Nissan Kicks e-Power, Solusi Sensasi Mobil Listrik di Bawah Rp600 Juta

Kamis, 07 Oktober 2021 - 05:00 WIB
loading...
Nissan Kicks e-Power, Solusi Sensasi Mobil Listrik di Bawah Rp600 Juta
PT NMDI akan berupaya menghadirkan mobil Nissan lainnya yang juga menggunakan teknologi e-Power seperti Nissan Kicks e-Power. Foto/Nissan.
A A A
JAKARTA - PT Nissan Motor Distribusi Indonesia (NMDI) meyakini Nissan Kicks e-Power adalah salah satu solusi bagi masyarakat untuk merasakan sensasi mobil listrik di bawah Rp600 juta. Memang tidak bisa dipungkiri harga mobil listrik murni atau Battery Electric Vehicle (BEV) saat ini memang masih cukup mahal.

Bahkan salah satu BEV andalan Nissan yakni Nissan Leaf dijual di Indonesia di harga Rp649 untuk versi one tone dan Rp651 juta untuk versi two tone. Begitu juga mobil listrik lain seperti buatan Hyundai dan Lexus yang juga sudah dipasarkan di Tanah Air. Rentang harganya mulai dari Rp600 juta hingga Rp1 juta.

Meski masih terbilang mahal, masih banyak masyarakat yang berharap adanya mobil listrik dengan harga terjangkau. PT NMDI sendiri meyakini keinginan itu bisa dijawab oleh Nissan Kicks e-Power.

Baca juga : Efek James Bond, Pencarian Mobil Bekas Aston Martin Meningkat Tajam

Bagus Susanto, Nissan Representative Director PT NMDI tidak memungkiri Nissan Kicks e-Power masuk dalam kategori mobil hybrid berdasarkan status Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) yang dikeluarkan pemerintah. Namun dia menjelaskan teknologi e-Power yang ada di Nissan Kicks melebihi dari teknologi hibrid.

Nissan Kicks e-Power, Solusi Sensasi Mobil Listrik di Bawah Rp600 Juta


Teknologi e-Power dikembangkan berdasarkan dari teknologi full Battery Electric Vehicle (BEV). Tim enginering Nissan menurutnya berupaya mengembangkan teknologi e-Power di Nissan Kicks berdasarkan arsitektur mobil listrik.

"Jadi Nissan Kicks e-Power sepenuhnya digerakkan motor listrik, atau 100 persen motor listrik," kata Bagus Susanto.

Lebih lanjut, Bagus menjelaskan, mesin bensin bertugas untuk mencukupi kebutuhan ekstra charging. Jadi fungsinya hanya untuk charging baterai. Hal ini tidak mengurangi performa dari kendaraan.

Perbedaannya dibandingkan mesin hibrid adalah teknologi hibrida mengadopsi mobil konvensional bermesin bensin. Kemudian sebuah motor listrik dimasukkan, sehingga bisa menggerakkan kendaraan dalam kurun waktu tertentu. Bergantian bekerja antara tenaga baterai dan mesin. "Ini jelas ada perbedaan dari sisi arsitektur teknologinya," ungkap Bagus.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1839 seconds (11.210#12.26)