Penjualan BYD di Inggris Meledak 880% Walau Tanpa Subsidi Pemerintah
Rabu, 08 Oktober 2025 - 09:06 WIB
loading...
Penjualan BYD di Inggris meroket tajam walau tanpa subsidi dari pemerintah. Foto: BYD
A
A
A
INGGRIS - Di tengah lanskap otomotif Eropa yang kompetitif, raksasa mobil listrik asal China, BYD, mengguncang pasar Inggris. Perusahaan mengumumkan pada hari Senin (6/10/2025) bahwa penjualan mereka di Inggris meledak, dengan pertumbuhan mencapai 880% dari tahun ke tahun.
Angka ini bukan sekadar statistik. Pada September saja, BYD berhasil menjual 11.271 unit mobil di Inggris, mendorong total penjualan tahunan mereka menjadi lebih dari 35.000 unit.
Prestasi ini secara resmi menobatkan Inggris sebagai pasar internasional terbesar bagi BYD di luar China, dengan pangsa pasar kini mencapai 2,2%.
Lalu, apa senjata rahasia di balik penaklukan ini? Jawabannya sederhana: harga. BYD menawarkan model andalannya, BYD Dolphin, dengan harga mulai dari £26.000 (Rp506.000.000). Angka ini menjadi pukulan telak bagi kompetitor seperti Tesla, yang menjual Model 3 mereka dengan harga sekitar £40.000 (Rp780.000.000). Perbedaan harga yang signifikan ini terbukti menjadi magnet kuat bagi konsumen Inggris.
Model lain seperti hybrid Seal U DM-i dan listrik murni Sealion 7 juga dilaporkan mendominasi penjualan, menunjukkan bahwa daya tarik BYD tidak hanya terbatas pada satu model murah.
Namun, ada plot twist yang membuat kisah sukses ini semakin dramatis. Kemenangan BYD diraih dengan perjuangan berat, karena mereka berhasil melakukannya tanpa bantuan sepeser pun dari subsidi pemerintah Inggris.
Sejak diperkenalkan kembali pada bulan Juli, program insentif mobil listrik di negara itu secara terang-terangan mengecualikan merek-merek asal China. Fakta ini menjadi kritik tajam bagi kebijakan proteksionisme lokal; bahwa produk yang kompetitif akan tetap menemukan jalannya, bahkan ketika dijegal secara sistemik.
Meskipun berpesta di Inggris—di mana total penjualan mobil listrik baterai naik 29,1% menjadi 72.779 unit menurut data SMMT—gambaran besar bagi BYD tidak sepenuhnya cerah. Di panggung global, awan kelabu mulai berkumpul.
Pekan lalu, perusahaan mencatat penurunan pengiriman tahunan pertamanya di tahun 2025, dengan angka merosot hampir 6%. Menurut dua orang sumber internal, BYD bahkan telah memangkas target penjualan tahunan mereka secara signifikan, turun sebesar 16% menjadi 4,6 juta kendaraan. Kegelisahan pasar ini tercermin pada harga saham BYD yang turun 1,3% di bursa Hong Kong pada hari Senin.
Kisah BYD saat ini adalah sebuah narasi tentang dua takdir yang kontradiktif. Di satu sisi, mereka adalah penakluk yang tak terbendung di Eropa, dengan penjualan meroket lebih dari 200% per Agustus (menurut data ACEA), sementara penjualan Tesla di benua yang sama justru anjlok lebih dari 36%. Di sisi lain, mereka adalah raksasa yang mulai merasakan tekanan dipasarglobal.
Angka ini bukan sekadar statistik. Pada September saja, BYD berhasil menjual 11.271 unit mobil di Inggris, mendorong total penjualan tahunan mereka menjadi lebih dari 35.000 unit.
Prestasi ini secara resmi menobatkan Inggris sebagai pasar internasional terbesar bagi BYD di luar China, dengan pangsa pasar kini mencapai 2,2%.
Lalu, apa senjata rahasia di balik penaklukan ini? Jawabannya sederhana: harga. BYD menawarkan model andalannya, BYD Dolphin, dengan harga mulai dari £26.000 (Rp506.000.000). Angka ini menjadi pukulan telak bagi kompetitor seperti Tesla, yang menjual Model 3 mereka dengan harga sekitar £40.000 (Rp780.000.000). Perbedaan harga yang signifikan ini terbukti menjadi magnet kuat bagi konsumen Inggris.
Model lain seperti hybrid Seal U DM-i dan listrik murni Sealion 7 juga dilaporkan mendominasi penjualan, menunjukkan bahwa daya tarik BYD tidak hanya terbatas pada satu model murah.
Namun, ada plot twist yang membuat kisah sukses ini semakin dramatis. Kemenangan BYD diraih dengan perjuangan berat, karena mereka berhasil melakukannya tanpa bantuan sepeser pun dari subsidi pemerintah Inggris.
Sejak diperkenalkan kembali pada bulan Juli, program insentif mobil listrik di negara itu secara terang-terangan mengecualikan merek-merek asal China. Fakta ini menjadi kritik tajam bagi kebijakan proteksionisme lokal; bahwa produk yang kompetitif akan tetap menemukan jalannya, bahkan ketika dijegal secara sistemik.
Meskipun berpesta di Inggris—di mana total penjualan mobil listrik baterai naik 29,1% menjadi 72.779 unit menurut data SMMT—gambaran besar bagi BYD tidak sepenuhnya cerah. Di panggung global, awan kelabu mulai berkumpul.
Pekan lalu, perusahaan mencatat penurunan pengiriman tahunan pertamanya di tahun 2025, dengan angka merosot hampir 6%. Menurut dua orang sumber internal, BYD bahkan telah memangkas target penjualan tahunan mereka secara signifikan, turun sebesar 16% menjadi 4,6 juta kendaraan. Kegelisahan pasar ini tercermin pada harga saham BYD yang turun 1,3% di bursa Hong Kong pada hari Senin.
Kisah BYD saat ini adalah sebuah narasi tentang dua takdir yang kontradiktif. Di satu sisi, mereka adalah penakluk yang tak terbendung di Eropa, dengan penjualan meroket lebih dari 200% per Agustus (menurut data ACEA), sementara penjualan Tesla di benua yang sama justru anjlok lebih dari 36%. Di sisi lain, mereka adalah raksasa yang mulai merasakan tekanan dipasarglobal.
(dan)
Lihat Juga :