Peta Kekuatan Mobil Listrik Dunia Terbelah: Eropa Melesat, China Dominan, Amerika Tertinggal Jauh
Sabtu, 16 Agustus 2025 - 13:17 WIB
loading...
Pertumbuhan kendaraan listrik di Amerika tertinggal jauh dibandingkan dengan Eropa dan China. Foto: ist
A
A
A
AMERIKA - Panggung otomotif global sedang menyajikan sebuah drama kolosal. Di atas kertas, revolusi mobil listrik (EV) tampak melaju kencang dengan total penjualan global mencapai 10,7 juta unit sepanjang Januari hingga Juli 2025, sebuah lompatan impresif 27% dibandingkan tahun lalu.
Namun, di balik angka gemilang itu, terbentang sebuah realitas yang timpang: sebuah kisah tentang raksasa yang tak tergoyahkan, kuda hitam yang menyalip di tikungan, dan negara adidaya yang justru tertatih-tatih di garis start.
Lebih dramatis lagi, selama tiga bulan berturut-turut, lebih dari 50% dari total mobil penumpang yang terjual di China adalah mobil listrik.
Namun, di balik dominasi absolut ini, ada sebuah catatan kritis. Kekuatan China sangat ditopang oleh skema subsidi pemerintah yang masif. Muncul pertanyaan: apakah pertumbuhan ini organik, atau sekadar euforia yang dipompa oleh kebijakan?
Sedikit retakan mulai terlihat pada penjualan mobil plug-in hybrid (PHEV) domestik yang justru turun 10% dari tahun lalu, menandakan pasar mulai selektif.
Meski begitu, Eropa bukanlah tanpa masalah. Prancis, salah satu pasar utamanya, justru terseok-seok dengan penjualan tahunan yang masih minus 11%.
Hal ini memaksa pemerintahnya merombak program subsidi untuk warga berpenghasilan rendah, membuktikan bahwa bahkan di Eropa, laju elektrifikasi sangat bergantung pada seberapa kuat dorongan kebijakan dari pemerintah.
Sebuah lonjakan permintaan memang diperkirakan terjadi pada kuartal ketiga, namun para analis melihatnya hanya sebagai euforia sesaat. Konsumen bergegas membeli sebelum insentif pajak berakhir pada 30 September, yang diprediksi akan diikuti oleh periode pasar yang kembali lesu.
Raksasa seperti Ford bahkan terpaksa mengubah strategi, berencana meluncurkan pikap listrik kelas menengah yang lebih terjangkau seharga Rp480 jutaan pada 2027, sebuah pengakuan bahwa strategi mobil listrik premium mereka saat ini belum berhasil merebut hati pasar massal.
Meskipun peta persaingan begitu timpang, Manajer Data perusahaan riset Rho Motion, Charles Lester, tetap melihat gambaran besar yang positif. "Meskipun ada variasi regional, lintasan keseluruhan untuk adopsi EV pada tahun 2025 tetap menguat tajam," ujarnya.
Pada akhirnya, perlombaan menuju masa depan elektrik memang sedang berlangsung, namun dengan para pelari yang kecepatannya sangat berbeda.
China melesat di depan, Eropa terus berakselerasi, sementara Amerika masih berjuang untuk tidak tertinggal lebih jauh dalam perlombaan yang akan menentukan peta kekuatan industri global di dekademendatang.
Namun, di balik angka gemilang itu, terbentang sebuah realitas yang timpang: sebuah kisah tentang raksasa yang tak tergoyahkan, kuda hitam yang menyalip di tikungan, dan negara adidaya yang justru tertatih-tatih di garis start.
Sang Kaisar Tak Tergoyahkan, China
China masih menjadi pusat gravitasi dunia EV. Dengan penjualan mencapai 6,5 juta unit, negara ini sendirian menyumbang lebih dari separuh total penjualan mobil listrik di planet ini.Lebih dramatis lagi, selama tiga bulan berturut-turut, lebih dari 50% dari total mobil penumpang yang terjual di China adalah mobil listrik.
Namun, di balik dominasi absolut ini, ada sebuah catatan kritis. Kekuatan China sangat ditopang oleh skema subsidi pemerintah yang masif. Muncul pertanyaan: apakah pertumbuhan ini organik, atau sekadar euforia yang dipompa oleh kebijakan?
Sedikit retakan mulai terlihat pada penjualan mobil plug-in hybrid (PHEV) domestik yang justru turun 10% dari tahun lalu, menandakan pasar mulai selektif.
Kebangkitan Tak Terduga Benua Biru, Eropa
Di seberang benua, Eropa menjadi bintang yang bersinar terang dengan lonjakan penjualan 30%, mencapai 2,3 juta unit. Jerman (+43%) dan Inggris (+32%) memimpin serangan. Namun, kuda hitam sesungguhnya adalah Italia. Berkat paket insentif baru senilai Rp11,2 triliun, penjualan EV di negara tersebut meroket 40%, sebuah kebangkitan yang mengejutkan.Meski begitu, Eropa bukanlah tanpa masalah. Prancis, salah satu pasar utamanya, justru terseok-seok dengan penjualan tahunan yang masih minus 11%.
Hal ini memaksa pemerintahnya merombak program subsidi untuk warga berpenghasilan rendah, membuktikan bahwa bahkan di Eropa, laju elektrifikasi sangat bergantung pada seberapa kuat dorongan kebijakan dari pemerintah.
Tragedi Sang Raksasa yang Mandek, Amerika
Kritik paling tajam tertuju pada Amerika Utara. Ketika seluruh dunia berlari, pasar di sana justru nyaris mandek dengan pertumbuhan hanya 2%. Ketidakpastian kebijakan, perang tarif, dan kebingungan strategi membuat para produsen mobil menelan kerugian "miliaran dolar" pada kuartal kedua.Sebuah lonjakan permintaan memang diperkirakan terjadi pada kuartal ketiga, namun para analis melihatnya hanya sebagai euforia sesaat. Konsumen bergegas membeli sebelum insentif pajak berakhir pada 30 September, yang diprediksi akan diikuti oleh periode pasar yang kembali lesu.
Raksasa seperti Ford bahkan terpaksa mengubah strategi, berencana meluncurkan pikap listrik kelas menengah yang lebih terjangkau seharga Rp480 jutaan pada 2027, sebuah pengakuan bahwa strategi mobil listrik premium mereka saat ini belum berhasil merebut hati pasar massal.
Meskipun peta persaingan begitu timpang, Manajer Data perusahaan riset Rho Motion, Charles Lester, tetap melihat gambaran besar yang positif. "Meskipun ada variasi regional, lintasan keseluruhan untuk adopsi EV pada tahun 2025 tetap menguat tajam," ujarnya.
Pada akhirnya, perlombaan menuju masa depan elektrik memang sedang berlangsung, namun dengan para pelari yang kecepatannya sangat berbeda.
China melesat di depan, Eropa terus berakselerasi, sementara Amerika masih berjuang untuk tidak tertinggal lebih jauh dalam perlombaan yang akan menentukan peta kekuatan industri global di dekademendatang.
(dan)
Lihat Juga :