Kiamat Industri Mobil Eropa: 1 dari 10 Mobil Terjual Buatan China
Sabtu, 31 Januari 2026 - 10:47 WIB
loading...
Mobil listrik BYD Seal di Berlin, Jerman. BYD menjadi simbol nyata bagaimana penetrasi otomotif China mulai mengakar kuat di jantung pertahanan industri otomotif Eropa. Foto: NYT
A
A
A
EROPA - Produsen otomotif China berhasil mencetak rekor sejarah dengan menguasai hampir 10 persen pasar mobil penumpang di Eropa bulan lalu, pencapaian yang menandai berakhirnya dominasi tradisional produsen lokal di tengah pesatnya pertumbuhan kendaraan listrik dan hibrida.
Angka ini bukan sekadar statistik; tapi lonceng kematian bagi hegemoni otomotif Eropa yang selama ini dianggap tak tersentuh.
Secara data, pangsa pasar merek China di sektor mobil berlistrik (electrified car) Eropa melonjak drastis menjadi 16% pada Desember 2025.
Jika ditarik dalam satu tahun kalender penuh, pangsa mereka mencapai 11% pada 2025, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Logika pasar berbicara dengan gamblang: China menang karena mereka memegang kendali atas teknologi baterai, jantung dari kendaraan masa depan.
Perang Harga dan Survivalitas Industri
Kritik tajam kini mengarah pada ketidakmampuan produsen Eropa untuk bersaing dalam efisiensi harga.
Sebagai contoh, di Inggris, BYD Seal U DM-i (plug-in hybrid) dibanderol mulai dari £33.340 atau sekitar Rp680,1 juta.
Bandingkan dengan rival terdekatnya, Volkswagen Tiguan eHybrid Match, yang dijual seharga £42.840 atau mencapai Rp873,9 juta.
Selisih hampir Rp193 juta ini menjadi alasan kuat mengapa konsumen kelas menengah di Spanyol, Yunani, Italia, hingga Inggris mulai meninggalkan loyalitas terhadap merek lokal.
"Perkembangan mobil China di Eropa sangat masif," tegas Roberto Vavassori, eksekutif Brembo NV yang memimpin asosiasi industri Anfia di Italia.
Ia memberikan peringatan keras bahwa tanpa langkah drastis, industri Eropa tidak akan mampu menggantikan lebih dari 110.000 pekerjaan yang hilang dalam 18 bulan terakhir. "Ini adalah masalah kelangsungan hidup bagi industri kami," tambahnya.
Mereka juga telah menyalip pabrikan Amerika Serikat di wilayah tersebut sejak kuartal kedua 2025.
Penetrasi ini bahkan lebih dalam jika menghitung mobil yang diproduksi di China namun menggunakan lencana Barat seperti Tesla, BMW, atau Renault.
Berdasarkan basis itu, satu dari tujuh mobil berlistrik yang terjual di Eropa tahun lalu adalah produk "Made in China".
Namun, kebijakan Uni Eropa terlihat ambigu. Di satu sisi, mereka memberlakukan tarif impor, namun di sisi lain, Jerman berencana membuka subsidi EV senilai €3 miliar atau setara Rp51,3 triliun yang ironisnya juga bisa dinikmati produsen China.
Analis Pal Skirta dari Metzler menilai langkah ini justru memberikan suntikan energi tambahan bagi pabrikan China untuk menghantam Volkswagen di rumahnya sendiri.
Strategi mereka kini berevolusi dari sekadar ekspor menjadi produksi lokal. Alfredo Altavilla, penasihat khusus BYD di Eropa, menyatakan ambisinya: "Niat kami sangat jelas, kami ingin BYD menjadi produsen Eropa".
BYD mulai membangun pabrik lokal, sementara Chery tengah bersiap memproduksi mobil listrik di Barcelona bersama mitra lokal.
Keberhasilan China di Eropa menjadi sorotan dunia, termasuk mantan Presiden AS Donald Trump yang menggunakan fenomena ini sebagai alasan untuk mempertahankan tarif 100% di negaranya guna melindungi produsen seperti Ford.
