Pesta Pora Pabrik Mobil Listrik di Indonesia: Kapasitas Produksi 70.000 Unit, tapi Siapa yang Akan Beli?
Sabtu, 30 Agustus 2025 - 12:00 WIB
loading...
Kapasitas produksi mobil listrik di Indonesia jauh lebih besar dibandingkan dari serapan pasar. Foto: VinFast
A
A
A
JAKARTA - Panggung industri otomotif Indonesia sedang berpesta pora. Sembilan produsen mobil listrik telah menancapkan benderanya di Tanah Air, membawa total investasi senilai Rp4,12 Triliun dan membangun pabrik-pabrik baru dengan total kapasitas produksi mencapai 70.060 unit per tahun.
Angka ini, yang dipaparkan oleh Direktur Industri Kemenperin, Mahardi Tunggul Wicaksono, di Jakarta (25/8), seolah menjadi simbol kemenangan dari kebijakan pemerintah untuk mendorong era elektrifikasi.
Namun, di balik angka kapasitas produksi yang fantastis ini, tersimpan sebuah pertanyaan besar yang mengganjal: di tengah lesunya daya beli masyarakat, siapa sebenarnya yang akan membeli semua mobil ini?
Namun, angka penjualan mobil listrik murni (Battery Electric Vehicle/BEV) sepanjang tahun 2024 "hanya" sekitar 43.188 unit.
Ini berarti, kapasitas produksi yang kini terpasang (70.060 unit) jauh melampaui permintaan pasar saat ini.
Ada "lubang" besar sekitar 27.000 unit antara apa yang bisa diproduksi oleh pabrik-pabrik baru ini dengan apa yang sanggup diserap oleh pasar. Pabrik-pabrik raksasa ini kini lapar akan pesanan.
Meskipun pasar motor listrik juga sedang tumbuh, kapasitas produksi yang luar biasa besar ini menunjukkan pertaruhan yang sangat berisiko dari para pemainnya.
Total, industri mobil roda empat di Indonesia memiliki 32 pabrikan dengan investasi raksasa Rp143,91 Triliun dan kapasitas produksi 2,35 juta unit per tahun. Namun, pasar mereka sedang tergerus hebat.
Data Kemenperin tersebut menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, memang Indonesia menarik investasi baru di sektor EV. Itu bagus. Tapi di sisi lain, ada potensi overcapacity (kelebihan kapasitas) yang serius. Pabrik dibangun, tapi pasarnya belum tentu siap.
Fokus pemerintah yang terlalu besar pada EV impor dan pembangunan pabrik baru, tanpa memberikan insentif yang seimbang bagi pemain lama dan industri komponen, berisiko menciptakan 'kanibalisme industri' di mana yang baru tumbuh dengan cara memakan yang lama.
“Investasi di mobil listrik masih menjadi yang terbesar dan berpotensi terus bertambah karena ada sejumlah brand yang akan masuk,” ujar Tunggul, menyiratkan optimisme pemerintah.
Namun, di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan, optimisme ini harus diuji dengan realita. Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia bisa menjadi basis produksi mobil listrik—karena pabrik-pabrik itu sudah berdiri.
Pertanyaan sesungguhnya adalah, mampukah kita menciptakan pasar yang cukup kuat untuk memberi makan semua pabrikraksasaitu?
Angka ini, yang dipaparkan oleh Direktur Industri Kemenperin, Mahardi Tunggul Wicaksono, di Jakarta (25/8), seolah menjadi simbol kemenangan dari kebijakan pemerintah untuk mendorong era elektrifikasi.
Namun, di balik angka kapasitas produksi yang fantastis ini, tersimpan sebuah pertanyaan besar yang mengganjal: di tengah lesunya daya beli masyarakat, siapa sebenarnya yang akan membeli semua mobil ini?
Pabrik Raksasa yang Lapar Pesanan
Mari kita bedah lebih dalam ironi ini. Total populasi kendaraan listrik di Indonesia pada 2024 memang meroket 78% mencapai 207.000 unit.Namun, angka penjualan mobil listrik murni (Battery Electric Vehicle/BEV) sepanjang tahun 2024 "hanya" sekitar 43.188 unit.
Ini berarti, kapasitas produksi yang kini terpasang (70.060 unit) jauh melampaui permintaan pasar saat ini.
Ada "lubang" besar sekitar 27.000 unit antara apa yang bisa diproduksi oleh pabrik-pabrik baru ini dengan apa yang sanggup diserap oleh pasar. Pabrik-pabrik raksasa ini kini lapar akan pesanan.
Motor Listrik: Kisah yang Berbeda Drastis
Kontras yang tajam terlihat di segmen roda dua. Industri motor listrik, dengan total 66 perusahaan dan investasi Rp1,15 Triliun, kini memiliki kapasitas produksi "monster" mencapai 2,37 juta unit per tahun.Meskipun pasar motor listrik juga sedang tumbuh, kapasitas produksi yang luar biasa besar ini menunjukkan pertaruhan yang sangat berisiko dari para pemainnya.
'Gajah di dalam Ruangan': Nasib Industri Konvensional
Di tengah pesta pora investasi mobil listrik ini, ada seekor "gajah di dalam ruangan" yang seringkali dilupakan: nasib industri mobil konvensional yang telah menjadi tulang punggung ekonomi selama puluhan tahun.Total, industri mobil roda empat di Indonesia memiliki 32 pabrikan dengan investasi raksasa Rp143,91 Triliun dan kapasitas produksi 2,35 juta unit per tahun. Namun, pasar mereka sedang tergerus hebat.
Data Kemenperin tersebut menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, memang Indonesia menarik investasi baru di sektor EV. Itu bagus. Tapi di sisi lain, ada potensi overcapacity (kelebihan kapasitas) yang serius. Pabrik dibangun, tapi pasarnya belum tentu siap.
Fokus pemerintah yang terlalu besar pada EV impor dan pembangunan pabrik baru, tanpa memberikan insentif yang seimbang bagi pemain lama dan industri komponen, berisiko menciptakan 'kanibalisme industri' di mana yang baru tumbuh dengan cara memakan yang lama.
Pertaruhan Masa Depan
Pada akhirnya, ledakan jumlah pabrik mobil listrik di Indonesia adalah sebuah pertaruhan besar. Ini adalah sebuah keyakinan bahwa pasar akan terus tumbuh secara eksponensial untuk bisa menyerap semua kapasitas produksi yang ada.“Investasi di mobil listrik masih menjadi yang terbesar dan berpotensi terus bertambah karena ada sejumlah brand yang akan masuk,” ujar Tunggul, menyiratkan optimisme pemerintah.
Namun, di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan, optimisme ini harus diuji dengan realita. Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia bisa menjadi basis produksi mobil listrik—karena pabrik-pabrik itu sudah berdiri.
Pertanyaan sesungguhnya adalah, mampukah kita menciptakan pasar yang cukup kuat untuk memberi makan semua pabrikraksasaitu?
(dan)
Lihat Juga :