Dacia Spring, Mobil Prancis yang Dibenci Buruh Prancis
Senin, 26 Oktober 2020 - 20:42 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Konferensi Buruh Demokratik Prancis, Renault mendapatkan bantuan karena perusahaan yang berdiri di Prancis pada 25 Februari 1899 itu setuju dengan perwakilan buruh akan mengaktifkan kembali dua pabrik yang telah vakum.
Selain masalah internal, para buruh di Prancis juga mempermasalahkan masalah isu lingkungan yang dibawa oleh Renault Spring. Seharusnya mobil lingkungan tidak perlu diproduksi di luar wilayah dimana mobil itu dipasarkan. Karena untuk mengirimkan mobil itu otomatis akan mengunakan jasa pengiriman yang tentunya akan meningkatkan polusi. Seharusnya menurut mereka, Renault, kembali fokus membuat mobil listrik di Prancis dan menjadikan negeri Menara Eiffel itu jadi pusat kesempurnaan elektrifikasi. "Sangat tidak bertanggung jawab membuat mobil itu diluar negara kami," ujar Frank Daoust. (Baca juga : Harga Mobil Listrik akan Sama dengan Mobil Konvensional )
Masalahnya Renault tidak sendirian membuat mobil-mobil listrik di China. Kompatriot mereka seperti BMW, Daimler dan Volvo bahkan sudah lama membuat mobil-mobil listrik di China dan kemudian menjualnya kembali ke pasar Eropa. Mereka bekerjasama dengan perusahaan mobil di China untuk memproduksi sekaligus langsung menjual mobil itu untuk pasar China juga.
Hal yang sama juga dilakukan Renault dimana mereka bekerjasama dengan Donfeng Motor Group membuat Dacia Spring. Renault beralasan pemilihan China sebagai pusat produksi mobil listrik karena memang teknologi mobil listrik memang tengah berkembang pesat di China dan mereka tidak ingin ketinggalan dengan produsen otomotif lainnya yang juga sudah berada di China memantapkan produksi mobil listrik mereka.
Untuk informasi Dacia Spring merupakan versi listrik dari Renault Kwid. Mobil Renault Kwid juga dipasarkan di Indonesia dengan bendera Maxindo Renault Indonesia.
Selain masalah internal, para buruh di Prancis juga mempermasalahkan masalah isu lingkungan yang dibawa oleh Renault Spring. Seharusnya mobil lingkungan tidak perlu diproduksi di luar wilayah dimana mobil itu dipasarkan. Karena untuk mengirimkan mobil itu otomatis akan mengunakan jasa pengiriman yang tentunya akan meningkatkan polusi. Seharusnya menurut mereka, Renault, kembali fokus membuat mobil listrik di Prancis dan menjadikan negeri Menara Eiffel itu jadi pusat kesempurnaan elektrifikasi. "Sangat tidak bertanggung jawab membuat mobil itu diluar negara kami," ujar Frank Daoust. (Baca juga : Harga Mobil Listrik akan Sama dengan Mobil Konvensional )
Masalahnya Renault tidak sendirian membuat mobil-mobil listrik di China. Kompatriot mereka seperti BMW, Daimler dan Volvo bahkan sudah lama membuat mobil-mobil listrik di China dan kemudian menjualnya kembali ke pasar Eropa. Mereka bekerjasama dengan perusahaan mobil di China untuk memproduksi sekaligus langsung menjual mobil itu untuk pasar China juga.
Hal yang sama juga dilakukan Renault dimana mereka bekerjasama dengan Donfeng Motor Group membuat Dacia Spring. Renault beralasan pemilihan China sebagai pusat produksi mobil listrik karena memang teknologi mobil listrik memang tengah berkembang pesat di China dan mereka tidak ingin ketinggalan dengan produsen otomotif lainnya yang juga sudah berada di China memantapkan produksi mobil listrik mereka.
Untuk informasi Dacia Spring merupakan versi listrik dari Renault Kwid. Mobil Renault Kwid juga dipasarkan di Indonesia dengan bendera Maxindo Renault Indonesia.
(wsb)
Lihat Juga :