Mesin Hybrid + EV, Wuling Eksion Tantang SUV Mahal, Seberapa Layak?
Sabtu, 18 April 2026 - 16:07 WIB
loading...
A
A
A
Panel digital juga jadi sorotan, dengan layar utama 12,8 inci dan MID 8,8 inci. Ini melampaui standar banyak SUV konvensional di kelas menengah yang masih bertahan di layar 7–10 inci.
Namun inti dari Eksion ada pada powertrain. Untuk varian PHEV, Wuling menggabungkan mesin 1.5L dengan tenaga 105 hp dan torsi 130 Nm, dipadukan motor listrik 195 hp dan torsi 230 Nm.
Angka ini secara total memberikan karakter performa yang lebih responsif dibanding SUV bensin biasa.
Sebagai pembanding, SUV konvensional di kelas harga Rp400 juta–Rp600 juta umumnya memiliki tenaga di kisaran 150–190 hp tanpa bantuan motor listrik.
![Mesin Hybrid + EV, Wuling Eksion Tantang SUV Mahal, Seberapa Layak?]()
Eksion, dengan kombinasi ini, secara teknis menawarkan akselerasi yang lebih instan, terutama di kecepatan rendah.
Baterai 20,5 kWh juga memungkinkan jarak tempuh gabungan lebih dari 1.000 km berdasarkan standar CLTC. Ini menjadi solusi atas kekhawatiran utama pengguna EV di Indonesia: infrastruktur pengisian yang belum merata.
Di sinilah Eksion mencoba mengisi celah pasar. EV murni masih menghadapi keterbatasan, sementara mobil bensin mulai ditinggalkan secara regulasi global. PHEV menjadi jembatan, dan Wuling memanfaatkannya.
Namun pertanyaan besarnya bukan soal teknologi, melainkan penerimaan pasar.
Namun inti dari Eksion ada pada powertrain. Untuk varian PHEV, Wuling menggabungkan mesin 1.5L dengan tenaga 105 hp dan torsi 130 Nm, dipadukan motor listrik 195 hp dan torsi 230 Nm.
Angka ini secara total memberikan karakter performa yang lebih responsif dibanding SUV bensin biasa.
Sebagai pembanding, SUV konvensional di kelas harga Rp400 juta–Rp600 juta umumnya memiliki tenaga di kisaran 150–190 hp tanpa bantuan motor listrik.

Eksion, dengan kombinasi ini, secara teknis menawarkan akselerasi yang lebih instan, terutama di kecepatan rendah.
Baterai 20,5 kWh juga memungkinkan jarak tempuh gabungan lebih dari 1.000 km berdasarkan standar CLTC. Ini menjadi solusi atas kekhawatiran utama pengguna EV di Indonesia: infrastruktur pengisian yang belum merata.
Di sinilah Eksion mencoba mengisi celah pasar. EV murni masih menghadapi keterbatasan, sementara mobil bensin mulai ditinggalkan secara regulasi global. PHEV menjadi jembatan, dan Wuling memanfaatkannya.
Namun pertanyaan besarnya bukan soal teknologi, melainkan penerimaan pasar.
Lihat Juga :