Sinyal Kuat Honda: Super One Mulai Cicipi Aspal dan Macet Jakarta, Siap Tantang Dominasi Mobil Listrik China?
Jum'at, 28 November 2025 - 10:54 WIB
loading...
Sosok mobil listrik mungil berbalut kamuflase, Honda Super One, tertangkap kamera sedang menjalani uji jalan ekstrem di Indonesia untuk memastikan kesiapan infrastruktur dan ketahanannya sebelum diproduksi massal. Foto: ist
A
A
A
JAKARTA - Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas Indonesia, sesosok mobil mungil berbalut stiker kamuflase hitam-putih tertangkap kamera sedang melaju senyap namun menyimpan potensi ledakan performa.
Bukan sekadar rumor, dipastikan "makhluk" tersebut adalah Honda Super One, kandidat kuat mobil listrik massal Honda yang kini tengah mencicipi panas dan macetnya aspal Tanah Air.
Penampakan ini menjadi sinyal paling terang bahwa raksasa otomotif Jepang tersebut tidak ingin kehilangan momentum di pasar elektrifikasi yang kian seksi.
Biasanya, sebelum dirilis, pabrikan akan melakukan pengetesan untuk mengecek berbagai hal seperti kondisi jalan, ketahanan baterai, dan lainnya.
Meski memiliki dimensi ringkas yang mengingatkan pada Honda N-Series di Jepang, Hidetomo Horita, Large Project Leader Honda Super One, menolak anggapan bahwa ini adalah Kei Car (mobil mikro Jepang).
Super One adalah hatchback sejati, sekelas Honda Brio namun dengan suntikan steroid elektrik.
Pernyataan ini didukung oleh desain eksterior yang agresif. Fender yang melebar dan membungkus ban berprofil lebar memberikan postur rendah yang stabil. Desain aerodinamis dengan saluran udara khusus di depan dan belakang dirancang bukan hanya untuk estetika, tetapi juga efisiensi pendinginan sistem penggerak.
Teknologi "Boost Mode": Membangkitkan Adrenalin yang Hilang
Analisis pasar menunjukkan bahwa kelemahan utama mobil listrik kompak adalah hilangnya "rasa" berkendara. Honda menjawab tantangan ini dengan konsep e: Dash Booster. Super One tidak sekadar alat transportasi dari titik A ke titik B, melainkan mesin pencipta kebahagiaan (joy of driving).
Fitur kuncinya adalah Boost Mode. Sistem ini memungkinkan pengemudi mendapatkan lonjakan tenaga instan dari motor listrik, menghasilkan akselerasi yang responsif dan cepat layaknya mobil sport.
Tak berhenti di situ, Honda menyematkan fitur Active Sound Control yang disinkronkan dengan virtual multi-gear shift control. Artinya, meski mobil ini listrik murni (EV), pengemudi akan merasakan sensasi suara mesin dan hentakan perpindahan gigi layaknya mobil bermesin bensin konvensional.
Honda ingin menstimulasi seluruh indera pengemudi—penglihatan, pendengaran, dan rasa getaran—agar tidak terasa "hampa" saat berkendara.
Secara spesifikasi, Honda memang masih menutup rapat angka tenaga kuda dan kapasitas baterai. Namun, jejak rekamnya sudah terlihat saat versi konsepnya, Super EV Concept, melesat di lintasan legendaris Goodwood Festival of Speed di Inggris pada Juli 2025, serta sempat dipajang di GIIAS 2025 Agustus lalu.
Honda berencana memulai produksi massal berbasis Super-ONE Prototype di Jepang mulai tahun 2026.
Setelah itu, model ini akan diekspor atau diproduksi di pasar dengan permintaan EV kompak yang tinggi, termasuk Inggris dan negara-negara Asia Tenggara.
Jika lolos uji jalan di Indonesia—yang terkenal dengan kondisi jalan menantang—besar kemungkinan Super One akan menjadi andalan HondadiIndonesia.
Bukan sekadar rumor, dipastikan "makhluk" tersebut adalah Honda Super One, kandidat kuat mobil listrik massal Honda yang kini tengah mencicipi panas dan macetnya aspal Tanah Air.
Penampakan ini menjadi sinyal paling terang bahwa raksasa otomotif Jepang tersebut tidak ingin kehilangan momentum di pasar elektrifikasi yang kian seksi.
Biasanya, sebelum dirilis, pabrikan akan melakukan pengetesan untuk mengecek berbagai hal seperti kondisi jalan, ketahanan baterai, dan lainnya.
Meski memiliki dimensi ringkas yang mengingatkan pada Honda N-Series di Jepang, Hidetomo Horita, Large Project Leader Honda Super One, menolak anggapan bahwa ini adalah Kei Car (mobil mikro Jepang).
Super One adalah hatchback sejati, sekelas Honda Brio namun dengan suntikan steroid elektrik.
Pernyataan ini didukung oleh desain eksterior yang agresif. Fender yang melebar dan membungkus ban berprofil lebar memberikan postur rendah yang stabil. Desain aerodinamis dengan saluran udara khusus di depan dan belakang dirancang bukan hanya untuk estetika, tetapi juga efisiensi pendinginan sistem penggerak.
Teknologi "Boost Mode": Membangkitkan Adrenalin yang Hilang
![Sinyal Kuat Honda: Super One Mulai Cicipi Aspal dan Macet Jakarta, Siap Tantang Dominasi Mobil Listrik China?]()
Analisis pasar menunjukkan bahwa kelemahan utama mobil listrik kompak adalah hilangnya "rasa" berkendara. Honda menjawab tantangan ini dengan konsep e: Dash Booster. Super One tidak sekadar alat transportasi dari titik A ke titik B, melainkan mesin pencipta kebahagiaan (joy of driving).
Fitur kuncinya adalah Boost Mode. Sistem ini memungkinkan pengemudi mendapatkan lonjakan tenaga instan dari motor listrik, menghasilkan akselerasi yang responsif dan cepat layaknya mobil sport.
Tak berhenti di situ, Honda menyematkan fitur Active Sound Control yang disinkronkan dengan virtual multi-gear shift control. Artinya, meski mobil ini listrik murni (EV), pengemudi akan merasakan sensasi suara mesin dan hentakan perpindahan gigi layaknya mobil bermesin bensin konvensional.
Honda ingin menstimulasi seluruh indera pengemudi—penglihatan, pendengaran, dan rasa getaran—agar tidak terasa "hampa" saat berkendara.
Peta Persaingan dan Rencana Masa Depan
Langkah Honda ini dinilai sangat strategis. Di saat pasar EV Indonesia dibanjiri produk China yang mengandalkan harga murah dan fitur gimmick, Honda masuk dengan pendekatan "emosional" dan kualitas berkendara.Secara spesifikasi, Honda memang masih menutup rapat angka tenaga kuda dan kapasitas baterai. Namun, jejak rekamnya sudah terlihat saat versi konsepnya, Super EV Concept, melesat di lintasan legendaris Goodwood Festival of Speed di Inggris pada Juli 2025, serta sempat dipajang di GIIAS 2025 Agustus lalu.
Honda berencana memulai produksi massal berbasis Super-ONE Prototype di Jepang mulai tahun 2026.
Setelah itu, model ini akan diekspor atau diproduksi di pasar dengan permintaan EV kompak yang tinggi, termasuk Inggris dan negara-negara Asia Tenggara.
Jika lolos uji jalan di Indonesia—yang terkenal dengan kondisi jalan menantang—besar kemungkinan Super One akan menjadi andalan HondadiIndonesia.
(dan)
Lihat Juga :