Chery Bikin Geger! Mobil Listrik Pertama Pakai Solid-State Battery Meluncur 2026, Jarak Tempuh 1.500 Km
Selasa, 20 Januari 2026 - 19:25 WIB
loading...
Akhirnya Holy Grail mobil listrik terpecahkan, Chery nekat bawa baterai solid-state ke jalan raya tahun ini dengan jarak tempuh gila 1.500 km! . Foto: Chery Indonesia
A
A
A
CHINA - Chery tancap gas membawa teknologi baterai solid-state dari laboratorium ke jalan raya—dan ini bukan sekadar demonstrasi teknologi, melainkan sinyal bahwa peta kekuatan industri mobil listrik dunia sedang digeser.
Baru beberapa pekan setelah mengumumkan “terobosan” pada baterai solid-state, pabrikan otomotif asal China itu menegaskan langkah berikutnya: teknologi tersebut akan dipasang pada mobil listrik untuk pertama kali tahun ini, yakni pada model Liefeng di bawah merek Exeed.
Jika strategi ini berjalan mulus, Chery bukan hanya memamerkan inovasi, tetapi sedang melakukan hal yang selama ini jadi obsesi industri: mematahkan batas jarak tempuh, keamanan, dan performa baterai dalam satu paket.
Baterai tersebut dikembangkan oleh Chery Solid-State Battery Research Institute, menggunakan sistem solid-electrolyte in-situ polymerised yang dipadukan dengan material katoda lithium-rich manganese.
Secara sederhana: Chery tidak sedang mengubah casing baterai atau meningkatkan efisiensi motor saja, melainkan mendorong inovasi dari jantung kimia penyimpan energinya.
Target paling mencolok adalah klaim jarak tempuh 1.500 kilometer (kemungkinan mengacu pada siklus uji CLTC di China). Di saat mobil listrik global masih menjadikan 600–800 km sebagai tonggak premium, Chery mendadak berbicara pada skala yang nyaris setara mobil ICE sekali isi penuh.
Yang lebih mengejutkan: jarak tempuh itu diklaim tetap bisa dicapai pada suhu ekstrem -30 derajat Celsius. Chery menyebutnya sebagai “unmatched performance in sub-zero temperatures” dan menegaskan bahwa baterai tetap bekerja reliable di -30°C.
Di sinilah titik pentingnya. Baterai bukan sekadar soal range di brosur, tetapi konsistensi performa. Selama ini, “musim dingin” adalah momok EV: suhu rendah menekan reaksi kimia baterai, memperlambat charging, dan memotong jarak tempuh. Jika solid-state Chery benar-benar stabil di -30°C, maka mereka sedang menyerang salah satu kelemahan klasik EV.
Spek Performa: 800V, Motor 30.000 rpm, 0–100 Liefeng juga disebut akan membawa spesifikasi yang secara pasar tidak main-main:
Arsitektur 800 volt
Motor listrik 30.000 rpm
Akselerasi 0–100 km/jam di bawah 3 detik
Kecepatan puncak 260 km/jam
Secara logika industri, paket ini bukan hanya mengejar “EV yang hemat dan jauh”, melainkan EV yang sekaligus kencang, kelas performa tinggi. Arsitektur 800V biasanya identik dengan kemampuan fast charging lebih agresif, efisiensi lebih baik di sistem kelistrikan, serta performa sustain pada kebutuhan daya tinggi.
Perpaduan range 1.500 km + akselerasi
Strategi Bertahap: Mulai Ride-hailing dan Rental
Meski klaim teknologinya agresif, Chery tidak menutup mata pada risiko. Mereka menyatakan akan memperkenalkan kendaraan solid-state secara bertahap.
Tahap pertama bukan langsung dijual massal ke publik, melainkan membentuk “armada terkendali” untuk:
- ride-hailing
- pasar rental mobil
Dalam model ini, data operasional bisa dikumpulkan secara disiplin: degradasi baterai, stabilitas suhu, konsumsi energi harian, kecepatan charging, sampai potensi risiko keselamatan.
Ini langkah yang sangat rasional. Dalam industri otomotif, teknologi baterai baru bukan cuma soal performa, tetapi juga validasi reliabilitas dan kontrol risiko. Terlebih, solid-state bukan teknologi yang “sekadar upgrade”, melainkan generasi baru dengan tantangan manufaktur, biaya, dan stabilitas material. Chery menargetkan produksi massal mulai 2027.
