Oracle Rilis Lampu LED Mobil Tanpa Lensa, Harga Mulai Rp12,8 Juta
Senin, 17 November 2025 - 17:29 WIB
loading...
Sebuah revolusi desain lampu depan hadir dari Oracle Lighting, menghilangkan lensa penutup untuk selamanya, dan Toyota menjadi pabrikan pertama yang mengadopsinya. Foto: Oracle
A
A
A
AMERIKA - Mata adalah jendela jiwa, begitu pula lampu depan bagi sebuah kendaraan. Namun, selama puluhan tahun, "mata" otomotif ini selalu didera penyakit kronis yang sama: lensa yang menua. Kabut, kusam, menguning, atau retak adalah takdir yang nyaris tak terhindarkan bagi penutup lampu depan modern.
Akan tetapi, sebuah babak baru kini terbuka di horizon. Oracle Lighting, perusahaan inovasi otomotif, memperkenalkan teknologi yang berpotensi mengubah permainan: lampu depan LED tanpa lensa (lensless).
Seperti namanya, inovasi ini secara radikal meniadakan elemen lensa penutup—cangkang plastik bening—yang telah menjadi standar industri selama ini.
Lantas, apa penggantinya? Oracle menggunakan serangkaian "pod" emitter Bi-LED modular yang dirancang mandiri. Setiap pod ini telah dibekali fitur manajemen suhu internal dan sertifikasi ketahanan standar militer IP68 (sepenuhnya tahan debu dan rendaman air).
Ini adalah pergeseran paradigma dari penggantian utuh ke perbaikan modular. Masalah abadi lampu "berkabut" atau "menguning" akibat oksidasi dan paparan cuaca kini tereliminasi seluruhnya.
Lebih penting lagi, ia mengubah cara kita memperbaiki lampu. Era di mana pemilik kendaraan harus merogoh kocek dalam untuk mengganti seluruh unit lampu (batok) yang mahal ketika satu LED-nya mati, mungkin akan segera berakhir.
Oracle menjelaskan, jika satu pod rusak, pemilik "cukup mencabut pod yang rusak, dan memasukkan yang baru."
Meski masih terbatas, Oracle telah mengonfirmasi rencana ekspansi untuk model lain. Kendaraan yang masuk dalam daftar berikutnya adalah Toyota 4Runner dan pikap terlaris Amerika, Ford F-150.
Produk pertama ini dijadwalkan akan mulai dikirimkan ke pelanggan pada awal tahun 2026. Bagi mereka yang ingin mengadopsi teknologi ini, harganya dipatok di kisaran USD800 hingga USD900 per set (sekitar Rp 12,8 juta hingga Rp 14,4 juta).
Jika terobosan ini terbukti sukses dan diadopsi secara luas, ia bisa menjadi standar baru. Era di mana mengganti lampu semudah mengganti bohlam di rumah mungkin segera tiba, sekaligus mengakhiri selamanya masalah klasik lensa kusam yang telah menghantuiindustri.
Akan tetapi, sebuah babak baru kini terbuka di horizon. Oracle Lighting, perusahaan inovasi otomotif, memperkenalkan teknologi yang berpotensi mengubah permainan: lampu depan LED tanpa lensa (lensless).
Seperti namanya, inovasi ini secara radikal meniadakan elemen lensa penutup—cangkang plastik bening—yang telah menjadi standar industri selama ini.
Lantas, apa penggantinya? Oracle menggunakan serangkaian "pod" emitter Bi-LED modular yang dirancang mandiri. Setiap pod ini telah dibekali fitur manajemen suhu internal dan sertifikasi ketahanan standar militer IP68 (sepenuhnya tahan debu dan rendaman air).
Ini adalah pergeseran paradigma dari penggantian utuh ke perbaikan modular. Masalah abadi lampu "berkabut" atau "menguning" akibat oksidasi dan paparan cuaca kini tereliminasi seluruhnya.
Lebih penting lagi, ia mengubah cara kita memperbaiki lampu. Era di mana pemilik kendaraan harus merogoh kocek dalam untuk mengganti seluruh unit lampu (batok) yang mahal ketika satu LED-nya mati, mungkin akan segera berakhir.
Oracle menjelaskan, jika satu pod rusak, pemilik "cukup mencabut pod yang rusak, dan memasukkan yang baru."
Toyota Membuka Mata
Toyota menjadi pabrikan pertama yang "membuka mata" terhadap teknologi revolusioner ini. Saat ini, lampu Oracle tersebut baru ditawarkan secara aftermarket untuk model pikap Toyota Tacoma generasi ketiga (tahun 2016 hingga 2023).Meski masih terbatas, Oracle telah mengonfirmasi rencana ekspansi untuk model lain. Kendaraan yang masuk dalam daftar berikutnya adalah Toyota 4Runner dan pikap terlaris Amerika, Ford F-150.
Produk pertama ini dijadwalkan akan mulai dikirimkan ke pelanggan pada awal tahun 2026. Bagi mereka yang ingin mengadopsi teknologi ini, harganya dipatok di kisaran USD800 hingga USD900 per set (sekitar Rp 12,8 juta hingga Rp 14,4 juta).
Jika terobosan ini terbukti sukses dan diadopsi secara luas, ia bisa menjadi standar baru. Era di mana mengganti lampu semudah mengganti bohlam di rumah mungkin segera tiba, sekaligus mengakhiri selamanya masalah klasik lensa kusam yang telah menghantuiindustri.
(dan)
Lihat Juga :