Di Eropa, pintu tampaknya masih terbuka cukup lebar, dan jika pabrikan lokal tidak segera berbenah dalam efisiensi biaya, mereka hanya akan menjadi penonton di jalanan mereka sendiri.
Angka ini bukan sekadar statistik; tapi lonceng kematian bagi hegemoni otomotif Eropa yang selama ini dianggap tak tersentuh.
Secara data, pangsa pasar merek China di sektor mobil berlistrik (electrified car) Eropa melonjak drastis menjadi 16% pada Desember 2025.
Jika ditarik dalam satu tahun kalender penuh, pangsa mereka mencapai 11% pada 2025, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Logika pasar berbicara dengan gamblang: China menang karena mereka memegang kendali atas teknologi baterai, jantung dari kendaraan masa depan.
Perang Harga dan Survivalitas Industri
Kritik tajam kini mengarah pada ketidakmampuan produsen Eropa untuk bersaing dalam efisiensi harga.
Sebagai contoh, di Inggris, BYD Seal U DM-i (plug-in hybrid) dibanderol mulai dari £33.340 atau sekitar Rp680,1 juta.
Bandingkan dengan rival terdekatnya, Volkswagen Tiguan eHybrid Match, yang dijual seharga £42.840 atau mencapai Rp873,9 juta.
Selisih hampir Rp193 juta ini menjadi alasan kuat mengapa konsumen kelas menengah di Spanyol, Yunani, Italia, hingga Inggris mulai meninggalkan loyalitas terhadap merek lokal.
"Perkembangan mobil China di Eropa sangat masif," tegas Roberto Vavassori, eksekutif Brembo NV yang memimpin asosiasi industri Anfia di Italia.
Ia memberikan peringatan keras bahwa tanpa langkah drastis, industri Eropa tidak akan mampu menggantikan lebih dari 110.000 pekerjaan yang hilang dalam 18 bulan terakhir. "Ini adalah masalah kelangsungan hidup bagi industri kami," tambahnya.
Dominasi yang Melampaui Rival Global
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, merek China berhasil melampaui rival berat asal Korea Selatan, termasuk Kia Corp, dalam basis penjualan kuartalan.Mereka juga telah menyalip pabrikan Amerika Serikat di wilayah tersebut sejak kuartal kedua 2025.
Penetrasi ini bahkan lebih dalam jika menghitung mobil yang diproduksi di China namun menggunakan lencana Barat seperti Tesla, BMW, atau Renault.
Berdasarkan basis itu, satu dari tujuh mobil berlistrik yang terjual di Eropa tahun lalu adalah produk "Made in China".
Namun, kebijakan Uni Eropa terlihat ambigu. Di satu sisi, mereka memberlakukan tarif impor, namun di sisi lain, Jerman berencana membuka subsidi EV senilai €3 miliar atau setara Rp51,3 triliun yang ironisnya juga bisa dinikmati produsen China.
Analis Pal Skirta dari Metzler menilai langkah ini justru memberikan suntikan energi tambahan bagi pabrikan China untuk menghantam Volkswagen di rumahnya sendiri.
Ambisi Tanpa Henti
BYD tidak menunjukkan tanda-tanda akan melambat. Pada 24 Januari lalu, mereka mengumumkan target peningkatan pengiriman ke pasar luar negeri hampir 25% tahun ini.Strategi mereka kini berevolusi dari sekadar ekspor menjadi produksi lokal. Alfredo Altavilla, penasihat khusus BYD di Eropa, menyatakan ambisinya: "Niat kami sangat jelas, kami ingin BYD menjadi produsen Eropa".
BYD mulai membangun pabrik lokal, sementara Chery tengah bersiap memproduksi mobil listrik di Barcelona bersama mitra lokal.
Keberhasilan China di Eropa menjadi sorotan dunia, termasuk mantan Presiden AS Donald Trump yang menggunakan fenomena ini sebagai alasan untuk mempertahankan tarif 100% di negaranya guna melindungi produsen seperti Ford.
Di Eropa, pintu tampaknya masih terbuka cukup lebar, dan jika pabrikan lokal tidak segera berbenah dalam efisiensi biaya, mereka hanya akan menjadi penonton di jalanan mereka sendiri.
(dan)
Lihat Juga :