Tarif Impor AS Bakal Bikin Industri Otomotif Thailand Terpuruk

Rabu, 28 Mei 2025 - 20:55 WIB
loading...
Tarif Impor AS Bakal...
Donald Trump. foto/ Carscoops
A A A
BANGKOK - Kantor Ekonomi Industri (OIE) Thailand telah memperingatkan bahwa tarif impor baru yang diusulkan oleh Presiden AS Donald Trump dapat merugikan industri hingga THB200 miliar dalam bentuk kehilangan ekspor pada tahun 2025.

Dampak ini tidak hanya akan mengecilkan peluang ekspor, tetapi juga mengurangi pertumbuhan PDB industri Thailand sebesar 1,02 poin persentase, yang memaksa pemerintah untuk menggandakan upaya untuk merombak sembilan sektor industri utama yang menjadi tulang punggung ekonomi negara tersebut.

BACA JUGA - Harley Davidson Banting Harga Imbas Tarif Impor AS



OIE sebelumnya telah memperkirakan pertumbuhan industri sekitar 1,5 hingga 2,5 persen untuk tahun depan, tetapi angka tersebut sekarang diperkirakan akan direvisi turun, tergantung pada hasil negosiasi dengan AS, yang dijadwalkan akan berakhir sekitar Juli 2025.

Menurut Direktur Jenderal OIE Passakorn Chairat, meskipun AS mengumumkan tarif pembalasan pada bulan April, termasuk bea masuk sebesar 36 persen atas barang-barang dari Thailand, penerapannya telah ditunda selama 90 hari untuk memungkinkan negosiasi.

Ia memperkirakan tarif sebenarnya berada pada kisaran 10–20 persen, tetapi tetap berdampak signifikan pada investasi dan ekspor negara tersebut.

Bank of Thailand (BOT) juga memperkirakan kebijakan perdagangan AS ini akan membatasi pertumbuhan ekonomi Thailand hingga di bawah 2,5 persen pada tahun 2025.

Bahkan, Passakorn memperingatkan bahwa persaingan dari negara lain yang akan mengalihkan ekspornya ke pasar tradisional Thailand dapat mendatangkan barang yang lebih murah dan melemahkan posisi industri lokal.

Saat ini Thailand menghadapi tekanan ganda seperti struktur industri yang ketinggalan zaman dan utang rumah tangga yang tinggi, yang membuat ekonominya lebih rentan terhadap guncangan global.

Oleh karena itu, OIE mengumumkan rencana reformasi besar-besaran yang melibatkan 9 sektor industri utama yang menyumbang 70 persen PDB manufaktur negara tersebut.

Di antara sektor yang akan difokuskan adalah:

Otomotif: Transisi ke kendaraan listrik dan hibrida, selain mempertahankan statusnya sebagai pusat produksi truk pikap dan mobil ramah lingkungan.

Petrokimia & Plastik: Promosi bioplastik dan plastik daur ulang sejalan dengan agenda hijau.

Bioindustri: Penekanan pada produk bernilai tinggi seperti bahan bakar biojet dan biofarmasi.

Makanan: Pengembangan "makanan masa depan" seperti protein alternatif dan makanan fungsional.
Perangkat Medis: Fokus pada penanganan penyakit tidak menular seperti diabetes dan kanker.
Logam & Besi: Beralih ke produksi "baja hijau".

Robotika & Otomasi: Mendorong penggunaan otomasi dalam industri untuk mengurangi biaya.
Listrik & Elektronik: Investasi dalam semikonduktor dan pusat data, serta peningkatan sektor peralatan listrik yang ada.

Tekstil & Pakaian: Penekanan pada tekstil teknis dan mode ramah lingkungan.
Rencana tersebut diharapkan akan diserahkan ke Kabinet dalam waktu dua bulan dan akan diikuti oleh alokasi anggaran khusus untuk pelaksanaannya, termasuk inisiatif pajak yang akan dipimpin oleh Kementerian Keuangan, khususnya untuk mendukung sektor otomotif.

“Jika target industri otomotif tercapai, Thailand dapat menjadi pusat global untuk produksi kendaraan modern yang bersih, aman, dan terjangkau,” kata Passakorn, yang menyimpulkan bahwa langkah-langkah reformasi ini akan menciptakan peluang kerja dan menyelaraskan pembangunan negara dengan tren global.
(wbs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mengemudikan Mobil Manual...
Mengemudikan Mobil Manual Lebih Menyehatkan Otak Dibandingkan Otomatis
Toyota dan Nissan Sebut...
Toyota dan Nissan Sebut Mobil yang Diproduksi di AS Berkualitas Lebih Rendah dari Jepang
Mobil Buatan Amerika...
Mobil Buatan Amerika Serikat Dapat Ujian Besar di Pasar Jepang
Larangan Perangkat Lunak...
Larangan Perangkat Lunak AS Bikin Susah Banyak Produsen Mobil
Industri Otomotif Jerman...
Industri Otomotif Jerman Tambah Sekarat Akibat Perang Timur Tengah
Audi Nuvolari Supercar...
Audi Nuvolari Supercar Hybrid V8 dengan 987 HP, Penerus Spiritual R8
Penembakan di Fan Zone...
Penembakan di Fan Zone Piala Dunia 2026, Satu Orang Tewas dan Satu Kritis
Setelah Saling Serang,...
Setelah Saling Serang, AS dan Iran Sepakat Menahan Diri, Ternyata Ini Pemicunya!
10 Kali Amerika Serikat...
10 Kali Amerika Serikat dan Iran Duduk di Meja Perundingan, tapi Perang Terus Berlanjut, Ini Penyebabnya
Rekomendasi
Jerman vs Paraguay:...
Jerman vs Paraguay: Menanti 3 Rekor Der Panzer
Ilmuwan Temukan Penyebab...
Ilmuwan Temukan Penyebab Baru di Balik Peningkatan Lemak Perut Seiring Bertambahnya Usia
Jerman Ditahan Imbang...
Jerman Ditahan Imbang Paraguay 1-1, Laga Berlanjut ke Extra Time
Berita Terkini
Mengemudikan Mobil Manual...
Mengemudikan Mobil Manual Lebih Menyehatkan Otak Dibandingkan Otomatis
Mantan Karyawan Apple...
Mantan Karyawan Apple dan Audi Kembangkan Kendaraan Listrik Terinspirasi dari Armada Bulan
Toyota dan Nissan Sebut...
Toyota dan Nissan Sebut Mobil yang Diproduksi di AS Berkualitas Lebih Rendah dari Jepang
Carlos Ghosn Klaim Cuma...
Carlos Ghosn Klaim Cuma Dirinya yang Bisa Memperbaiki Nissan
Teknologi Chery Super...
Teknologi Chery Super Hybrid Bikin Biaya Mobilitas hanya Rp13 Ribuan Sehari
Flying Flea C6 Motor...
Flying Flea C6 Motor Listrik Pertama Royal Enfield Diperkenalkan
Infografis
Sejumlah Pabrik di China...
Sejumlah Pabrik di China Mulai Stop Produksi Akibat Tarif AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved