Jurang Depresiasi: Harga Mobil Listrik Bekas Anjlok 35-60%, Bensin Stabil di 10-15% Per Tahun
Rabu, 01 Oktober 2025 - 07:33 WIB
loading...
Penurunan harga yang tinggi membuat konsumen ragu untuk membeli mobil listrik. Foto: Sindonews
A
A
A
JAKARTA - Panggung pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025 baru saja usai, meninggalkan gemerlap lampu sorot pada mobil-mobil listrik (EV) yang digadang-gadang sebagai kendaraan masa depan.
Namun, di pasar mobil bekas, data berkata sebaliknya. "Sang raja tua", mobil bermesin bensin (ICE) dan hybrid (HEV), masih berdiri kokoh, menolak tunduk pada gempuran EV.
Senjata utama mereka? Faktor krusial bagi konsumen Indonesia: harga jual kembali (resale value).
Data dari OLXmobbi, yang menjadi mitra resmi trade-in di GIIAS 2025, melukiskan gambaran jernih.
Animo masyarakat untuk bertransaksi mobil bekas justru meledak. Terjadi lonjakan signifikan sebesar 53% pada pelanggan yang melakukan tukar tambah, dan jumlah penjual mobil di platform tersebut meroket 47% dibanding tahun sebelumnya.
Ini adalah sinyal bahwa pasar otomotif sekunder sedang berdenyut kencang.
Namun, data penyerapan inilah yang membuka tabir realitas pasar. Harga rata-rata mobil bekas yang diserap selama pameran berada di angka Rp150 juta.
Menariknya, mobil bekas termahal yang laku adalah dari kategori hybrid (HEV), yang mampu menembus angka Rp300 juta.
Sebaliknya, mobil listrik murni (BEV) bekas yang masuk dalam penyerapan rata-rata hanya dihargai sekitar Rp 115 juta.
Fenomena ini diperkuat oleh daftar mobil yang paling banyak dijual oleh pengunjung.
Untuk mesin bensin, duo legendaris Toyota Kijang Innova dan Avanza masih mendominasi.
Di lini hybrid, Toyota Yaris Cross menjadi primadona.
Sementara itu, mobil listrik yang paling banyak dilepas pemiliknya adalah Wuling Air EV.
Data di platform OLX menunjukkan jurang yang menganga lebar:
ICE & HEV (Bensin & Hybrid): Rata-rata depresiasi berkisar 10% - 15% per tahun.
BEV (Listrik Murni): Rata-rata depresiasi anjlok secara brutal di angka 35% - 60% per tahun.
Angka ini adalah alarm keras. Seseorang yang membeli mobil listrik bisa kehilangan lebih dari separuh nilai mobilnya hanya dalam satu tahun.
Tembok Pembiayaan: Konsumen mobil bekas di Indonesia sangat bergantung pada perusahaan pembiayaan (leasing). Sayangnya, "hampir tidak ada perusahaan pembiayaan yang mau membiayai kendaraan BEV bekas," ungkap laporan tersebut. Tanpa dukungan pembiayaan, pasar mobil listrik bekas menjadi sangat terbatas.
Namun, di pasar mobil bekas, data berkata sebaliknya. "Sang raja tua", mobil bermesin bensin (ICE) dan hybrid (HEV), masih berdiri kokoh, menolak tunduk pada gempuran EV.
Senjata utama mereka? Faktor krusial bagi konsumen Indonesia: harga jual kembali (resale value).
Data dari OLXmobbi, yang menjadi mitra resmi trade-in di GIIAS 2025, melukiskan gambaran jernih.
Animo masyarakat untuk bertransaksi mobil bekas justru meledak. Terjadi lonjakan signifikan sebesar 53% pada pelanggan yang melakukan tukar tambah, dan jumlah penjual mobil di platform tersebut meroket 47% dibanding tahun sebelumnya.
Ini adalah sinyal bahwa pasar otomotif sekunder sedang berdenyut kencang.
Namun, data penyerapan inilah yang membuka tabir realitas pasar. Harga rata-rata mobil bekas yang diserap selama pameran berada di angka Rp150 juta.
Menariknya, mobil bekas termahal yang laku adalah dari kategori hybrid (HEV), yang mampu menembus angka Rp300 juta.
Sebaliknya, mobil listrik murni (BEV) bekas yang masuk dalam penyerapan rata-rata hanya dihargai sekitar Rp 115 juta.
Fenomena ini diperkuat oleh daftar mobil yang paling banyak dijual oleh pengunjung.
Untuk mesin bensin, duo legendaris Toyota Kijang Innova dan Avanza masih mendominasi.
Di lini hybrid, Toyota Yaris Cross menjadi primadona.
Sementara itu, mobil listrik yang paling banyak dilepas pemiliknya adalah Wuling Air EV.
"Depresiasi Tinggi": Momok Menakutkan Bagi Pemilik Mobil Listrik
Akar dari keengganan pasar mobil bekas untuk sepenuhnya memeluk EV terletak pada satu kata yang menakutkan bagi setiap pemilik kendaraan: depresiasi atau penyusutan nilai.Data di platform OLX menunjukkan jurang yang menganga lebar:
ICE & HEV (Bensin & Hybrid): Rata-rata depresiasi berkisar 10% - 15% per tahun.
BEV (Listrik Murni): Rata-rata depresiasi anjlok secara brutal di angka 35% - 60% per tahun.
Angka ini adalah alarm keras. Seseorang yang membeli mobil listrik bisa kehilangan lebih dari separuh nilai mobilnya hanya dalam satu tahun.
Mengapa ini terjadi? Ada dua alasan utama:
Perang Teknologi dan Harga: Produsen EV berlomba-lomba meluncurkan model baru dengan teknologi lebih canggih dan harga semakin kompetitif, membuat model lama langsung terasa usang dan tidak menarik.Tembok Pembiayaan: Konsumen mobil bekas di Indonesia sangat bergantung pada perusahaan pembiayaan (leasing). Sayangnya, "hampir tidak ada perusahaan pembiayaan yang mau membiayai kendaraan BEV bekas," ungkap laporan tersebut. Tanpa dukungan pembiayaan, pasar mobil listrik bekas menjadi sangat terbatas.
(dan)
Lihat Juga :