV kita bisa mengurangi impor BBM secara signifikan hampir Rp 2-3 miliar setahun.
“Kita harus segera beralih ke EV danmenggunakan baterai EV yang kita produksi sendiri. Baterai produksi nasional dapat bertahan 8 tahun bisa didaur ulang 80% ,” jelas Toto.
Lihat Juga :