Bencana Kerugian Rp96 Triliun: Porsche Batalkan Proyek Mobil Listrik, Volkswagen Remuk Karena Mobil China!
Senin, 22 September 2025 - 08:22 WIB
loading...
Tidak menjual mobil listrik membuat proyeksi laba Porsche menurut dari 5 persen menjadi hanya 2 persen. Foto: Getty Images
A
A
A
JERMAN - Porsche AG secara resmi mengumumkan akan menarik kembali rencana ambisius peluncuran kendaraan listrik (EV) mereka. Keputusan ini dipicu oleh permintaan yang lesu, tekanan di pasar vital China, dan tarif impor Amerika Serikat yang tinggi. Semua parameter itu menghantam induk usahanya, Volkswagen.
Akibatnya, Volkswagen harus bersiap menelan kerugian pahit senilai 5,1 miliar euro atau setara USD6 miliar (sekitar Rp96 triliun).
Angka fantastis ini merupakan dampak dari perombakan produk besar-besaran di Porsche, di mana beberapa model mobil listrik terpaksa ditunda peluncurannya demi memberi jalan bagi mobil bermesin konvensional (ICE) dan hybrid.
Bagi Porsche, produsen mobil legendaris 911 yang berbasis di Stuttgart, ini adalah perubahan strategi besar-besaran. Perusahaan memperkirakan langkah ini akan memangkas laba operasional mereka hingga 1,8 miliar euro hanya untuk tahun ini saja.
"Kami sedang menyaksikan perubahan besar-besaran dalam lingkungan otomotif," ujar Oliver Blume, CEO yang memimpin Porsche dan Volkswagen sekaligus, dalam konferensi pers. Ia secara terbuka mengakui adanya "penurunan permintaan yang jelas untuk mobil listrik eksklusif."
Blume menambahkan dengan nada serius, "Kami telah membuat keputusan strategis utama. Sekarang saatnya untuk menjalankannya. Ini akan menjadi jalan yang sulit dan panjang, dan akan menuntut fokus penuh serta upaya keras dari kami."
Pasar modal bereaksi seketika. Saham Porsche yang terdaftar di Frankfurt anjlok 3,1 persen, sementara saham Volkswagen merosot 2,1 persen setelah pengumuman tersebut.
Proyeksi jangka menengah mereka juga dipotong, dari 15-17 persen menjadi paling baik 15 persen.
Angka-angka ini mengundang komentar pedas dari para analis. Patrick Hummel, seorang analis dari UBS, tidak menahan kritiknya. "Ini bukanlah margin (keuntungan) yang Anda harapkan dari sebuah produk mewah, setidaknya bukan dari produk yang sukses," sindirnya dalam sesi tanya jawab.
Sebagai gantinya, Porsche akan memperpanjang masa produksi model-model yang ada saat ini dengan mesin konvensional dan hybrid, termasuk sedan mewah Panamera, hingga memasuki dekade 2030-an.
Bahkan, SUV baru yang akan diposisikan di atas Cayenne, pada awalnya tidak akan ditawarkan dalam versi listrik sepenuhnya, melainkan dengan mesin konvensional dan hybrid.
Di sisi lain, ia juga seolah berharap pada fleksibilitas Uni Eropa terkait target pengurangan emisi CO2 sebesar 100 persen untuk mobil baru pada tahun 2035, sebuah sinyal bahwa target tersebut mungkin terlalu ambisius bagi industrisaatini.
Akibatnya, Volkswagen harus bersiap menelan kerugian pahit senilai 5,1 miliar euro atau setara USD6 miliar (sekitar Rp96 triliun).
Angka fantastis ini merupakan dampak dari perombakan produk besar-besaran di Porsche, di mana beberapa model mobil listrik terpaksa ditunda peluncurannya demi memberi jalan bagi mobil bermesin konvensional (ICE) dan hybrid.
Bagi Porsche, produsen mobil legendaris 911 yang berbasis di Stuttgart, ini adalah perubahan strategi besar-besaran. Perusahaan memperkirakan langkah ini akan memangkas laba operasional mereka hingga 1,8 miliar euro hanya untuk tahun ini saja.
"Kami sedang menyaksikan perubahan besar-besaran dalam lingkungan otomotif," ujar Oliver Blume, CEO yang memimpin Porsche dan Volkswagen sekaligus, dalam konferensi pers. Ia secara terbuka mengakui adanya "penurunan permintaan yang jelas untuk mobil listrik eksklusif."
Blume menambahkan dengan nada serius, "Kami telah membuat keputusan strategis utama. Sekarang saatnya untuk menjalankannya. Ini akan menjadi jalan yang sulit dan panjang, dan akan menuntut fokus penuh serta upaya keras dari kami."
Pasar modal bereaksi seketika. Saham Porsche yang terdaftar di Frankfurt anjlok 3,1 persen, sementara saham Volkswagen merosot 2,1 persen setelah pengumuman tersebut.
Proyeksi Keuntungan Anjlok, Analis Bersuara Kritis
Dampak finansial dari keputusan ini luar biasa. Porsche memangkas drastis proyeksi margin keuntungan mereka untuk 2025, dari yang semula ditargetkan 5-7 persen menjadi maksimal hanya 2 persen.Proyeksi jangka menengah mereka juga dipotong, dari 15-17 persen menjadi paling baik 15 persen.
Angka-angka ini mengundang komentar pedas dari para analis. Patrick Hummel, seorang analis dari UBS, tidak menahan kritiknya. "Ini bukanlah margin (keuntungan) yang Anda harapkan dari sebuah produk mewah, setidaknya bukan dari produk yang sukses," sindirnya dalam sesi tanya jawab.
Sebagai gantinya, Porsche akan memperpanjang masa produksi model-model yang ada saat ini dengan mesin konvensional dan hybrid, termasuk sedan mewah Panamera, hingga memasuki dekade 2030-an.
Bahkan, SUV baru yang akan diposisikan di atas Cayenne, pada awalnya tidak akan ditawarkan dalam versi listrik sepenuhnya, melainkan dengan mesin konvensional dan hybrid.
Tantangan Eksternal: Tarif AS dan Regulasi Uni Eropa
Oliver Blume juga menyoroti tekanan dari luar. Ia mengatakan bahwa rencana penurunan tarif impor mobil AS dari 27,5 persen menjadi 15 persen masih bisa memakan waktu berminggu-minggu karena negosiasi antara Brussels dan Washington masih alot.Di sisi lain, ia juga seolah berharap pada fleksibilitas Uni Eropa terkait target pengurangan emisi CO2 sebesar 100 persen untuk mobil baru pada tahun 2035, sebuah sinyal bahwa target tersebut mungkin terlalu ambisius bagi industrisaatini.
(dan)
Lihat Juga :