Polemik 105 Ribu Pikap India: Bos Agrinas Beberkan Alasan Pilih Tata dan Mahindra
Rabu, 25 Februari 2026 - 14:40 WIB
Agrinas juga menyindir hipokrisi jargon "produk lokal". Mereka mengingatkan publik bahwa selama ini pikap 4x4 merek Jepang yang mendominasi aspal Indonesia berstatus Completely Built Up (CBU) yang diimpor utuh dari Thailand, alias sama sekali tidak memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Joao mengklaim bahwa keputusan membeli langsung dari India secara borongan, dipadukan dengan penekanan biaya konstruksi fisik (dibangun dengan harga Rp 2,9 juta per meter persegi atau setengah dari indeks harga nasional), telah menyelamatkan uang negara lewat efisiensi anggaran hingga Rp 6,5 Triliun.
”Sudah ada 1.357 bangunan yang berdiri kokoh, sementara 30.500 unit lainnya dalam tahap penyelesaian. Target akhirnya adalah membangun 80.000 Koperasi Desa Merah Putih yang harus tuntas sebelum akhir tahun 2026,” beber Joao.
Menyikapi teguran keras dan permintaan penundaan impor yang dilayangkan oleh Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad, jajaran manajemen Agrinas mengambil sikap kooperatif namun tegas.
Joao menyatakan akan 100 persen loyal, taat, dan tegak lurus pada keputusan negara dan DPR sebagai representasi rakyat. Jika secara resmi diperintahkan untuk dibatalkan, proyek impor tersebut akan dihentikan.
Bahkan, Joao menyatakan kesiapannya untuk pasang badan dan bertanggung jawab penuh secara personal atas segala konsekuensi hukum, termasuk potensi denda atau penalti dari pihak pemasok (supplier) di India akibat pembatalan sepihak tersebut.
Sebagai langkah diplomasi, Agrinas tengah mengatur pertemuan dengan Dasco guna memaparkan data kontrak secara komprehensif agar penilaian legislatif tidak hanya didasari oleh informasi yang sepotong-sepotong.
Efisiensi Rp6,5 Triliun dan Teguran DPR
Megaproyek Koperasi Merah Putih ini bukan proyek sembarangan. Pendanaannya bersumber dari kucuran kredit Bank Mandiri dengan plafon luar biasa sebesar Rp100 Triliun, di mana sekitar Rp90 Triliun telah dialokasikan khusus untuk sarana prasarana dan pembangunan fisik gerai.Joao mengklaim bahwa keputusan membeli langsung dari India secara borongan, dipadukan dengan penekanan biaya konstruksi fisik (dibangun dengan harga Rp 2,9 juta per meter persegi atau setengah dari indeks harga nasional), telah menyelamatkan uang negara lewat efisiensi anggaran hingga Rp 6,5 Triliun.
”Sudah ada 1.357 bangunan yang berdiri kokoh, sementara 30.500 unit lainnya dalam tahap penyelesaian. Target akhirnya adalah membangun 80.000 Koperasi Desa Merah Putih yang harus tuntas sebelum akhir tahun 2026,” beber Joao.
Menyikapi teguran keras dan permintaan penundaan impor yang dilayangkan oleh Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad, jajaran manajemen Agrinas mengambil sikap kooperatif namun tegas.
Joao menyatakan akan 100 persen loyal, taat, dan tegak lurus pada keputusan negara dan DPR sebagai representasi rakyat. Jika secara resmi diperintahkan untuk dibatalkan, proyek impor tersebut akan dihentikan.
Bahkan, Joao menyatakan kesiapannya untuk pasang badan dan bertanggung jawab penuh secara personal atas segala konsekuensi hukum, termasuk potensi denda atau penalti dari pihak pemasok (supplier) di India akibat pembatalan sepihak tersebut.
Sebagai langkah diplomasi, Agrinas tengah mengatur pertemuan dengan Dasco guna memaparkan data kontrak secara komprehensif agar penilaian legislatif tidak hanya didasari oleh informasi yang sepotong-sepotong.
(dan)
Lihat Juga :