Motor Rp10 Juta Dijual Rp43 Juta? Ini Fakta yang Tak Dibahas Warganet
Selasa, 14 April 2026 - 10:20 WIB
loading...
A
A
A
Barang yang sudah masuk ke Indonesia masih harus melalui proses logistik domestik, termasuk pengangkutan dari pelabuhan ke fasilitas perakitan, biaya administrasi, serta pengurusan dokumen.
“Di tahap berikutnya, komponen dirakit di dalam negeri. Di sinilah muncul biaya tenaga kerja, listrik, air, sewa atau depresiasi fasilitas, hingga pengujian kualitas dan sertifikasi. Semua ini menambah nilai biaya produksi,” bebernya.
Belum lagi biaya distribusi dan margin perusahaan penyedia. Dalam kasus ini, PT Yasa Artha Trimanunggal sebagai penyedia dalam e-katalog bukan produsen langsung, melainkan entitas bisnis yang memiliki biaya operasional, kewajiban pajak badan, serta margin keuntungan yang sah.
Jika seluruh komponen biaya tersebut dijumlahkan, maka harga akhir motor listrik yang awalnya Rp10 juta di pabrik dapat mencapai lebih dari Rp40 juta di Indonesia tanpa harus melibatkan praktik mark-up yang tidak wajar.
“Dalam ekonomi, fenomena ini dikenal sebagai cost of market—biaya nyata yang diperlukan untuk membawa produk dari pabrik ke konsumen akhir melalui jalur distribusi legal,” beber Hendrosutono.
Namun, kritik tidak berhenti di sana.
Masalah lain yang kerap diabaikan adalah asumsi bahwa produk yang terlihat serupa di Alibaba memiliki spesifikasi yang sama. Padahal, dalam industri manufaktur global, hal ini belum tentu benar.
”Banyak produsen di China beroperasi sebagai Original Equipment Manufacturer (OEM) atau Original Design Manufacturer (ODM), yang pada dasarnya menyediakan platform dasar yang bisa disesuaikan oleh pemesan,” ungkapnya.
Motor listrik dengan harga Rp8 juta di Alibaba bisa saja menggunakan baterai kelas rendah, motor berkekuatan 1.000 watt tanpa proteksi termal, serta rangka tanpa uji ketahanan.
“Di tahap berikutnya, komponen dirakit di dalam negeri. Di sinilah muncul biaya tenaga kerja, listrik, air, sewa atau depresiasi fasilitas, hingga pengujian kualitas dan sertifikasi. Semua ini menambah nilai biaya produksi,” bebernya.
Belum lagi biaya distribusi dan margin perusahaan penyedia. Dalam kasus ini, PT Yasa Artha Trimanunggal sebagai penyedia dalam e-katalog bukan produsen langsung, melainkan entitas bisnis yang memiliki biaya operasional, kewajiban pajak badan, serta margin keuntungan yang sah.
Jika seluruh komponen biaya tersebut dijumlahkan, maka harga akhir motor listrik yang awalnya Rp10 juta di pabrik dapat mencapai lebih dari Rp40 juta di Indonesia tanpa harus melibatkan praktik mark-up yang tidak wajar.
“Dalam ekonomi, fenomena ini dikenal sebagai cost of market—biaya nyata yang diperlukan untuk membawa produk dari pabrik ke konsumen akhir melalui jalur distribusi legal,” beber Hendrosutono.
Namun, kritik tidak berhenti di sana.
Masalah lain yang kerap diabaikan adalah asumsi bahwa produk yang terlihat serupa di Alibaba memiliki spesifikasi yang sama. Padahal, dalam industri manufaktur global, hal ini belum tentu benar.
”Banyak produsen di China beroperasi sebagai Original Equipment Manufacturer (OEM) atau Original Design Manufacturer (ODM), yang pada dasarnya menyediakan platform dasar yang bisa disesuaikan oleh pemesan,” ungkapnya.
Motor listrik dengan harga Rp8 juta di Alibaba bisa saja menggunakan baterai kelas rendah, motor berkekuatan 1.000 watt tanpa proteksi termal, serta rangka tanpa uji ketahanan.
Lihat Juga :