Alasan Mobil Bekas Dua Kali Lebih Laris dari Mobil Baru di 2025
Rabu, 22 Oktober 2025 - 19:40 WIB
loading...
Penjualan mobil bekas lebih dari dua kali lipat penjualan mobil baru yang lesu akibat tekanan ekonomi. Foto: Hyundai Indonesia
A
A
A
JAKARTA - Pasar otomotif Indonesia menunjukkan anomali di sepanjang tahun 2025, di mana segmen mobil bekas (mobkas) mencatatkan dominasi absolut di tengah kelesuan pasar mobil baru.
Data industri mengonfirmasi bahwa tekanan daya beli akibat inflasi dan suku bunga tinggi telah mendorong pergeseran struktural pada preferensi konsumen, menjadikan harga sebagai variabel utama dalam pengambilan keputusan.
Pergeseran sentimen ini divalidasi lebih lanjut oleh data pembiayaan. Menurut Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), hingga Mei 2025, pembiayaan mobil bekas berhasil mencatatkan pertumbuhan solid 10% secara tahunan (YoY), mencapai nilai Rp117,55 triliun. Di sisi lain, pembiayaan untuk mobil baru justru mengalami kontraksi sebesar 0,24% YoY menjadi Rp234,18 triliun.
Secara keseluruhan, industri otomotif masih berada dalam fase lesu. Penjualan total pada semester pertama 2025 tercatat hanya 374.741 unit, sebuah koreksi tajam sebesar 8,60% atau kehilangan 35.279 unit dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yang mencapai 410.020 unit.
Data dari Ken Research dan Deloitte Analysis sempat memproyeksikan pasar mobil bekas Indonesia akan mencapai 3 juta unit pada 2025. Sebaliknya, pasar mobil baru di tahun ini diprediksi hanya 750.000-800.000 unit.
Wahyu Seto, General Manager Hyundai Solusi Mobilitas mengatakan, ini yang membuat Hyundai meluncurkan layanan Hyundai Promise. Yakni, program memberikan banyak keuntungan dan bahkan worry free bagi konsumen yang tertarik membeli mobil bekas.
“Meskipun berstatus pre-owned, kualitas mobil bekas yang kami tawarkan ini tetap terjaga prima. Misalnya Hyundai Ioniq 5 dipastikan memiliki State of Health (SoH) baterai 95-100%, sehingga konsumen dapat merasa aman sekaligus yakin terhadap performa kendaraan listrik yang dimilikinya dan garansi yang masih berlaku ditangan kedua. Kami tetap memberikan ketenangan dan rasa percaya diri layaknya membeli mobil baru,” ungkapnya.
Meski menjadi penyelamat di tengah kelesuan, segmen pembiayaan mobil bekas memiliki profil risiko berbeda.
Suku Bunga Lebih Tinggi: Konsumen dihadapkan pada suku bunga kredit yang lebih tinggi, berkisar antara 6% hingga 8% per tahun, sebagai kompensasi atas risiko yang lebih besar bagi lembaga pembiayaan.
Batasan Usia Kendaraan: Terdapat batasan usia maksimal kendaraan yang dapat dibiayai, umumnya 8-10 tahun pada akhir tenor. Untuk pengajuan kredit di tahun 2025, unit yang paling umum diterima adalah produksi tahun 2015 hingga 2017 ke atas.
Selektivitas Penjamin: Lembaga pembiayaan seperti Astra Financial dan Adira Finance menerapkan strategi portofolio yang selektif untuk menyeimbangkan antara potensi pertumbuhan dan mitigasi risiko kredit macet.
Meskipun demikian, proposisi nilai mobil bekas tetap unggul bagi sebagian besar konsumen saat ini: harga akuisisi yang lebih rendah, cicilan yang lebih ringan, dan tingkat depresiasi nilai yang lebih stabil.
Fenomena tahun 2025 menegaskan bahwa pasar mobil bekas bukan lagi sekadar alternatif, melainkan telah menjadi pilar utama industri otomotif nasional di tengah tantanganmakroekonomi.
Data industri mengonfirmasi bahwa tekanan daya beli akibat inflasi dan suku bunga tinggi telah mendorong pergeseran struktural pada preferensi konsumen, menjadikan harga sebagai variabel utama dalam pengambilan keputusan.
Pergeseran sentimen ini divalidasi lebih lanjut oleh data pembiayaan. Menurut Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), hingga Mei 2025, pembiayaan mobil bekas berhasil mencatatkan pertumbuhan solid 10% secara tahunan (YoY), mencapai nilai Rp117,55 triliun. Di sisi lain, pembiayaan untuk mobil baru justru mengalami kontraksi sebesar 0,24% YoY menjadi Rp234,18 triliun.
Secara keseluruhan, industri otomotif masih berada dalam fase lesu. Penjualan total pada semester pertama 2025 tercatat hanya 374.741 unit, sebuah koreksi tajam sebesar 8,60% atau kehilangan 35.279 unit dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yang mencapai 410.020 unit.
Data dari Ken Research dan Deloitte Analysis sempat memproyeksikan pasar mobil bekas Indonesia akan mencapai 3 juta unit pada 2025. Sebaliknya, pasar mobil baru di tahun ini diprediksi hanya 750.000-800.000 unit.
Wahyu Seto, General Manager Hyundai Solusi Mobilitas mengatakan, ini yang membuat Hyundai meluncurkan layanan Hyundai Promise. Yakni, program memberikan banyak keuntungan dan bahkan worry free bagi konsumen yang tertarik membeli mobil bekas.
“Meskipun berstatus pre-owned, kualitas mobil bekas yang kami tawarkan ini tetap terjaga prima. Misalnya Hyundai Ioniq 5 dipastikan memiliki State of Health (SoH) baterai 95-100%, sehingga konsumen dapat merasa aman sekaligus yakin terhadap performa kendaraan listrik yang dimilikinya dan garansi yang masih berlaku ditangan kedua. Kami tetap memberikan ketenangan dan rasa percaya diri layaknya membeli mobil baru,” ungkapnya.
Meski menjadi penyelamat di tengah kelesuan, segmen pembiayaan mobil bekas memiliki profil risiko berbeda.
Suku Bunga Lebih Tinggi: Konsumen dihadapkan pada suku bunga kredit yang lebih tinggi, berkisar antara 6% hingga 8% per tahun, sebagai kompensasi atas risiko yang lebih besar bagi lembaga pembiayaan.
Batasan Usia Kendaraan: Terdapat batasan usia maksimal kendaraan yang dapat dibiayai, umumnya 8-10 tahun pada akhir tenor. Untuk pengajuan kredit di tahun 2025, unit yang paling umum diterima adalah produksi tahun 2015 hingga 2017 ke atas.
Selektivitas Penjamin: Lembaga pembiayaan seperti Astra Financial dan Adira Finance menerapkan strategi portofolio yang selektif untuk menyeimbangkan antara potensi pertumbuhan dan mitigasi risiko kredit macet.
Meskipun demikian, proposisi nilai mobil bekas tetap unggul bagi sebagian besar konsumen saat ini: harga akuisisi yang lebih rendah, cicilan yang lebih ringan, dan tingkat depresiasi nilai yang lebih stabil.
Fenomena tahun 2025 menegaskan bahwa pasar mobil bekas bukan lagi sekadar alternatif, melainkan telah menjadi pilar utama industri otomotif nasional di tengah tantanganmakroekonomi.
(dan)
Lihat Juga :