Menakar Pasar Mobil Niaga Listrik di Indonesia, Seksi tapi Masih Niche

Rabu, 07 Juni 2023 - 13:45 WIB
DFSK Gelora E mengisi pasar mobil listrik niaga yang menjanjikan. Foto: dok DFSK Indonesia
JAKARTA - Memang tren ini baru saja mulai: kendaraan listrik yang menyasar pasar fleet untuk instansi/perusahaan. Karena masih baru, beberapa perusahaan masih coba-coba. Masih menghitung plus dan minusnya dalam jangka panjang.

Apa alasan terbesar perusahaan harus membeli mobil listrik untuk kendaraan operasional mereka?

Mengapa, misalnya mereka harus membeli DFSK Gelora E yang harganya bisa ditukar dengan 2 unit Grand Max Blindvan?

Pertimbangan utamanya adalah soal biaya operasional. Seharusnya, dengan kendaraan listrik biaya BBM bisa ditekan hampir 30-50 persen lebih murah, termasuk juga biaya servis dan lainnya.

Tapi, masih banyak parameter-parameter lain yang harus di tes dulu dalam jangka panjang terhadap kendaraan listrik yang menyasar armada fleet seperti DFSK Gelora E ini. Mulai durabilitas, efektivitas waktu (ngecas), harga jual kembali, ketersediaan suku cadang, dan lainnya.



Karena itu, sekarang perusahaan di Indonesia masih dalam tahap coba-coba. Beli beberapa unit, dan melihat seperti apa hasilnya dalam jangka panjang.

Terkait Isu Lingkungan

Peralihan ke kendaraan listrik memang tidak hanya di pasar konsumen saja. Tapi, juga ke kendaraan komersial atau niaga. Berkaca dari Amerika, perusahaan seperti Amazon sudah bekerja sama dengan pabrikan mobil listrik Rivian untuk bikin mobil mini bus/van elektrik.

Rivian Electric Delivery Vehicle (EDV), nama mobil itu, sudah digunakan di 100 kota di Amerika tahun ini. Pada 2030 mendatang, targetnya akan ada 100.000 unit mobil listrik Amazon yang beroperasi.

Mobil listrik berdampak ke emisi karbon (nol emisi), yang terkait erat ke isu Perubahan Iklim (Climate Chage), yang jadi isu seksi bagi perusahaan.
Halaman :
tulis komentar anda
Video Rekomendasi
Berita Terkait
Rekomendasi
Terpopuler
Berita Terkini More