GAC Aion Mengaku Tenang Hadapi Aturan Baru Mobil Listrik 2026
Sabtu, 13 September 2025 - 14:12 WIB
loading...
Saat para pesaingnya baru akan memulai, GAC Aion seolah sudah lebih dulu mengerjakan pekerjaan rumah mereka. Foto: GAC Aion
A
A
A
JAKARTA - Jarum jam terus berdetak menuju 31 Desember 2025. Bagi banyak merek mobil listrik baru di Indonesia, tanggal itu adalah tenggat waktu menakutkan. Semacam "hari kiamat kecil" yang akan mengakhiri era kemudahan impor mobil utuh (CBU) tanpa pajak.
Kini, banyak dari mereka tengah pontang-panting merancang pabrik dan mengejar target produksi lokal. Namun, merek asal China GAC Aion mengaku tenang dan bahkan nyaris tanpa beban.
Saat para pesaingnya baru akan memulai, GAC Aion seolah sudah lebih dulu "mengerjakan pekerjaan rumah" mereka. Mereka menyambut aturan baru pemerintah—yang mewajibkan produksi lokal mulai 2026—bukan dengan kecemasan, melainkan rasa percaya diri.
"Kita sudah mencermati akan ada perubahan peraturan di akhir 2025," ujar Andry Ciu, CEO GAC Indonesia, dengan santai di Jakarta. "Ini sangat menguntungkan GAC Aion, karena kami sudah CKD (Completely Knocked Down / perakitan lokal). Secara harga mestinya tidak terdampak."
Pertama, perakitan lokal (CKD). Berada di bawah payung raksasa otomotif nasional, Indomobil, GAC tidak perlu pusing membangun pabrik dari nol.
Mereka telah memanfaatkan fasilitas perakitan milik PT National Assemblers, sehingga sebagian besar produk yang mereka jual di Indonesia memang sudah dirakit di dalam negeri.
Kedua, dan ini yang paling krusial, adalah Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Aturan pemerintah mewajibkan kandungan lokal minimal 40 persen pada 2026. Menurut Andry Ciu, GAC Aion sudah melampaui target tersebut.
"Local content, 40 persen sampai 2026. Aion UT dan V sudah memenuhi persyaratan 40 persen," ungkapnya.
Dengan dua syarat utama—perakitan lokal dan TKDN—sudah di kantong, GAC Aion kini berada di posisi yang sangat diuntungkan.
Mereka tidak perlu khawatir dengan kewajiban untuk memproduksi unit sesuai jumlah yang telah mereka impor, sebuah "utang" yang kini harus dibayar oleh para pesaingnya.
Saat ini, mereka telah memposisikan produknya dengan harga cukup kompetitif di pasar:
Aion V: Tipe Luxury Rp489 juta dan tipe Exclusive Rp449 juta.
Aion UT: Varian Premium Rp363 juta dan varian Standard Rp325 juta.
Di saat banyak merek asing terbuai dengan insentif impor jangka pendek, GAC, melalui kemitraan lokalnya, memilih jalan yang lebih sulit namun lebih aman.
Kini, di saat para pesaingnya baru memulai lari maraton mereka, GAC Aion sudah tampak nyaman menunggudigarisfinis.
Kini, banyak dari mereka tengah pontang-panting merancang pabrik dan mengejar target produksi lokal. Namun, merek asal China GAC Aion mengaku tenang dan bahkan nyaris tanpa beban.
Saat para pesaingnya baru akan memulai, GAC Aion seolah sudah lebih dulu "mengerjakan pekerjaan rumah" mereka. Mereka menyambut aturan baru pemerintah—yang mewajibkan produksi lokal mulai 2026—bukan dengan kecemasan, melainkan rasa percaya diri.
"Kita sudah mencermati akan ada perubahan peraturan di akhir 2025," ujar Andry Ciu, CEO GAC Indonesia, dengan santai di Jakarta. "Ini sangat menguntungkan GAC Aion, karena kami sudah CKD (Completely Knocked Down / perakitan lokal). Secara harga mestinya tidak terdampak."
Kartu Truf Bernama 'CKD' dan 'TKDN'
Ketenangan GAC Aion ini bersumber dari dua kartu truf strategis yang telah mereka mainkan jauh-jauh hari.Pertama, perakitan lokal (CKD). Berada di bawah payung raksasa otomotif nasional, Indomobil, GAC tidak perlu pusing membangun pabrik dari nol.
Mereka telah memanfaatkan fasilitas perakitan milik PT National Assemblers, sehingga sebagian besar produk yang mereka jual di Indonesia memang sudah dirakit di dalam negeri.
Kedua, dan ini yang paling krusial, adalah Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Aturan pemerintah mewajibkan kandungan lokal minimal 40 persen pada 2026. Menurut Andry Ciu, GAC Aion sudah melampaui target tersebut.
"Local content, 40 persen sampai 2026. Aion UT dan V sudah memenuhi persyaratan 40 persen," ungkapnya.
Dengan dua syarat utama—perakitan lokal dan TKDN—sudah di kantong, GAC Aion kini berada di posisi yang sangat diuntungkan.
Mereka tidak perlu khawatir dengan kewajiban untuk memproduksi unit sesuai jumlah yang telah mereka impor, sebuah "utang" yang kini harus dibayar oleh para pesaingnya.
Stabilitas Harga di Tengah Potensi Guncangan
Keunggulan strategis ini berdampak langsung pada hal yang paling penting bagi konsumen: harga. Saat merek lain mungkin akan mengalami gejolak harga atau keterbatasan pasokan pada 2026 nanti, GAC Aion diyakini akan tetap stabil.Saat ini, mereka telah memposisikan produknya dengan harga cukup kompetitif di pasar:
Aion V: Tipe Luxury Rp489 juta dan tipe Exclusive Rp449 juta.
Aion UT: Varian Premium Rp363 juta dan varian Standard Rp325 juta.
Di saat banyak merek asing terbuai dengan insentif impor jangka pendek, GAC, melalui kemitraan lokalnya, memilih jalan yang lebih sulit namun lebih aman.
Kini, di saat para pesaingnya baru memulai lari maraton mereka, GAC Aion sudah tampak nyaman menunggudigarisfinis.
(dan)
Lihat Juga :