Baru beberapa pekan setelah mengumumkan “terobosan” pada baterai solid-state, pabrikan otomotif asal China itu menegaskan langkah berikutnya: teknologi tersebut akan dipasang pada mobil listrik untuk pertama kali tahun ini, yakni pada model Liefeng di bawah merek Exeed.
Jika strategi ini berjalan mulus, Chery bukan hanya memamerkan inovasi, tetapi sedang melakukan hal yang selama ini jadi obsesi industri: mematahkan batas jarak tempuh, keamanan, dan performa baterai dalam satu paket.
Dari Prototipe ke Mobil Produksi: 600 Wh/kg
Pada Oktober tahun lalu, Chery memperkenalkan prototipe baterai solid-state dengan densitas energi sel 600 Wh/kg. Angka ini sangat krusial. Dalam dunia baterai, densitas energi adalah parameter yang menjadi “mata uang” teknologi: semakin tinggi nilainya, semakin banyak energi yang bisa disimpan dalam bobot dan volume yang sama.Baterai tersebut dikembangkan oleh Chery Solid-State Battery Research Institute, menggunakan sistem solid-electrolyte in-situ polymerised yang dipadukan dengan material katoda lithium-rich manganese.
Secara sederhana: Chery tidak sedang mengubah casing baterai atau meningkatkan efisiensi motor saja, melainkan mendorong inovasi dari jantung kimia penyimpan energinya.
Liefeng: Shooting Brake 1.500 Km, Tetap Bertenaga di -30°C
Menurut laporan CarNewsChina, anak perusahaan Chery, Exeed, akan membekali Liefeng dengan baterai solid-state tersebut pada 2026. Model ini disebut sebagai shooting brake—jenis bodi yang memadukan estetika wagon dan karakter sport.Target paling mencolok adalah klaim jarak tempuh 1.500 kilometer (kemungkinan mengacu pada siklus uji CLTC di China). Di saat mobil listrik global masih menjadikan 600–800 km sebagai tonggak premium, Chery mendadak berbicara pada skala yang nyaris setara mobil ICE sekali isi penuh.
Yang lebih mengejutkan: jarak tempuh itu diklaim tetap bisa dicapai pada suhu ekstrem -30 derajat Celsius. Chery menyebutnya sebagai “unmatched performance in sub-zero temperatures” dan menegaskan bahwa baterai tetap bekerja reliable di -30°C.
Di sinilah titik pentingnya. Baterai bukan sekadar soal range di brosur, tetapi konsistensi performa. Selama ini, “musim dingin” adalah momok EV: suhu rendah menekan reaksi kimia baterai, memperlambat charging, dan memotong jarak tempuh. Jika solid-state Chery benar-benar stabil di -30°C, maka mereka sedang menyerang salah satu kelemahan klasik EV.
Spek Performa: 800V, Motor 30.000 rpm, 0–100 Liefeng juga disebut akan membawa spesifikasi yang secara pasar tidak main-main:
Arsitektur 800 volt
Motor listrik 30.000 rpm
Akselerasi 0–100 km/jam di bawah 3 detik
Kecepatan puncak 260 km/jam
Secara logika industri, paket ini bukan hanya mengejar “EV yang hemat dan jauh”, melainkan EV yang sekaligus kencang, kelas performa tinggi. Arsitektur 800V biasanya identik dengan kemampuan fast charging lebih agresif, efisiensi lebih baik di sistem kelistrikan, serta performa sustain pada kebutuhan daya tinggi.
Perpaduan range 1.500 km + akselerasi
Strategi Bertahap: Mulai Ride-hailing dan Rental
Meski klaim teknologinya agresif, Chery tidak menutup mata pada risiko. Mereka menyatakan akan memperkenalkan kendaraan solid-state secara bertahap.
Tahap pertama bukan langsung dijual massal ke publik, melainkan membentuk “armada terkendali” untuk:
- ride-hailing
- pasar rental mobil
Dalam model ini, data operasional bisa dikumpulkan secara disiplin: degradasi baterai, stabilitas suhu, konsumsi energi harian, kecepatan charging, sampai potensi risiko keselamatan.
Ini langkah yang sangat rasional. Dalam industri otomotif, teknologi baterai baru bukan cuma soal performa, tetapi juga validasi reliabilitas dan kontrol risiko. Terlebih, solid-state bukan teknologi yang “sekadar upgrade”, melainkan generasi baru dengan tantangan manufaktur, biaya, dan stabilitas material. Chery menargetkan produksi massal mulai 2027.
(dan)
Lihat Juga :