Ternyata Ini Alasan Koenigsegg Tidak Mau Bikin Mobil Listrik
Kamis, 02 Juli 2026 - 11:09 WIB
loading...
A
A
A
"Ia tidak pernah jadi hewan buas," kata von Koenigsegg soal mobil listrik — seberapapun cepat dan canggihnya.
Hypercar Bukan Alat Transportasi Biasa
Von Koenigsegg tegas memisahkan konteks hypercar dari kendaraan massal. Koenigsegg memang punya AC, kursi nyaman, dan infotainmen modern — tapi itu semua bisa ditemukan di mobil jauh lebih murah.
"Nilai sejati hypercar ada di desain, rekayasa, sensasi yang diberikan, serta ikatan emosional antara pengemudi dan mesin," kata von Koenigsegg. Dari sudut pandang itulah mesin pembakaran bukan teknologi transisi. Ia adalah inti dari apa yang Koenigsegg tawarkan.
Ini bagian yang sering luput dari debat publik: hypercar hampir tidak pernah dikendarai harian. Banyak yang duduk di garasi kolektor bertahun-tahun.
Sementara baterai besar butuh jarak tempuh tertentu agar dampak emisi produksinya "terbayar."
Estimasi yang von Koenigsegg sebut: sekitar 80.000 km adalah titik impas di mana mobil berbaterai kecil — atau tanpa baterai — lebih unggul secara lingkungan dibanding EV murni. Dengan bahan bakar terbarukan atau biofuel, titik itu naik ke 140.000 km.
Hypercar Bukan Alat Transportasi Biasa
![Ternyata Ini Alasan Koenigsegg Tidak Mau Bikin Mobil Listrik]()
Von Koenigsegg tegas memisahkan konteks hypercar dari kendaraan massal. Koenigsegg memang punya AC, kursi nyaman, dan infotainmen modern — tapi itu semua bisa ditemukan di mobil jauh lebih murah.
"Nilai sejati hypercar ada di desain, rekayasa, sensasi yang diberikan, serta ikatan emosional antara pengemudi dan mesin," kata von Koenigsegg. Dari sudut pandang itulah mesin pembakaran bukan teknologi transisi. Ia adalah inti dari apa yang Koenigsegg tawarkan.
Ini bagian yang sering luput dari debat publik: hypercar hampir tidak pernah dikendarai harian. Banyak yang duduk di garasi kolektor bertahun-tahun.
Sementara baterai besar butuh jarak tempuh tertentu agar dampak emisi produksinya "terbayar."
Estimasi yang von Koenigsegg sebut: sekitar 80.000 km adalah titik impas di mana mobil berbaterai kecil — atau tanpa baterai — lebih unggul secara lingkungan dibanding EV murni. Dengan bahan bakar terbarukan atau biofuel, titik itu naik ke 140.000 km.
Lihat Juga :