Hantu Premanisme Masih Gentayangan, Ancam Lumpuhkan Jantung Industri Otomotif Indonesia

Sabtu, 30 Agustus 2025 - 09:33 WIB
loading...
Hantu Premanisme Masih...
Para debitur nakal menyewa ormas untuk melindungi mobil mereka dari penarikan yang memberikan efek domino besar terhadap industri otomotif. Foto: Sindonews
A A A
JAKARTA - Industri otomotif Indonesia ternyata masih menyimpan "penyakit kronis" yang kini kembali mengganas. Aksi premanisme, yang seringkali melibatkan organisasi masyarakat (ormas), kini tidak hanya menghantui jalanan, tetapi juga telah menyusup ke jantung sistem pembiayaan, mengancam untuk melumpuhkan denyut nadi penjualan mobil nasional.

Ini jadi lingkaran setan: aturan baru yang niatnya baik justru membuka celah bagi praktik-praktik intimidasi, yang pada akhirnya membuat perusahaan pembiayaan ketakutan, dan konsumen jujur menjadi korban utamanya.

Akar masalahnya, berasal dari kebijakan yang berniat baik. Undang-Undang No. 4 Tahun 2023 dan peraturan OJK melarang keras penggunaan kekerasan dan intimidasi oleh debt collector dalam menarik kendaraan yang kreditnya macet. Penagihan pun dibatasi hanya sampai pukul 20.00 malam.

Namun, kebijakan yang seharusnya melindungi konsumen ini justru dimanfaatkan secara "kreatif" oleh para oknum.
Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Kukuh Kumara, membongkar fenomena baru yang meresahkan ini.

“Ini mulai muncul setelah adanya, mohon maaf, aturan OJK di tahun 2023 di mana untuk menarik kendaraan yang kreditnya macet, itu nggak boleh sembarangan. Tapi dari situ kemudian banyak yang kreatif lah (menggunakan ormas), ini juga mengganggu,” ujar Kukuh di Jakarta, Senin (25/8).

Para debitur nakal kini seolah memiliki "benteng" baru. Mereka menyewa jasa ormas untuk melindungi mobil mereka dari penarikan, menciptakan medan perang kecil antara preman dan petugas leasing di lapangan.

Efek Domino yang Menghantam Penjualan

"Gangguan" di level jalanan ini ternyata menciptakan efek domino yang dahsyat, yang getarannya terasa hingga ke level penjualan nasional.

“Industri otomotif kita ini terganggu, karena industri pembiayaannya juga terganggu akibat adanya premanisme (ormas) di sana,” tegas Kukuh.

Menghadapi risiko bentrokan fisik dan ketidakpastian hukum, perusahaan pembiayaan (leasing) tidak punya pilihan lain selain "mengencangkan ikat pinggang". Mereka merespons dengan:

Memperketat Syarat Kredit: Proses pengajuan menjadi lebih rumit dan selektif.

Menaikkan Standar Pengamanan: Uang muka (DP) yang lebih tinggi dan persyaratan jaminan yang lebih ketat menjadi norma baru.

Konsumen Jujur Jadi Korban

Inilah tragedi sesungguhnya. Akibat ulah segelintir debitur nakal dan fenomena premanisme, jutaan calon pembeli jujur yang mengandalkan kredit kini menjadi korban.

Dengan 80% pembelian mobil di Indonesia yang bergantung pada kredit, pengetatan syarat ini secara langsung menjadi rem darurat bagi penjualan.

“Di Indonesia, 80 persen orang beli mobil pakai kredit. Waktu kreditnya terganggu, mereka (perusahaan pembiayaan) memperketat persyaratan dan itu dampaknya adalah penurunan penjualan kendaraan,” ungkap Kukuh.

Pada akhirnya, "hantu" premanisme kini tidak lagi hanya menjadi masalah keamanan di jalanan. Ia telah bermutasi menjadi sebuah kanker yang menggerogoti kesehatan ekonomi salah satu industri paling vitaldiIndonesia.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Persoalan Dana Talangan...
Persoalan Dana Talangan Membebani Industri Otomotif China
Mengemudikan Mobil Manual...
Mengemudikan Mobil Manual Lebih Menyehatkan Otak Dibandingkan Otomatis
Industri Otomotif Jerman...
Industri Otomotif Jerman Tambah Sekarat Akibat Perang Timur Tengah
Audi Nuvolari Supercar...
Audi Nuvolari Supercar Hybrid V8 dengan 987 HP, Penerus Spiritual R8
Dikira Cosplayer, Ternyata...
Dikira Cosplayer, Ternyata Shotaro Odate adalah Otak di Balik Inovasi Honda
Toyota Jungkir Balik...
Toyota Jungkir Balik Akibat Perang Iran dan Amerika Serikat
Menuju Tujuh Dekade...
Menuju Tujuh Dekade Astra: Perkuat Fokus Strategis untuk Dorong Pertumbuhan Perusahaan
Soal Surat Kadin China...
Soal Surat Kadin China ke Prabowo, DPR Minta Pemerintah Lakukan Evaluasi
Intip Kinerja MPMX Mengawali...
Intip Kinerja MPMX Mengawali 2026: Profitabilitas Meningkat di Tengah Dinamika Pendapatan
Rekomendasi
Tetangga Indonesia Ini...
Tetangga Indonesia Ini Beli Lagi 24 Rudal Canggih Hellfire AS, Harganya Rp401 Miliar
B50 Dimulai 1 Juli,...
B50 Dimulai 1 Juli, Mampukah Jadi Solusi Ketahanan Energi Tanpa Mengorbankan Petani Sawit?
Siapa Vadym Yermolaiev?...
Siapa Vadym Yermolaiev? Taipan Ukraina yang Terluka dalam Ledakan di Monako
Berita Terkini
Benedetto Vigna: Jika...
Benedetto Vigna: Jika Mobil Otonom Bisa Mengemudi Sendiri, Mengapa Membeli Ferrari
XPENG V1SION Night 2026,...
XPENG V1SION Night 2026, Tandai Babak Baru XPENG di Indonesia
Volkswagen Group Disinyalir...
Volkswagen Group Disinyalir Akan Menjual Ducati?
Ber-DNA Lancer, Mitsubishi...
Ber-DNA Lancer, Mitsubishi Attrage 2026 Dipastikan Siap Diluncurkan
Mau Beli Mobil Baru...
Mau Beli Mobil Baru atau Bekas? OLX Kini Sediakan Keduanya dalam Satu Platform
Bawa SIMC ke PRJ 2026...
Bawa SIMC ke PRJ 2026 Bisa Dapat Subsidi Harga Kendaraan Listrik
Infografis
Daftar Juara Liga Indonesia...
Daftar Juara Liga Indonesia dari Masa ke Masa: Persib Ukir Sejarah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved