Ini 5 Alasan Psikologis Kenapa Bapak-Bapak (Gen X & Boomers) Ogah Beli Mobil Listrik!

Selasa, 18 November 2025 - 13:01 WIB
loading...
Ini 5 Alasan Psikologis...
Di tengah gempuran mobil listrik (EV), generasi Boomers dan Gen X masih menyimpan lima keraguan fundamental, mulai dari rasa waswas akan kotak hitam tanpa mesin hingga trauma teknologi yang cepat basi. Foto: Hyundai Indonesia
A A A
JAKARTA - Era elektrifikasi kendaraan boleh jadi terus bergulir, namun di garasi-garasi generasi yang lebih mapan, revolusi senyap ini tampaknya masih tertahan. Mobil listrik (EV), dengan segala pesona futuristiknya, belum sepenuhnya berhasil merebut hati Baby Boomers dan Generasi X.

Masalahnya ternyata lebih dalam dari sekadar harga. Ada benteng psikologis dan keraguan praktis yang mengakar kuat.

Managing Partner Inventure, Yuswohady, membedah lima alasan fundamental mengapa dua generasi ini masih enggan beralih ke EV. Ini adalah pertarungan antara logika mapan dan disrupsi teknologi.

1. Celah Ketidakpastian (Perceived Risk)

Bagi generasi yang tumbuh besar dengan kultur mekanis—di mana mesin, oli, dan deru adalah wujud kontrol—EV adalah sebuah "kotak hitam" yang misterius.

"Boomers dan Gen X dibesarkan dalam kultur mobil harus jelas mesinnya. Sementara EV bagi mereka adalah black box yang tidak ada suara mesin, tidak ada oli, dan tidak ada komponen mekanis yang familiar," jelas Yuswohady.

Ketiadaan elemen yang familier ini, menurut analisisnya, menciptakan hilangnya sense of control. Muncul ketakutan akan risiko-risiko tak kasat mata, seperti kegagalan baterai mendadak, korsleting, atau potensi kebakaran yang terasa begitu menakutkan.

"Pabrikan harus mengehmas transparansi teknologi, baik keamanan hingga jaminan after sales untuk menurunkan 'uncertainty gap' (celah ketidakpastian) generasi ini," sarannya.

2. Kecemasan 'Tergantung Colokan'

Logika Boomers dan Gen X masih memegang prinsip bahwa mobil adalah medium untuk perjalanan jauh antar kota. Keterbatasan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang belum merata di setiap sudut menciptakan "kecemasan akut".

Serangkaian pertanyaan praktis pun muncul: "Bagaimana kalau baterai habis di tengah jalan? Bagaimana jika antre charging? Bagaimana jika keluar kota tidak nemu SPKLU?"

Karena itu, Yuswohady menekankan kesalahan strategi pemasaran. "Jangan menjual EV sebagai future mobility (mobilitas masa depan). Tapi, jual sebagai zero hassle mobility (mobilitas tanpa repot) dengan bukti konkret: peta infrastruktur, rute perjalanan real-world, durasi charge nyata, dan solusi charge di rumah."

3. Kalkulasi TCO yang Masih 'Gelap'

Total Cost of Ownership (TCO) atau biaya kepemilikan total menjadi tembok penghalang berikutnya. Persoalannya bukan pada keengganan untuk berhemat.

"Menurut Yuswohady, Gen X dan Boomers bukannya tidak mau hemat. Tapi, mereka hanya anti membeli sesuatu yang perhitungannya tidak pasti," tulis analisis tersebut.

Ketidakpastian ini mencakup pertanyaan krusial: Berapa harga baterai jika rusak? Bagaimana nilai jual kembalinya (resale value)? Dan bagaimana perbandingan pasti biaya listrik versus BBM dalam jangka panjang?

Resistensi ini, kata Yuswohady, bisa diturunkan jika angkanya jelas. "Ada baiknya brand menyediakan tool kalkulator TCO resmi. Semakin jelas angkanya, semakin turun resistensinya."

