Ketika Defender, Lexus, dan G-Class Dikawin Silang Jadi SUV China Seharga Fortuner
Selasa, 24 Juni 2025 - 10:17 WIB
loading...
Merek mewah di bawah payung BYD, Fang Cheng Bao, secara resmi mengungkap wujud SUV terbarunya, Tai 7. Foto: ist
A
A
A
SHENZEN - Di tengah arena industri otomotif yang semakin brutal, sebuah "monster" baru dari China kini lahir, namun kelahirannya diiringi dengan perdebatan sengit dan tudingan penjiplakan yang tak terelakkan. Merek mewah di bawah payung BYD, Fang Cheng Bao, secara resmi mengungkap wujud SUV terbarunya, Tai 7.
Ini bukanlah sekadar mobil baru. Ini adalah sebuah "monster gado-gado", sebuah anomali desain yang seolah mengambil bagian-bagian terbaik dari ikon-ikon SUV dunia—ketangguhan Land Rover Defender, kemewahan Lexus GX, dan kegagahan Mercedes-Benz G-Class—lalu menggabungkannya menjadi satu wujud dengan harga yang secara brutal merusak pasar.
Resep 'Contekan' yang Tak Disembunyikan
Menjadi seorang desainer mobil bukanlah pekerjaan yang mudah. Namun, para desainer di Fang Cheng Bao tampaknya memilih jalan pintas. Mereka tidak lagi malu-malu untuk "meminjam" inspirasi dari para legenda.
Wajah Depan: Secara terang-terangan, bagian depan Tai 7 adalah klon dari Land Rover Defender. Desainnya nyaris identik, meskipun lampu utamanya yang ikonik diganti dengan unit lampu terpisah yang lebih modern.
Siluet Samping: DNA Defender terus terasa hingga ke bagian samping, namun kini "dikawin silangkan" dengan elemen dari Lexus GX. Lengkungan sepatbor yang menyudut dan bodi yang menggembung adalah bukti nyata dari resep "gado-gado" ini.
Buritan Belakang: Di bagian belakang, nuansa Defender kembali muncul pada bempernya. Namun, yang paling mencolok adalah tempat ban serep berbentuk kotak yang seolah dirobek langsung dari buritan gagah Mercedes-Benz G-Class EV.
Meskipun desainnya mungkin tidak akan memenangkan penghargaan orisinalitas, Tai 7 menyimpan "jantung" yang sangat modern dan tak bisa diremehkan.
Kombinasi ini bertugas untuk menggerakkan bobot mobil seberat 2.230 kg hingga kecepatan puncak 190 km/jam. Ini adalah sebuah bukti bahwa meskipun "kulit"-nya meniru, "jeroan"-nya adalah teknologi masa depan yang serius.
Jika dikonversi, angka tersebut setara dengan di bawah USD42.000 atau sekitar Rp 690 jutaan.
Ini adalah sebuah "bom harga". Di saat para ikon yang ditirunya dijual dengan harga miliaran rupiah di pasar global, Fang Cheng Bao datang dengan penawaran yang nyaris mustahil untuk ditolak.
Namun di sisi lain, ini adalah sebuah paket komplit yang sangat menggoda. Sebuah SUV mewah, tangguh, dengan teknologi hybrid canggih, kini ditawarkan dengan harga yang jauh lebih "membumi".
Pada akhirnya, Fang Cheng Bao Tai 7 adalah sebuah cermin dari realitas baru di industri otomotif. Pertanyaannya kini bukan lagi soal siapa yang meniru siapa. Pertanyaannya adalah, apakah konsumen di seluruh dunia akan lebih memilih orisinalitas yang mahal, atau mereka akan lebih memilih teknologi canggih yang terjangkau, meskipun datang dalam wujud sebuah "klontaktahumalu"?
