Geser Mazda CX-5, Mazda CX-3 1.5 L Jadi Favorit Baru Masyarakat Indonesia

Jum'at, 08 Oktober 2021 - 06:16 WIB
loading...
Geser Mazda CX-5, Mazda CX-3 1.5 L Jadi Favorit Baru Masyarakat Indonesia
Mazda CX-3 baru kini memiliki varian yang lebih terjangkau harganya yakni Mazda CX-3 1.5 L Sport. Foto/EMI
JAKARTA - Mazda CX-3 1.5 L jadi favorit baru masyarakat Indonesia menggeser Mazda CX-5 . Hal itu dikonfirmasi oleh PT Eurokars Motor Indonesia (EMI) saat mengadakan Mazda CXTroop&Trip baru-baru ini.

Sejak diluncurkan Maret 2021 lalu, penjualan Mazda CX-3 langsung melesat.Bahkan penjualan mereka bisa mencapai 500 unit sebulan. Sedangkan, CX-5 hanya terjual 30 sampai 40 persen dari penjualan CX-3, atau sekitar 150 sampai dengan 200 unit per bulan.

Peningkatan penjualan tersebut terjadi karena Mazda CX-3 memang memiliki harga yang lebih terjangkau dibandingkan Mazda CX-5 yang memang segmennya berbeda. Saat ini Mazda CX-3 sendiri dipasarkan dengan banderol Rp 353,3 juta untuk varian 1.5L Sport, sedangkan varian 2.0L Pro dijual dengan harga Rp 454,4 juta. Sementara Mazda CX-5 dipasarkan dengan banderol Rp 555,8 juta untuk varian GT dan Rp 559,8 juta untuk varian Kuro Edition. Semua harga tersebut berstatus on the road (OTR) Jakarta.

Baca juga : Ini Dia Perbedaan Lengkap Fitur yang Ada di Semua Varian Honda BR-V Baru



"Backbone kami sekarang di CX-3. SPK tertinggi itu saat ini ada di CX-3, kemudian kedua CX-5. Kehadiran mesin baru 1.5L ini membuat CX-3 menjadi salah satu mobil entry-level yang banyak dicari konsumen," ujar Sales Manager PT Eurokars Motor Indonesia, Deddy Kurniawan Saputro.

Meski saat ini mengalami peningkatan, konsumen Mazda CX-3 harus banyak bersabar. Pasalnya suplai Mazda CX-3 dari Jepang ke Indonesia mengalami perlambatan. Ricky Thio, Managing Director PT Eurokars Motor Indonesia (EMI) mengatakan, hal ini disebabkan oleh keterbatasan suplai mobil dari Mazda Global.

Baca juga : Nissan Kicks e-Power, Solusi Sensasi Mobil Listrik di Bawah Rp600 Juta

"Dampaknya lumayan besar karena mempengaruhi produksi. Paling besar yang terdampak pabrik di Jepang, jadi suplainya terbatas," ujar Ricky.

Meski harus inden, ternyata hal tersebut tidak membuat para konsumen membatalkan pesanannya. Menurutnya, konsumen yang telah memesan lebih memilih untuk menunggu unitnya sampai datang meski harus inden. "Saat pemesanan, biasanya kami beri tahu terlebih dulu ke konsumen bahwa unit yang dipesan tersebut inden karena krisis chip semikonduktor, dan ternyata mereka mau menunggu," tuturnya.
(wsb)
preload video
Komentar Anda
OTO UPDATE