Menguji Klaim Hemat VinFast VF 3: Sewa Baterai Justru Lebih Untung?
Minggu, 09 November 2025 - 22:30 WIB
Bandingkan dengan VinFast VF 3. Dengan tarif listrik rumah tangga tertinggi (Rp 1.699/kWh) dan ditambah biaya sewa baterai setahun penuh, total biaya operasionalnya hanya berkisar Rp5,79 juta per tahun.
Artinya, ada potensi penghematan bersih sekitar Rp 6,11 juta per tahun, atau setara dengan menghemat Rp509.000 setiap bulan.
Data ini menunjukkan fakta menarik: penghematan dari tidak membeli bensin ternyata jauh lebih besar daripada biaya sewa baterai itu sendiri. Konsumen masih "untung" sekitar Rp 256 ribu per bulan setelah membayar biaya langganan baterai.
VinFast menjawab ini dengan program jaminan pembelian kembali (buyback guarantee). VinFast menawarkan harga 90 persen dari harga awal untuk kendaraan yang telah enam bulan digunakan dan 86 persen dari harga pembelian awal untuk kendaraan dengan masa pakai setahun.
Perusahaan menawarkan harga 78 persen dari harga pembelian awal untuk kendaraan dengan masa penggunaan dua tahun dan 70 persen dari harga beli awal untuk kendaraan dengan masa guna tiga tahun.
Ini adalah angka depresiasi (penurunan nilai) yang sangat kompetitif, bahkan jika dibandingkan dengan mobil bensin konvensional yang umumnya mengalami penurunan nilai 10-15 persen per tahun. Dengan skema ini, risiko finansial konsumen menjadi jauh lebih terukur dan aman.
Menurut data yang dibagikan oleh Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), VinFast sepanjang tahun 2025 telah berhasil menjual sebanyak 2.800 unit kendaraan dan masuk ke dalam urutan nomor enam penjualan terbanyak di segmen elektrik.
Di Indonesia, VinFast hadir dengan beragam pilihan kendaraan yang dapat menyesuaikan kebutuhan calon konsumennya seperti VinFast VF 3, VF 6, dan juga VF e34.
Kariyanto menyampaikan, VinFast tidak ingin sekadar menghadirkan produk, tetapi juga menciptakan ekosistem mobilitas listrik yang terintegrasi. “Kami melihat pasar Indonesia sangat besar. Dan kami sangat serius menciptakan ekosistem elektrifikasi, termasuk dengan pembangunan pabrik baru di Subang yang beroperasi akhir 2025,” ungkapnya kepadaSindoNews.
Artinya, ada potensi penghematan bersih sekitar Rp 6,11 juta per tahun, atau setara dengan menghemat Rp509.000 setiap bulan.
Data ini menunjukkan fakta menarik: penghematan dari tidak membeli bensin ternyata jauh lebih besar daripada biaya sewa baterai itu sendiri. Konsumen masih "untung" sekitar Rp 256 ribu per bulan setelah membayar biaya langganan baterai.
Menjawab Ketakutan Harga Jual Kembali
Selain operasional, ketakutan terbesar konsumen Indonesia adalah nilai jual kembali (resale value) EV yang kerap dianggap hancur.VinFast menjawab ini dengan program jaminan pembelian kembali (buyback guarantee). VinFast menawarkan harga 90 persen dari harga awal untuk kendaraan yang telah enam bulan digunakan dan 86 persen dari harga pembelian awal untuk kendaraan dengan masa pakai setahun.
Perusahaan menawarkan harga 78 persen dari harga pembelian awal untuk kendaraan dengan masa penggunaan dua tahun dan 70 persen dari harga beli awal untuk kendaraan dengan masa guna tiga tahun.
Ini adalah angka depresiasi (penurunan nilai) yang sangat kompetitif, bahkan jika dibandingkan dengan mobil bensin konvensional yang umumnya mengalami penurunan nilai 10-15 persen per tahun. Dengan skema ini, risiko finansial konsumen menjadi jauh lebih terukur dan aman.
Menurut data yang dibagikan oleh Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), VinFast sepanjang tahun 2025 telah berhasil menjual sebanyak 2.800 unit kendaraan dan masuk ke dalam urutan nomor enam penjualan terbanyak di segmen elektrik.
Di Indonesia, VinFast hadir dengan beragam pilihan kendaraan yang dapat menyesuaikan kebutuhan calon konsumennya seperti VinFast VF 3, VF 6, dan juga VF e34.
Kariyanto menyampaikan, VinFast tidak ingin sekadar menghadirkan produk, tetapi juga menciptakan ekosistem mobilitas listrik yang terintegrasi. “Kami melihat pasar Indonesia sangat besar. Dan kami sangat serius menciptakan ekosistem elektrifikasi, termasuk dengan pembangunan pabrik baru di Subang yang beroperasi akhir 2025,” ungkapnya kepadaSindoNews.
(dan)
Lihat Juga :