Ditanya Soal Serbuan Pabrikan Mobil China di Indonesia, Toyota Bilang Gini
Rabu, 24 Januari 2024 - 19:46 WIB
loading...
A
A
A
Bob menyebut, jika Indonesia ingin menjadi produsen mobil terbesar di Asia Tenggara, sulit bersaing dengan Thailand. Faktor terbesarnya, adalah pajak di Thailand jauh lebih rendah.
“Di Thailand tidak ada pajak daerah. Sementara kita justru baru saja menaikkan PPN. Di Thailand dengan pajak yang rendah, pasar pun berkembang. Industri bergerak, pasar juga membesar. Sehingga justru akan menciptakan pajak baru bagi pemerintah,” ungkap Bob.
Sebelumnya, Sekretaris Umum Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia), Kukuh Kumara, mengatakan bahwa di tahun 2023 penjualan mobil malah menurun dibanding 2022.
Sepanjang 2023, penjualan mobil secara wholesale (pabrik ke dealer) sejumlah 1.005.802 unit. Angka itu turun 4%, dari 1.395.717 unit (-5,1%) di tahun 2022. Sementara penjualan menyentuh 1.048.040 unit dan produksi 1.470.146 kendaraan.
Baca Juga: Pabrikan China Kian Agresif, Toyota Justru Tingkatkan Target Produksi ke 10,3 Juta Unit Mobil di 2024
“Di Thailand tidak ada pajak daerah. Sementara kita justru baru saja menaikkan PPN. Di Thailand dengan pajak yang rendah, pasar pun berkembang. Industri bergerak, pasar juga membesar. Sehingga justru akan menciptakan pajak baru bagi pemerintah,” ungkap Bob.
Sebelumnya, Sekretaris Umum Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia), Kukuh Kumara, mengatakan bahwa di tahun 2023 penjualan mobil malah menurun dibanding 2022.
Sepanjang 2023, penjualan mobil secara wholesale (pabrik ke dealer) sejumlah 1.005.802 unit. Angka itu turun 4%, dari 1.395.717 unit (-5,1%) di tahun 2022. Sementara penjualan menyentuh 1.048.040 unit dan produksi 1.470.146 kendaraan.
Baca Juga: Pabrikan China Kian Agresif, Toyota Justru Tingkatkan Target Produksi ke 10,3 Juta Unit Mobil di 2024
Lihat Juga :