Babak Baru Perang EV: GAC Susul BYD Gempur Pasar Jepang, Tawarkan Aion UT dan V yang Ramah Kantong
Sabtu, 13 Desember 2025 - 13:04 WIB
loading...
Setelah BYD dan Geely, kini giliran raksasa otomotif China GAC yang bersiap menggempur pasar Jepang dengan mobil listrik murah mulai musim panas 2026. Foto: ist
A
A
A
JEPANG - Musim panas 2026 di Jepang tidak hanya akan membawa hawa hangat matahari. Tapi, juga panasnya persaingan baru di aspal Negeri Sakura ketika raksasa otomotif China, Guangzhou Automobile Group (GAC), resmi mengumumkan invansinya ke pasar yang selama ini dikuasai Toyota dan Honda.
Langkah berani ini menandai babak baru ekspansi produsen mobil China yang semakin agresif mencari "lahan basah" di luar negeri, setelah pasar domestik mereka mengalami kejenuhan akibat perang harga.
GAC tidak sendirian; mereka mengikuti jejak BYD dan Geely yang lebih dulu menancapkan kuku di tanah Jepang, mencoba meruntuhkan benteng pertahanan pasar otomotif paling konservatif di Asia.
Pada tahap awal, target mereka tergolong moderat namun realistis: mengamankan 200 pesanan kendaraan pada 2026, dengan ambisi melipatgandakannya menjadi 2.000 unit pada tahun 2027.
Fokus penjualan awal akan diarahkan pada klien korporat atau bisnis yang membutuhkan armada operasional, celah pasar yang dinilai potensial di tengah lambatnya adopsi EV oleh konsumen ritel Jepang.
Kedua adalah Aion V, sebuah SUV gagah yang ditawarkan mulai 5 juta yen atau sekitar Rp515 juta (setara 22.700 USD).
Harga ini tergolong sangat kompetitif di pasar Jepang. Untuk memastikan kenyamanan pengguna, kedua model ini telah disesuaikan agar mendukung standar pengisian cepat CHAdeMO yang berlaku umum di Jepang.
Data penjualan periode Januari hingga September 2025 menunjukkan penurunan total penjualan sebesar 11 persen menjadi 1,18 juta unit.
Bahkan, penjualan merek Aion sendiri merosot tajam hingga 20 persen menjadi 180.000 unit.
Kondisi "berdarah-darah" di pasar domestik China memaksa GAC—yang ironisnya merupakan mitra usaha patungan (joint venture) Toyota dan Honda di China sejak 1997—untuk mencari pasar baru.
Setelah sukses merambah Thailand dan mengumumkan rencana masuk ke Inggris pada 2025, Jepang kini menjadi target strategis berikutnya.
Meski demikian, pesaing senegaranya, BYD, telah menunjukkan bahwa celah itu ada.
Penjualan BYD di Jepang melonjak 64 persen year-on-year dengan 3.508 unit terjual pada periode Januari-November 2025.
BYD bahkan berencana meluncurkan model "Racco" pada 2026 dengan fitur pintu geser yang sangat digemari konsumen Jepang.
Pabrikan lokal pun tak tinggal diam. Toyota telah memperbarui bZ4X, Nissan sedang menyiapkan Leaf generasi terbaru, dan Suzuki bersiap meluncurkan EV pertamanya, e-Vitara.
Kehadiran GAC Aion dipastikan akan membuat persaingan di segmen mobil listrik Jepang semakin sengit dan menarik untuk disimak.
Langkah berani ini menandai babak baru ekspansi produsen mobil China yang semakin agresif mencari "lahan basah" di luar negeri, setelah pasar domestik mereka mengalami kejenuhan akibat perang harga.
GAC tidak sendirian; mereka mengikuti jejak BYD dan Geely yang lebih dulu menancapkan kuku di tanah Jepang, mencoba meruntuhkan benteng pertahanan pasar otomotif paling konservatif di Asia.
Strategi Gerilya: Membidik Korporasi Terlebih Dahulu
GAC tidak datang dengan tangan kosong, namun membawa strategi yang terukur. Melalui kemitraan dengan M Mobility Japan yang berbasis di distrik Nakano, Tokyo, GAC akan memperkenalkan merek kendaraan listrik (EV) andalannya, Aion.Pada tahap awal, target mereka tergolong moderat namun realistis: mengamankan 200 pesanan kendaraan pada 2026, dengan ambisi melipatgandakannya menjadi 2.000 unit pada tahun 2027.
Fokus penjualan awal akan diarahkan pada klien korporat atau bisnis yang membutuhkan armada operasional, celah pasar yang dinilai potensial di tengah lambatnya adopsi EV oleh konsumen ritel Jepang.
Dua Jagoan Harga Miring
Dua model andalan telah disiapkan sebagai ujung tombak serangan GAC. Pertama adalah Aion UT, sebuah hatchback kompak yang lincah, dibanderol mulai 3,3 juta yen atau sekitar Rp340 juta.Kedua adalah Aion V, sebuah SUV gagah yang ditawarkan mulai 5 juta yen atau sekitar Rp515 juta (setara 22.700 USD).
Harga ini tergolong sangat kompetitif di pasar Jepang. Untuk memastikan kenyamanan pengguna, kedua model ini telah disesuaikan agar mendukung standar pengisian cepat CHAdeMO yang berlaku umum di Jepang.
GAC Mencari Jalan Keluar dari Tekanan Domestik
Keputusan GAC untuk melaut ke Jepang bukan tanpa alasan mendesak. Di rumah sendiri, GAC tengah menghadapi tekanan hebat.Data penjualan periode Januari hingga September 2025 menunjukkan penurunan total penjualan sebesar 11 persen menjadi 1,18 juta unit.
Bahkan, penjualan merek Aion sendiri merosot tajam hingga 20 persen menjadi 180.000 unit.
Kondisi "berdarah-darah" di pasar domestik China memaksa GAC—yang ironisnya merupakan mitra usaha patungan (joint venture) Toyota dan Honda di China sejak 1997—untuk mencari pasar baru.
Setelah sukses merambah Thailand dan mengumumkan rencana masuk ke Inggris pada 2025, Jepang kini menjadi target strategis berikutnya.
Tantangan Berat di Kandang Lawan
Namun, jalan GAC tidak akan bertabur bunga. Pasar EV di Jepang masih tergolong "kurus". Hingga November 2025, penjualan mobil listrik di sana hanya tercatat 55.380 unit, atau hanya sekitar 1,5 persen dari total penjualan mobil baru—salah satu rasio terendah di antara negara-negara maju.Meski demikian, pesaing senegaranya, BYD, telah menunjukkan bahwa celah itu ada.
Penjualan BYD di Jepang melonjak 64 persen year-on-year dengan 3.508 unit terjual pada periode Januari-November 2025.
BYD bahkan berencana meluncurkan model "Racco" pada 2026 dengan fitur pintu geser yang sangat digemari konsumen Jepang.
Pabrikan lokal pun tak tinggal diam. Toyota telah memperbarui bZ4X, Nissan sedang menyiapkan Leaf generasi terbaru, dan Suzuki bersiap meluncurkan EV pertamanya, e-Vitara.
Kehadiran GAC Aion dipastikan akan membuat persaingan di segmen mobil listrik Jepang semakin sengit dan menarik untuk disimak.
(dan)
Lihat Juga :