Identik dengan Mobil Orang Tua, Pemilik Rolls-Royce Kini Berusia Muda
Senin, 23 Juni 2025 - 09:10 WIB
loading...
Rolls-Royce Hadirkan Perangkat Cerdas. FOTO/ RED DOD
A
A
A
LONDON - Dahulu, jika ditanya berapa usia pemilik Rolls-Royce, kebanyakan orang akan mengira usianya 50 tahu ke atas. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, terjadi perubahan besar pemilik Rolls-Royce telah turun menjadi sekitar 42 tahun.
BACA JUGA - Project Maybach Buktikan Sedan Mewah Juga Bisa Dibawa Offroad
Namun, munculnya Spectre, model bertenaga listrik pertama dari Rolls-Royce, telah mengubah dinamika itu lebih dramatis.
Menurut Presiden baru Rolls-Royce Amerika Utara, Jon Colbeth, pembeli Spectre baru yang membeli model ini sebagai Rolls-Royce pertama mereka mencatat usia rata-rata serendah 35 tahun.
Yang lebih menarik adalah bahwa 40 persen pembeli Spectre adalah individu yang belum pernah memiliki kendaraan Rolls-Royce sebelumnya.
Meskipun angka ini tidak mencerminkan usia keseluruhan pembeli Spectre, ini menunjukkan bahwa model EV telah berhasil menarik demografi yang lebih muda dan lebih kaya yang mungkin sebelumnya tidak mempertimbangkan merek tersebut.
Pergeseran demografi ini bukanlah suatu kebetulan. Menurut Colbeth, teknologi merupakan daya tarik utama bagi generasi muda. Spectre hadir dengan teknologi baru, material modern, dan desain segar yang semuanya sejalan dengan konsumen muda saat ini.
Ini termasuk pilihan warna dan material yang jauh lebih berani daripada citra Rolls-Royce klasik yang dulu dikenal sebagai kendaraan kaum bangsawan.
Perkembangan ini sejalan dengan upaya banyak produsen mobil mewah lainnya, termasuk Bentley dan Mercedes-Benz, yang juga secara aktif berupaya menurunkan usia rata-rata pelanggan mereka.
Strateginya sederhana: jika pelanggan lama semakin menua tanpa digantikan oleh generasi baru, penjualan pada akhirnya akan menurun.
Colbeth sendiri, yang sebelumnya mengepalai departemen layanan pelanggan Rolls-Royce, kini membawa pendekatan yang lebih terbuka dan ramah terhadap merek tersebut.
Ia secara aktif terlibat dengan pemilik lama dan baru, baik mereka yang memiliki koleksi klasik bernilai jutaan ringgit atau hanya penggemar yang belum pernah memiliki Rolls-Royce.
Transformasi ini membuktikan bahwa Rolls-Royce tidak hanya beradaptasi dengan perubahan teknologi, tetapi juga membentuk kembali identitasnya agar tetap relevan dan menarik bagi generasi baru.
BACA JUGA - Project Maybach Buktikan Sedan Mewah Juga Bisa Dibawa Offroad
Namun, munculnya Spectre, model bertenaga listrik pertama dari Rolls-Royce, telah mengubah dinamika itu lebih dramatis.
Menurut Presiden baru Rolls-Royce Amerika Utara, Jon Colbeth, pembeli Spectre baru yang membeli model ini sebagai Rolls-Royce pertama mereka mencatat usia rata-rata serendah 35 tahun.
Yang lebih menarik adalah bahwa 40 persen pembeli Spectre adalah individu yang belum pernah memiliki kendaraan Rolls-Royce sebelumnya.
Meskipun angka ini tidak mencerminkan usia keseluruhan pembeli Spectre, ini menunjukkan bahwa model EV telah berhasil menarik demografi yang lebih muda dan lebih kaya yang mungkin sebelumnya tidak mempertimbangkan merek tersebut.
Pergeseran demografi ini bukanlah suatu kebetulan. Menurut Colbeth, teknologi merupakan daya tarik utama bagi generasi muda. Spectre hadir dengan teknologi baru, material modern, dan desain segar yang semuanya sejalan dengan konsumen muda saat ini.
Ini termasuk pilihan warna dan material yang jauh lebih berani daripada citra Rolls-Royce klasik yang dulu dikenal sebagai kendaraan kaum bangsawan.
Perkembangan ini sejalan dengan upaya banyak produsen mobil mewah lainnya, termasuk Bentley dan Mercedes-Benz, yang juga secara aktif berupaya menurunkan usia rata-rata pelanggan mereka.
Strateginya sederhana: jika pelanggan lama semakin menua tanpa digantikan oleh generasi baru, penjualan pada akhirnya akan menurun.
Colbeth sendiri, yang sebelumnya mengepalai departemen layanan pelanggan Rolls-Royce, kini membawa pendekatan yang lebih terbuka dan ramah terhadap merek tersebut.
Ia secara aktif terlibat dengan pemilik lama dan baru, baik mereka yang memiliki koleksi klasik bernilai jutaan ringgit atau hanya penggemar yang belum pernah memiliki Rolls-Royce.
Transformasi ini membuktikan bahwa Rolls-Royce tidak hanya beradaptasi dengan perubahan teknologi, tetapi juga membentuk kembali identitasnya agar tetap relevan dan menarik bagi generasi baru.
(wbs)
Lihat Juga :