4. Identitas dan 'Greget' Mesin (ICE)

Bagi generasi ini, mobil bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah simbol kontrol, power (kekuatan), dan identitas yang diekspresikan melalui deru mesin. EV, yang senyap dan halus, dianggap "kurang greget", kurang kokoh, dan terlalu futuristik.

Di sinilah letak kesalahan pendekatan emosional. "Jangan menjual EV sebagai masa depan," beber Yuswohady. "Emotional entry-nya bisa bicara stabilitas, kenyamanan, dan keamanan, bukan futurisme."

5. Trauma Teknologi 'Cepat Basi'

Terakhir, ada faktor trauma terhadap adopsi teknologi baru. Generasi ini khawatir teknologi EV berkembang terlalu cepat, membuat barang yang baru dibeli menjadi cepat usang.

"Muncul ketakutan seperti teknologi yang cepat sekali berubah. Sehingga barang yang sudah dibeli, bisa obsolete (ketinggalan zaman) dalam waktu hanya 2 tahun," papar Yuswohady.

Untuk mengatasi ketakutan ini, pabrikan perlu memberikan jaminan "future proofing".

"Pencegahannya, menurut Yuswohady, adalah future proofing seperti update software berkala, garansi baterai yang panjang, modularitas (kemudahan ganti komponen), hingga resale guarantee (jaminan harga jual kembali),"tutupnya.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Fakta Baru Pasar Mobil...
Fakta Baru Pasar Mobil Eropa: Mobil Bensin Turun, EV dan Merek China Melesat
Standar Keselamatan...
Standar Keselamatan Kendaraan Listrik Baru China Lebih Ketat!
Dorong Ekosistem EV,...
Dorong Ekosistem EV, Wuling Berkolaborasi dengan Grab
Catat! Ini Penurunan...
Catat! Ini Penurunan Kapasitas Baterai Mobil Listrik Setiap Tahunnya
Volkswagen Memangkas...
Volkswagen Memangkas Produksi Pabriknya di Jerman, Ini Pertimbangan
Larangan Perangkat Lunak...
Larangan Perangkat Lunak AS Bikin Susah Banyak Produsen Mobil
Menguji Performa BYD...
Menguji Performa BYD M6 DM Terabas Jalanan Ibu Kota Jateng hingga Tol Semarang-Salatiga
MDLA Luncurkan Armada...
MDLA Luncurkan Armada Mobil Listrik, Dorong Transformasi Distribusi Rendah Emisi
Purbaya Tunda Insentif...
Purbaya Tunda Insentif Pajak Kendaraan Listrik Satu Bulan
Rekomendasi
5 Momen Penyelamatan...
5 Momen Penyelamatan Korban Gempa Venezuela yang Mengharukan
Pemerintah Perkuat Kopdes...
Pemerintah Perkuat Kopdes Merah Putih untuk Bangun Papua
Nadiem Makarim Menangis...
Nadiem Makarim Menangis hingga Beri Tanda Tangan ke Mitra Go Jek saat Tiba di PN Tipikor
Berita Terkini
Persoalan Dana Talangan...
Persoalan Dana Talangan Membebani Industri Otomotif China
Mengemudikan Mobil Manual...
Mengemudikan Mobil Manual Lebih Menyehatkan Otak Dibandingkan Otomatis
Mantan Karyawan Apple...
Mantan Karyawan Apple dan Audi Kembangkan Kendaraan Listrik Terinspirasi dari Armada Bulan
Toyota dan Nissan Sebut...
Toyota dan Nissan Sebut Mobil yang Diproduksi di AS Berkualitas Lebih Rendah dari Jepang
Carlos Ghosn Klaim Cuma...
Carlos Ghosn Klaim Cuma Dirinya yang Bisa Memperbaiki Nissan
Teknologi Chery Super...
Teknologi Chery Super Hybrid Bikin Biaya Mobilitas hanya Rp13 Ribuan Sehari
Infografis
Penjualan Mobil Murah...
Penjualan Mobil Murah LCGC Anjlok, Daya Beli Kelas Menengah Terancam?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved