E-sport Makin Digdaya

Selasa, 25 Agustus 2020 - 06:27 WIB
Itu sangat kontras dengan masa lalu di mana jika ingin mendapatkan uang dari video games, maka orang harus membuatnya dan menjualnya. Tapi, kini dengan menjadi pemain e-sport justru menghasilkan banyak uang. Melansir E-sport Insider, kesempatan bekerja di sektor e-sport meningkat 185% pada semester pertama 2019 dibandingkan periode sama pada 2018. Itu menjadikan pasar e-sport pun tumbuh besar di Amerika Utara, Eropa, dan sebagian Asia. (Baca juga: Malaikat Agung Islam Dijadikan Nama Sepatu, Kanye West Dihujat)

Misalnya di India, pasar video games tumbuh pesat dalam beberapa tahun ini. Banyak perusahaan besar berinvestasi mengembangkan perusahaan e-sport dan promosi games pun semakin masif. Jumlah orang bermain games di India lebih besar dibandingkan populasi Uni Eropa dan AS. Acer merupakan perusahaan yang menggelar kompetisi e-sport bernama Acer Predator Gaming League di India. Red Bull dan OnePlus juga menggelar acara yang serupa.

Di Indonesia, e-sport juga berkembang pesat. Ketua Umum Indonesia E-sport Association (IESPA) Eddy Lim mengatakan, semakin hari semakin banyak orang yang mengetahui e-sport. Dia menjelaskan lima tahun lalu tidak ada asosiasi olahraga yang mau menerima e-sport.

“Seiring berjalan waktu, sampai sekarang e-sport sudah diterima oleh hampir semua induk cabang olahraga. Terlepas (masih ada dari) mereka tidak terima e-sport sebagai olahraga karena tidak banyak gerak,” ucapnya saat dihubungi KORAN SINDO kemarin.

Para orang tua pun sudah mengetahui jika e-sport sudah dianggap olahraga. Maraknya permainan games daring, baik di komputer maupun ponsel pintar, membuat hampir semua orang mempunyai peluang untuk menjadi atlet e-sport. Beberapa atlet e-sport Indonesia antara lain Kevin Susanto, Tobias Justin alias Jess No Limit, dan Hansel Ferdinand.

Mereka sudah malang melintang di kompetisi e-sport internasional. Beberapa kompetisi dunia, yakni The International, Fortnite World Cup Finals, M1 World Championship, dan PUBG Global Championship.

IESPA berusaha untuk mencari bakat-bakat dari berbagai daerah sejak usia dini. IESPA menyelenggarakan Smartfren IES Indonesia Championship. Kompetisi digelar selama 4-5 bulan di 21 provinsi. Kategori games yang dipertandingkan adalah PUBG Mobile, Dota 2, Mobile Legend, dan Autochess. (Baca juga: Diawali Jakarta, Deklarasi Koalisi Din Syamsuddin Dkk Terus Meluas)

“Itu adalah kompetisi nasional untuk amatir. Tujuannya, menjaring talenta-talenta baru. Selama ini e-sport yang dilihat pronya karena paling menarik. Pronya tidak akan jalan kalau dari generasi bawah tidak ada. Generasi bawah bisa muncul kalau ada event-event amatir. Kalau enggak event amatir, Anda jago juga enggak ketahuan,” tuturnya.

Eddy mengungkapkan salah satu pembinaan profesional yang pernah dilakukan itu pada saat persiapan Sea Games Manila 2019. Para atlet dikumpulkan di pelatnas. Mereka tidak hanya dilatih kemampuan games yang akan dipertandingkan. Asosiasi memberikan pendampingan psikolog dan gizi atlet diperhatikan. Setiap pagi para atlet melakukan olahraga fisik bersama instruktur profesional.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!