DFSK: Tinggal Menunggu Waktu Sampai Perusahaan dan UKM Beralih ke Mobil Listrik
Selasa, 08 Juni 2021 - 09:51 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu, kendaraan listrik jauh lebih irit bahan bakar, perawatannya lebih mudah karena komponennya tidak sebanyak kendaraan konvensional, juga lebih bersih dan lebih ramah lingkungan.
Di Indonesia, masalahnya ada tiga. Pertama, soal harga kendaraan listrik yang saat ini masih relatif mahal. Kedua, soal dukungan infrastruktur pengisian listrik yang pelan-pelan semakin banyak. Ketiga adalah soal mindset.
Dari dua faktor itu, faktor ketiga yang paling sulit. Yakni, mengubah mindset para pemilik bisnis atau pengusaha untuk beralih ke kendaraan listrik.
![DFSK: Tinggal Menunggu Waktu Sampai Perusahaan dan UKM Beralih ke Mobil Listrik]()
Ruang kabin DFSK Gelora e sangat besar sehingga bisa dimanfaatkan untuk beragam fungsi.
96 persen responden di Inggris yang mencoba kendaraan listrik mengatakan bahwa meraka sangat tertarik. Namun, 77 persen masih ragu membeli karena khawatir terhadap jarak tempuh serta ketersediaan stasiun pengisian listrik.
Managing Director of Sales Centre PT Sokonindo Automobile Franz Wang percaya bahwa kendaraan listrik adalah tren global. Artinya, peralihan dari kendaraan konvensional ke EV pasti terjadi. ”Dan kami bersyukur pemerintah Indonesia juga sangat mendukung. Market di Indonesia besar. Tidak hanya konsumen, tapi juga pasar komersial,” ujar Franz.
![DFSK: Tinggal Menunggu Waktu Sampai Perusahaan dan UKM Beralih ke Mobil Listrik]()
Karena itu DFSK termasuk yang pertama menjajakan kendaraan listrik untuk konsumen bisnis lewat DFSK Gelora E.
Menurut Franz, Gelora E adalah mobil listrik yang sangat fleksibel untuk banyak kebutuhan usaha. ”Sangat cocok untuk perusahaan logistik di perkotaan. Karena per kilometernya hanya Rp200, sangat hemat,” ujarnya.
Saat ini pihaknya sudah menjajaki kerja sama dengan berbagai perusahaan di berbagai sektor. Mulai perusahaan internet, logistik, hingga pariwisata untuk mengganti kendaraan operasional menjadi kendaraan listrik. ”Kendaraan listrik ini nantinya tidak hanya hadir dengan model baru, tapi akan menjadi satu kategori baru di Indonesia,” katanya.
Di Indonesia, masalahnya ada tiga. Pertama, soal harga kendaraan listrik yang saat ini masih relatif mahal. Kedua, soal dukungan infrastruktur pengisian listrik yang pelan-pelan semakin banyak. Ketiga adalah soal mindset.
Dari dua faktor itu, faktor ketiga yang paling sulit. Yakni, mengubah mindset para pemilik bisnis atau pengusaha untuk beralih ke kendaraan listrik.

Ruang kabin DFSK Gelora e sangat besar sehingga bisa dimanfaatkan untuk beragam fungsi.
96 persen responden di Inggris yang mencoba kendaraan listrik mengatakan bahwa meraka sangat tertarik. Namun, 77 persen masih ragu membeli karena khawatir terhadap jarak tempuh serta ketersediaan stasiun pengisian listrik.
Managing Director of Sales Centre PT Sokonindo Automobile Franz Wang percaya bahwa kendaraan listrik adalah tren global. Artinya, peralihan dari kendaraan konvensional ke EV pasti terjadi. ”Dan kami bersyukur pemerintah Indonesia juga sangat mendukung. Market di Indonesia besar. Tidak hanya konsumen, tapi juga pasar komersial,” ujar Franz.

Karena itu DFSK termasuk yang pertama menjajakan kendaraan listrik untuk konsumen bisnis lewat DFSK Gelora E.
Menurut Franz, Gelora E adalah mobil listrik yang sangat fleksibel untuk banyak kebutuhan usaha. ”Sangat cocok untuk perusahaan logistik di perkotaan. Karena per kilometernya hanya Rp200, sangat hemat,” ujarnya.
Saat ini pihaknya sudah menjajaki kerja sama dengan berbagai perusahaan di berbagai sektor. Mulai perusahaan internet, logistik, hingga pariwisata untuk mengganti kendaraan operasional menjadi kendaraan listrik. ”Kendaraan listrik ini nantinya tidak hanya hadir dengan model baru, tapi akan menjadi satu kategori baru di Indonesia,” katanya.
Lihat Juga :