Tiga Alasan Utama Mundurnya LG dari Proyek Baterai Kendaraan Listrik di Indonesia
Sabtu, 03 Mei 2025 - 15:23 WIB
loading...
A
A
A
Kendaraan listrik dinilai belum cukup menarik bagi konsumen pasar yang lebih luas karena beberapa faktor seperti harga jual yang lebih tinggi dibandingkan mobil berbahan bakar fosil, jarak tempuh yang terbatas, dan waktu pengisian daya yang relatif lama. Hal ini menciptakan ketidakpastian pasar yang mungkin mempengaruhi perhitungan investasi jangka panjang LGES.
Namun, pemerintah Indonesia melalui Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, justru menyatakan bahwa keputusan untuk mengakhiri kerjasama justru datang dari pemerintah Indonesia. Pemerintah merasa negosiasi dengan konsorsium LG telah berlangsung terlalu lama, yakni sekitar lima tahun, tanpa adanya kemajuan yang signifikan dan sesuai dengan keinginan pemerintah untuk mempercepat realisasi proyek strategis ini.
Baca Juga: LG Mundur dari Proyek Baterai EV, Kadin Tepis RI Tak Menarik Bagi Investor
Huayou dinilai telah memahami seluk-beluk industri baterai EV dan telah memiliki investasi di sektor pertambangan nikel di Indonesia (Weda Bay, Maluku Utara), yang merupakan bahan baku utama baterai.
Menteri Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa perubahan ini hanyalah penyesuaian mitra investasi dalam struktur kerjasama (joint venture), dan proyek secara keseluruhan tetap berjalan sesuairencanaawal.
2. Ketidakpastian Lingkungan Investasi dan Lamanya Negosiasi
Meskipun tidak secara eksplisit diakui oleh LGES dalam pernyataan resminya, terdapat indikasi mengenai kekhawatiran terhadap iklim berusaha di Indonesia, terutama pascapengesahan revisi Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (UU TNI) yang beredar di media Korea Selatan.Namun, pemerintah Indonesia melalui Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, justru menyatakan bahwa keputusan untuk mengakhiri kerjasama justru datang dari pemerintah Indonesia. Pemerintah merasa negosiasi dengan konsorsium LG telah berlangsung terlalu lama, yakni sekitar lima tahun, tanpa adanya kemajuan yang signifikan dan sesuai dengan keinginan pemerintah untuk mempercepat realisasi proyek strategis ini.
3. Pergeseran Mitra Investasi dan Kehadiran Huayou
Dari Korea ke China. Pemerintah Indonesia memutuskan melanjutkan proyek baterai kendaraan listrik dengan menggandeng Huayou, perusahaan teknologi asal China yang sebelumnya juga telah tergabung dalam konsorsium LG sejak tahun 2024.Baca Juga: LG Mundur dari Proyek Baterai EV, Kadin Tepis RI Tak Menarik Bagi Investor
Huayou dinilai telah memahami seluk-beluk industri baterai EV dan telah memiliki investasi di sektor pertambangan nikel di Indonesia (Weda Bay, Maluku Utara), yang merupakan bahan baku utama baterai.
Menteri Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa perubahan ini hanyalah penyesuaian mitra investasi dalam struktur kerjasama (joint venture), dan proyek secara keseluruhan tetap berjalan sesuairencanaawal.
(dan)
Lihat Juga :