Penjualan Masih Lemas, Insentif Mobil Listrik Bakal Dievaluasi, Apa Dampaknya?
Selasa, 20 Mei 2025 - 18:47 WIB
loading...
A
A
A
Kebijakan ini terbukti efektif, mengangkat penjualan mobil menjadi 887 ribu unit pada 2021 dari 578 ribu unit pada tahun 2020. Pasar mobil bahkan pulih dan menembus 1 juta unit pada tahun 2022.
Namun, kejayaan itu tak bertahan lama. Pasar mobil kembali terperosok pada tahun 2024 menjadi 865 ribu unit, seiring melemahnya daya beli masyarakat, pengetatan kredit, dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
Hingga April 2025, penjualan mobil semakin terpuruk, turun 2,9% menjadi 256 ribu unit, dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 264 ribu unit. Jika angka ini disetahunkan, penjualan mobil 2025 diproyeksikan turun 11% menjadi hanya 769 ribu unit. Ini berarti, penjualan mobil telah turun selama dua tahun beruntun, sebuah indikasi kuat bahwa industri otomotif nasional sedang mengalamikrisis.
Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (IMATAP) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Mahardi Tunggul Wicaksono menegaskan, pemerintah terus mengakselerasi transformasi industri otomotif nasional menuju era elektrifikasi melalui kebijakan insentif fiskal dan non-fiskal. Kemenperin telah menerbitkan berbagai regulasi strategis untuk mendukung target net zero emission (NZE) nasional.
Salah satu instrumen kunci, kata dia, adalah penguatan regulasi yang mewajibkan pemenuhan local purchase dan/atau TKDN dalam proses produksi kendaraan bermotor.
“Melalui regulatory framework yang telah disusun, industri KBM yang memenuhi ketentuan local purchase dan TKDN dapat memperoleh insentif baik fiskal maupun non-fiskal. Ini menjadi langkah strategis dalam menciptakan industri otomotif yang mandiri dan berdaya saing,” ujar dia dalam diskusi “Menakar Efektivitas Insentif Otomotif,” yang digelar Forum Wartawan Industri (Forwin) di Jakarta, Senin (19/5/2025).
Namun, kejayaan itu tak bertahan lama. Pasar mobil kembali terperosok pada tahun 2024 menjadi 865 ribu unit, seiring melemahnya daya beli masyarakat, pengetatan kredit, dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
Hingga April 2025, penjualan mobil semakin terpuruk, turun 2,9% menjadi 256 ribu unit, dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 264 ribu unit. Jika angka ini disetahunkan, penjualan mobil 2025 diproyeksikan turun 11% menjadi hanya 769 ribu unit. Ini berarti, penjualan mobil telah turun selama dua tahun beruntun, sebuah indikasi kuat bahwa industri otomotif nasional sedang mengalamikrisis.
Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (IMATAP) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Mahardi Tunggul Wicaksono menegaskan, pemerintah terus mengakselerasi transformasi industri otomotif nasional menuju era elektrifikasi melalui kebijakan insentif fiskal dan non-fiskal. Kemenperin telah menerbitkan berbagai regulasi strategis untuk mendukung target net zero emission (NZE) nasional.
Salah satu instrumen kunci, kata dia, adalah penguatan regulasi yang mewajibkan pemenuhan local purchase dan/atau TKDN dalam proses produksi kendaraan bermotor.
“Melalui regulatory framework yang telah disusun, industri KBM yang memenuhi ketentuan local purchase dan TKDN dapat memperoleh insentif baik fiskal maupun non-fiskal. Ini menjadi langkah strategis dalam menciptakan industri otomotif yang mandiri dan berdaya saing,” ujar dia dalam diskusi “Menakar Efektivitas Insentif Otomotif,” yang digelar Forum Wartawan Industri (Forwin) di Jakarta, Senin (19/5/2025).
(dan)
Lihat Juga :