Membedah Keselamatan Baterai Motor Listrik dan APAR Khusus yang Wajib Anda Tahu

Sabtu, 13 Desember 2025 - 15:25 WIB

Keterbatasan BMS: Penjaga yang Bisa Gagal

Banyak pengguna merasa aman karena adanya Battery Management System (BMS). Memang, BMS adalah garda terdepan yang canggih.

Sistem ini efektif menangani risiko overheating akibat pengisian daya berlebih (over charge) atau kegagalan pendingin dengan cara memutus arus via sensor temperatur.

Namun, Polytron mengingatkan bahwa BMS bukanlah dewa. Ada tiga skenario maut di mana BMS angkat tangan:

1. Korsleting Internal (Internal Short Circuit): Disebabkan cacat pabrik, bocornya separator, atau tumbuhnya dendrit litium di dalam sel.

2. Korsleting Kutub Luar: Hubungan arus pendek pada kabel atau bus bar akibat kerusakan komponen.

3. Kerusakan Mekanis (Mechanical Damage): Sel baterai yang tertusuk atau sobek akibat kecelakaan lalu lintas.

Dalam ketiga kondisi di atas, BMS tidak bisa menangani masalah. Di sinilah jenis kimia baterai menjadi pertahanan terakhir. Karena LFP lebih stabil dan tidak memproduksi oksigen, ia jauh lebih aman dibanding NMC saat sistem elektronik gagal melindungi fisik baterai.

Salah Kaprah APAR: Busa dan Serbuk Tak Mempan

Jika api sudah menyala, naluri pertama adalah menyemprotkan APAR. Namun, hati-hati, salah memilih jenis APAR justru bisa sia-sia.

Banyak gedung dan kendaraan masih dilengkapi APAR jenis Powder (Serbuk) atau AFFF (Foam).
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!