Tesla Bangun Pabrik Raksasa di Shanghai

Selasa, 08 Januari 2019 - 08:08 WIB
Tesla Bangun Pabrik...
Tesla Bangun Pabrik Raksasa di Shanghai
A A A
SHANGHAI - Pasar mobil listrik di China dalam waktu dekat akan meningkat tajam. Prediksi ini seiring investasi Tesla Inc yang kemarin mulai membangun pabrik raksasa di Shanghai Gigafactory. Mulai akhir 2019 ini, pabrik ini akan memproduksi mobil listrik Model 3.

Pembangunan pabrik ini menjadi langkah pertama Tesla untuk melokalkan produksi di pasar automotif terbesar dunia tersebut. Saat upacara di lokasi pabrik di pinggiran Shanghai, Chief Executive Officer (CEO) Tesla Elon Musk turut hadir bersama wali kota Shanghai dan pejabat lokal lainnya. Mereka menyaksikan pembangunan pabrik yang akan menghabiskan dana sekitar USD2 miliar (Rp28 triliun) itu. “Kami sangat berharap memiliki beberapa produksi awal Model 3 pada akhir tahun ini dan mencapai volume produksi tahun depan,” papar Musk.

Kenapa harus China? Musk mengungkapkan China dipilih karena telah menjadi pemain global pada kendaraan listrik. “China juga menjadi pasar penting dalam mengakselerasikan transisi menuju energi berkelanjutan,” ungkap Musk.

Gigafactory menjadi pabrik mobil yang seluruhnya dimiliki asing untuk pertama kali di China. Ini mencerminkan perubahan besar China untuk membuka pasar mobilnya di tengah perang dagang dengan Amerika Serikat (AS) sehingga Beijing menaikkan tarif untuk mobil-mobil yang diimpor dari AS.

Produksi mobil secara lokal tampaknya membantu Tesla meminimalkan dampak perang dagang yang memaksa para produsen mobil listrik menyesuaikan harga mobil-mobil buatan AS di China. Menjaga harga tetap terjangkau juga membantu Tesla menghadapi persaingan dari startup mobil listrik lokal seperti Nio Inc, Byton dan XPeng Motors. “Mobil-mobil terjangkau harus dibuat di benua yang sama dengan konsumennya,” tweet Musk menjelang acara itu, dilansir Reuters.

China menaikkan tarif impor untuk mobil AS menjadi 40% pada Juli tapi memangkasnya menjadi 15% sejak awal tahun ini sebagai bagian dari gencatan senjata perang dagang. Tarif lebih rendah itu akan berlaku hingga akhir Maret menunggu hasil perundingan dagang.

Meski terjadi perang dagang, penjualan mobil listrik atau energi baru mengalami penguatan di China saat pemerintah berupaya beralih dari mobil berbahan bakar fosil. “Shanghai Giga akan memproduksi versi terjangkau Model 3/Y untuk China. Semua Model S/X dan lebih tinggi dari versi Model 3/Y masih dibuat di AS untuk pasar WW, termasuk China,” lanjut tweet Musk yang menyebut pasar dunia secara luas dengan singkatan WW.

Tesla mendorong rencana untuk pabrik kapasitas 500.000 mobil setelah mendapat lokasi pada Oktober lalu. Perusahaan itu telah menyewa pekerja, memulai penilaian untuk bahan konstruksi dan membentuk perusahaan leasing keuangan lokal. “Ingin menyelesaikan konstruksi awal pada musim panas ini,” tulis Musk.

Saham di perusahaan-perusahaan pemasok China untuk Tesla, termasuk Tianjin Motor Dies Co Ltd dan VT Industrial Technology Co Ltd pun menguat setelah tweet Musk.

Melansir CNBC, pendapatan Tesla memang meningkat dua kali lipat dibandingkan setahun lalu meskipun perusahaan tersebut mengalami permasalahan likuiditas. Pada kuartal pertama 2018 lalu, utang Tesla mencapai USD10,7 miliar (Rp150 triliun) atau naik dari USD8,2 miliar (Rp115 triliun) pada tahun sebelumnya.

Strategi yang ditempuh Tesla adalah mendapatkan uang dengan menjual saham di Wall Street. Namun, optimisme tetap melekat pada Tesla seiring hadirnya Model 3. "Kita dalam posisi kuat untuk meningkatkan kompetisi di mobil listrik," demikian keterangan Tesla dilansir CNN.

Awal tahun ini, Tesla memotong harga mobilnya USD2.000 untuk memerangi pemotongan pajak federal bagi pembelinya. Itu disebabkan pada Juli lalu, Tesla menjadi produsen mobil pertama yang memproduksi lebih dari 200.000 mobil listrik. Sebelum pemotongan harga, pembeli Tesla harus membayar pajak USD7.500 untuk membeli mobil listrik. Dengan kebijakan penurunan harga, pembeli Tesla hanya membayar pajak kredit USD3.750 dalam enam bulan.

"Kita mengambil langkah untuk mengurangi kredit pajak mobil listrik," demikian keterangan Tesla. Pemotongan harga itu menjadi kabar buruk bagi investor karena akan terjadi penurunan pendapatan USD180 juta kuartal. Namun, Tesla berpandangan pemotongan harga itu sebagai persiapan untuk penjualan Model 3 senilai USD35.000 (Rp492 juta). (Syarifudin/Andika)
(nfl)
Berita Terkait
Gembosi Tesla, General...
Gembosi Tesla, General Motors Siapkan 30 Model Mobil Listrik
Dibantu Perakit iPhone,...
Dibantu Perakit iPhone, Lordstown Motors Tantang Truk Listrik Buatan Tesla
Mau Buat 30 Mobil Listrik,...
Mau Buat 30 Mobil Listrik, GM Siapkan Dana Rp378,2 Triliun
GM Tumbang di China,...
GM Tumbang di China, Bisnis 100 Tahun Hancur Akibat Revolusi Mobil Listrik
Pil Pahit Mobil Listrik,...
Pil Pahit Mobil Listrik, Bikin Pusing Produsen Otomotif Dunia
Pasar Tesla Mulai Diserobot...
Pasar Tesla Mulai Diserobot Teknologi K-Pop
Berita Terkini
China Pastikan Kendaraan...
China Pastikan Kendaraan Listrik Berukuran Besar Merusak Jalan
Honda CB400SF E-Clutch...
Honda CB400SF E-Clutch dan CBR400R Four Siap Diluncurkan Bulan Depan!
Bentley Gunakan Suara...
Bentley Gunakan Suara Drum untuk Gantikan Suara V8 di EV Pertamanya
Geely Pamer Performa...
Geely Pamer Performa dan Inovasi di Sirkuit Mandalika, Begini Sensasinya
Pre-Book Coolray, SUV...
Pre-Book Coolray, SUV ICE Geely Pertama di Indonesia Resmi Dibuka
Komunitas BAIC ORV Chapter...
Komunitas BAIC ORV Chapter JHL Auto Sukses Gelar Gathering Perdana
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved