BMW Ogah Nurutin Tren EV? Pilih Hidrogen & Bensin, Berani Lawan Arus?
Sabtu, 17 Mei 2025 - 08:31 WIB
CEO BMW Oliver Zipse berani melawan arus terhadap tren mobil listrik. Foto: BMW
JAKARTA - Di tengah gegap gempita transisi menuju kendaraan listrik (EV), suara lantang justru terdengar dari markas besar BMW di Jerman.
CEO BMW, Oliver Zipse, menyatakan bahwa perusahaannya tidak mau sepenuhnya terjun dalam arus elektrifikasi. Menurutnya, konsumen enggan membeli EV secepat prediksi para analis, membenarkan strategi BMW untuk tidak meninggalkan mobil bermesin pembakaran internal.
Bahkan, sembari mempersiapkan peluncuran EV yang dibangun dari nol di atas platform khusus, Zipse merasa bahwa keraguan BMW terhadap adopsi EV yang terlalu terburu-buru kini terbukti. “Kami mengambil sikap jelas mengenai hal ini. Kini angin telah berbalik ke arah kami,” ujarnya.
Perusahaan riset pasar Gartner menamai fenomena ini sebagai “lembah kekecewaan”: tahap ketika teknologi baru yang penuh hype gagal memenuhi ekspektasi awal.
BMW sendiri termasuk salah satu pihak pertama yang memprediksi bahwa kendaraan listrik akan mengalami masa-masa sulit dalam perkembangannya. Bertahun-tahun lamanya, para eksekutif produsen mobil asal Jerman ini telah memperingatkan bahwa para pembeli mobil tidak akan beralih secepat yang diperkirakan.
Kini, BMW dengan tegas menyatakan kepada para pemegang sahamnya bahwa mereka akan tetap berkomitmen untuk menawarkan beragam pilihan sistem penggerak kepada pelanggan, termasuk mesin pembakaran internal, hybrid, dan bahkan mobil bertenaga sel bahan bakar hidrogen, yang akan rilis pada 2028.
CEO BMW, Oliver Zipse, menyatakan bahwa perusahaannya tidak mau sepenuhnya terjun dalam arus elektrifikasi. Menurutnya, konsumen enggan membeli EV secepat prediksi para analis, membenarkan strategi BMW untuk tidak meninggalkan mobil bermesin pembakaran internal.
Bahkan, sembari mempersiapkan peluncuran EV yang dibangun dari nol di atas platform khusus, Zipse merasa bahwa keraguan BMW terhadap adopsi EV yang terlalu terburu-buru kini terbukti. “Kami mengambil sikap jelas mengenai hal ini. Kini angin telah berbalik ke arah kami,” ujarnya.
Perusahaan riset pasar Gartner menamai fenomena ini sebagai “lembah kekecewaan”: tahap ketika teknologi baru yang penuh hype gagal memenuhi ekspektasi awal.
BMW sendiri termasuk salah satu pihak pertama yang memprediksi bahwa kendaraan listrik akan mengalami masa-masa sulit dalam perkembangannya. Bertahun-tahun lamanya, para eksekutif produsen mobil asal Jerman ini telah memperingatkan bahwa para pembeli mobil tidak akan beralih secepat yang diperkirakan.
Kini, BMW dengan tegas menyatakan kepada para pemegang sahamnya bahwa mereka akan tetap berkomitmen untuk menawarkan beragam pilihan sistem penggerak kepada pelanggan, termasuk mesin pembakaran internal, hybrid, dan bahkan mobil bertenaga sel bahan bakar hidrogen, yang akan rilis pada 2028.
Lihat Juga :