Ini bukanlah sekadar mobil baru. Ini adalah sebuah "monster gado-gado", sebuah anomali desain yang seolah mengambil bagian-bagian terbaik dari ikon-ikon SUV dunia—ketangguhan Land Rover Defender, kemewahan Lexus GX, dan kegagahan Mercedes-Benz G-Class—lalu menggabungkannya menjadi satu wujud dengan harga yang secara brutal merusak pasar.
Resep 'Contekan' yang Tak Disembunyikan
![Ketika Defender, Lexus, dan G-Class Dikawin Silang Jadi SUV China Seharga Fortuner]()
Menjadi seorang desainer mobil bukanlah pekerjaan yang mudah. Namun, para desainer di Fang Cheng Bao tampaknya memilih jalan pintas. Mereka tidak lagi malu-malu untuk "meminjam" inspirasi dari para legenda.
Wajah Depan: Secara terang-terangan, bagian depan Tai 7 adalah klon dari Land Rover Defender. Desainnya nyaris identik, meskipun lampu utamanya yang ikonik diganti dengan unit lampu terpisah yang lebih modern.
Siluet Samping: DNA Defender terus terasa hingga ke bagian samping, namun kini "dikawin silangkan" dengan elemen dari Lexus GX. Lengkungan sepatbor yang menyudut dan bodi yang menggembung adalah bukti nyata dari resep "gado-gado" ini.
Buritan Belakang: Di bagian belakang, nuansa Defender kembali muncul pada bempernya. Namun, yang paling mencolok adalah tempat ban serep berbentuk kotak yang seolah dirobek langsung dari buritan gagah Mercedes-Benz G-Class EV.
Meskipun desainnya mungkin tidak akan memenangkan penghargaan orisinalitas, Tai 7 menyimpan "jantung" yang sangat modern dan tak bisa diremehkan.
Jantung Hybrid, Bukan Sekadar Tampilan
Di balik wajahnya yang penuh kontroversi, bersemayam sebuah teknologi plug-in hybrid yang canggih. Jantungnya adalah kombinasi antara mesin bensin 1.5 liter bertenaga 156 PS dengan sebuah motor listrik bertenaga 272 PS.Kombinasi ini bertugas untuk menggerakkan bobot mobil seberat 2.230 kg hingga kecepatan puncak 190 km/jam. Ini adalah sebuah bukti bahwa meskipun "kulit"-nya meniru, "jeroan"-nya adalah teknologi masa depan yang serius.
'Bom Harga' yang Siap Meledak
Inilah bagian paling dramatis yang membuat seluruh industri menahan napas. SUV bongsor dengan tampang gabungan Defender dan G-Class serta teknologi hybrid canggih ini diperkirakan akan dijual dengan harga mulai dari 300.000 yuan.Jika dikonversi, angka tersebut setara dengan di bawah USD42.000 atau sekitar Rp 690 jutaan.
Ini adalah sebuah "bom harga". Di saat para ikon yang ditirunya dijual dengan harga miliaran rupiah di pasar global, Fang Cheng Bao datang dengan penawaran yang nyaris mustahil untuk ditolak.
Sebuah Dilema bagi Dunia Otomotif
Kehadiran Tai 7 adalah sebuah dilema besar bagi konsumen dan industri. Di satu sisi, ini adalah sebuah produk dengan krisis identitas, sebuah mahakarya penjiplakan yang mengorbankan orisinalitas di atas segalanya.Namun di sisi lain, ini adalah sebuah paket komplit yang sangat menggoda. Sebuah SUV mewah, tangguh, dengan teknologi hybrid canggih, kini ditawarkan dengan harga yang jauh lebih "membumi".
Pada akhirnya, Fang Cheng Bao Tai 7 adalah sebuah cermin dari realitas baru di industri otomotif. Pertanyaannya kini bukan lagi soal siapa yang meniru siapa. Pertanyaannya adalah, apakah konsumen di seluruh dunia akan lebih memilih orisinalitas yang mahal, atau mereka akan lebih memilih teknologi canggih yang terjangkau, meskipun datang dalam wujud sebuah "klontaktahumalu"?
(dan)
Lihat Juga :