Transmisi Manual Hilang dari Mobil Premium, Bos BMW Ungkap Penyebabnya
Senin, 23 Februari 2026 - 19:08 WIB
loading...
Bos BMW M, Frank van Meel. AUTOBLOG
A
A
A
BERLIN - Transmisi manual dulunya dianggap sebagai simbol kenikmatan berkendara, tetapi di segmen mobil premium modern, masa depannya tampak suram.
Menurut kepala divisi BMW M, Frank van Meel, penurunan ini bukan karena pengemudi tidak lagi tertarik pada tiga pedal, tetapi lebih merupakan kombinasi faktor teknis, biaya pengembangan, dan perubahan arah industri otomotif.
Salah satu masalah terbesar adalah kemampuan transmisi manual untuk menangani tenaga mesin modern.
Van Meel menjelaskan bahwa transmisi manual BMW saat ini hanya mampu menangani sekitar 405 lb-ft torsi sambil memenuhi standar pabrikan. Hal ini membuatnya kurang cocok untuk digunakan pada model performa tinggi seperti M2, M3, M4, dan bahkan M5, yang menghasilkan torsi jauh lebih tinggi.
Seiring dengan semakin bertenaganya mesin dan diperkenalkannya sistem elektrifikasi, para insinyur perlu memastikan bahwa sistem penggerak dapat menahan tekanan tambahan tersebut.
Dalam situasi ini, transmisi otomatis atau kopling ganda lebih mudah dioptimalkan dalam hal performa dan efisiensi bahan bakar.
Selain kendala teknis, faktor ekonomi juga memainkan peran besar. Pasar mobil manual di segmen premium dianggap kecil, menyebabkan pemasok komponen kurang tertarik untuk mengembangkan transmisi generasi baru.
BMW sebelumnya menggunakan transmisi manual dari produsen seperti Getrag dan ZF, tetapi permintaan yang rendah membuat biaya pengembangan sulit untuk diserap.
Meskipun ada contoh seperti Cadillac CT5-V Blackwing atau Corvette ZR1 yang membuktikan bahwa transmisi manual masih dapat menangani daya tinggi, keduanya menggunakan transmisi yang sudah ada yang dirancang untuk daya tahan, bukan pengembangan yang sepenuhnya baru.
Bagi merek premium Eropa, memproduksi transmisi manual baru khusus untuk model bertenaga tinggi membutuhkan investasi besar yang mungkin tidak sepadan dalam hal penjualan.
Tren peningkatan elektrifikasi di industri otomotif juga mempercepat penurunan transmisi manual.
Sistem hibrida dan EV menghasilkan torsi instan yang tinggi, sesuatu yang sulit dikelola oleh transmisi manual tradisional. Pada saat yang sama, pengguna mobil mewah kini lebih menekankan kenyamanan dan teknologi daripada pengalaman perpindahan gigi manual.
Van Meel mengatakan BMW masih senang dengan transmisi manual yang ada dan akan mempertahankannya selama beberapa tahun lagi, terutama pada model-model tertentu dalam lini M. Tetapi dalam jangka panjang, terutama dalam beberapa dekade mendatang, kemungkinan transmisi manual akan semakin jarang ditemukan.
Meskipun masa depan tampak menantang, transmisi manual tidak akan hilang sepenuhnya dalam waktu dekat. Transmisi manual berpotensi tetap menjadi pilihan khusus bagi para penggemar sejati yang menginginkan pengalaman berkendara yang lebih analog.
Namun kenyataannya, kombinasi biaya, teknologi baru, dan perubahan selera pasar membuat transmisi manual semakin sulit dipertahankan di dunia mobil premium modern.
Menurut kepala divisi BMW M, Frank van Meel, penurunan ini bukan karena pengemudi tidak lagi tertarik pada tiga pedal, tetapi lebih merupakan kombinasi faktor teknis, biaya pengembangan, dan perubahan arah industri otomotif.
Salah satu masalah terbesar adalah kemampuan transmisi manual untuk menangani tenaga mesin modern.
Van Meel menjelaskan bahwa transmisi manual BMW saat ini hanya mampu menangani sekitar 405 lb-ft torsi sambil memenuhi standar pabrikan. Hal ini membuatnya kurang cocok untuk digunakan pada model performa tinggi seperti M2, M3, M4, dan bahkan M5, yang menghasilkan torsi jauh lebih tinggi.
Seiring dengan semakin bertenaganya mesin dan diperkenalkannya sistem elektrifikasi, para insinyur perlu memastikan bahwa sistem penggerak dapat menahan tekanan tambahan tersebut.
Dalam situasi ini, transmisi otomatis atau kopling ganda lebih mudah dioptimalkan dalam hal performa dan efisiensi bahan bakar.
Selain kendala teknis, faktor ekonomi juga memainkan peran besar. Pasar mobil manual di segmen premium dianggap kecil, menyebabkan pemasok komponen kurang tertarik untuk mengembangkan transmisi generasi baru.
BMW sebelumnya menggunakan transmisi manual dari produsen seperti Getrag dan ZF, tetapi permintaan yang rendah membuat biaya pengembangan sulit untuk diserap.
Meskipun ada contoh seperti Cadillac CT5-V Blackwing atau Corvette ZR1 yang membuktikan bahwa transmisi manual masih dapat menangani daya tinggi, keduanya menggunakan transmisi yang sudah ada yang dirancang untuk daya tahan, bukan pengembangan yang sepenuhnya baru.
Bagi merek premium Eropa, memproduksi transmisi manual baru khusus untuk model bertenaga tinggi membutuhkan investasi besar yang mungkin tidak sepadan dalam hal penjualan.
Tren peningkatan elektrifikasi di industri otomotif juga mempercepat penurunan transmisi manual.
Sistem hibrida dan EV menghasilkan torsi instan yang tinggi, sesuatu yang sulit dikelola oleh transmisi manual tradisional. Pada saat yang sama, pengguna mobil mewah kini lebih menekankan kenyamanan dan teknologi daripada pengalaman perpindahan gigi manual.
Van Meel mengatakan BMW masih senang dengan transmisi manual yang ada dan akan mempertahankannya selama beberapa tahun lagi, terutama pada model-model tertentu dalam lini M. Tetapi dalam jangka panjang, terutama dalam beberapa dekade mendatang, kemungkinan transmisi manual akan semakin jarang ditemukan.
Meskipun masa depan tampak menantang, transmisi manual tidak akan hilang sepenuhnya dalam waktu dekat. Transmisi manual berpotensi tetap menjadi pilihan khusus bagi para penggemar sejati yang menginginkan pengalaman berkendara yang lebih analog.
Namun kenyataannya, kombinasi biaya, teknologi baru, dan perubahan selera pasar membuat transmisi manual semakin sulit dipertahankan di dunia mobil premium modern.
(wbs)
Lihat Juga :