Kisah Rp160 Triliun Apple yang Lenyap & Resep Sukses Xiaomi Kuasai Pasar Mobil Listrik
Jum'at, 11 Juli 2025 - 10:27 WIB
loading...
A
A
A
Secara terbuka, Xiaomi mengaku telah mengunjungi berbagai produsen mobil China dan berbicara dengan lebih dari 200 pakar industri. Namun, di balik narasi diplomatis itu, ada sebuah strategi yang lebih agresif.
Senjata Rahasia: 'Membajak' Otak Terbaik
Kenyataannya adalah Lei Jun menggunakan reputasi raksasa Xiaomi untuk "membajak" talenta-talenta terbaik dari para pemain lama. Sebuah cerita yang populer di internal Geely menyebutkan bagaimana Lei Jun menambahkan kontak WeChat banyak staf di lembaga riset mereka, termasuk sang direktur, Hu Zhengnan, yang kemudian bergabung dengan firma investasi milik Lei Jun.
"Para pemburu bakat Xiaomi sangat agresif mendekati staf Geely," ungkap seorang sumber internal. "Meskipun perpindahan talenta itu biasa, level agresivitas ini tidak biasa."
Xiaomi berhasil mengumpulkan "tim impian" dari berbagai raksasa otomotif seperti BMW, General Motors, hingga pemasok komponen Magna Steyr. Mereka tidak mencoba menciptakan dari nol; mereka membeli keahlian yang sudah ada.
Pelajaran ini ia bawa ke bisnis mobil. Alih-alih bergantung pada pihak lain, Xiaomi menginvestasikan lebih dari USD1,6 miliar (sekitar Rp 25,6 triliun) untuk membangun rantai pasoknya sendiri, mulai dari baterai, chip, hingga suspensi.
Mereka juga membangun pabrik sendiri, sebuah langkah yang tidak diambil oleh para pesaing seperti Nio dan Xpeng di awal.
"Di antara perusahaan teknologi yang kini membuat mobil listrik, mereka yang sebelumnya memiliki produk perangkat keras tampaknya lebih sukses daripada mereka yang hanya memiliki perangkat lunak," ujar Paul Gong, kepala riset otomotif China di UBS Group AG.
Senjata Rahasia: 'Membajak' Otak Terbaik
![Kisah Rp160 Triliun Apple yang Lenyap & Resep Sukses Xiaomi Kuasai Pasar Mobil Listrik]()
Kenyataannya adalah Lei Jun menggunakan reputasi raksasa Xiaomi untuk "membajak" talenta-talenta terbaik dari para pemain lama. Sebuah cerita yang populer di internal Geely menyebutkan bagaimana Lei Jun menambahkan kontak WeChat banyak staf di lembaga riset mereka, termasuk sang direktur, Hu Zhengnan, yang kemudian bergabung dengan firma investasi milik Lei Jun.
"Para pemburu bakat Xiaomi sangat agresif mendekati staf Geely," ungkap seorang sumber internal. "Meskipun perpindahan talenta itu biasa, level agresivitas ini tidak biasa."
Xiaomi berhasil mengumpulkan "tim impian" dari berbagai raksasa otomotif seperti BMW, General Motors, hingga pemasok komponen Magna Steyr. Mereka tidak mencoba menciptakan dari nol; mereka membeli keahlian yang sudah ada.
Pelajaran Pahit dari Samsung dan Cengkeraman Rantai Pasok
Lei Jun tidak pernah melupakan pelajaran pahit di masa lalu. Pada 2016, Samsung, pemasok layar utama mereka, sempat mengancam akan menghentikan pasokan. Lei Jun harus terbang ke Korea Selatan, meminta maaf, dan bernegosiasi habis-habisan untuk menyelamatkan produksi ponselnya.Pelajaran ini ia bawa ke bisnis mobil. Alih-alih bergantung pada pihak lain, Xiaomi menginvestasikan lebih dari USD1,6 miliar (sekitar Rp 25,6 triliun) untuk membangun rantai pasoknya sendiri, mulai dari baterai, chip, hingga suspensi.
Mereka juga membangun pabrik sendiri, sebuah langkah yang tidak diambil oleh para pesaing seperti Nio dan Xpeng di awal.
"Di antara perusahaan teknologi yang kini membuat mobil listrik, mereka yang sebelumnya memiliki produk perangkat keras tampaknya lebih sukses daripada mereka yang hanya memiliki perangkat lunak," ujar Paul Gong, kepala riset otomotif China di UBS Group AG.
Kritik Pedas dan Sisi Gelap di Balik Kesuksesan
Namun, jalan Xiaomi tidak sepenuhnya mulus. Kritik pedas terus menghujani mereka. Sedan SU7 mereka secara sinis dijuluki "Porsche Mi" karena desainnya yang dianggap meniru Porsche secara terang-terangan. "Tidak tahu malu," adalah deskripsi yang dilaporkan pernah dilontarkan oleh seorang wakil presiden dari SAIC, salah satu raksasa otomotif China.Lihat Juga :