Mobil Tidak Lagi Butuh Sopir, Bisa Berpikir dan Mengambil Keputusan Sendiri
Jum'at, 01 Mei 2026 - 12:40 WIB
AI di mobil akan menyetir perkembangan teknologi kendaraan di dunia. Foto: Sindonews/Danang Arradian
BEIJING - Mobil tidak lagi butuh sopir. Sebentar lagi, mungkin juga tidak butuh peta. Itu yang terasa di Beijing Auto Show 2026.
China sudah menang di mobil listrik. Butuh 25 tahun. Sekarang mereka tidak mau menunggu selama itu lagi. Target berikutnya: AI di semua mobil.
Pemerintah China sudah memberi arah. Namanya: “AI Plus”. AI harus masuk ke semua sektor. Termasuk otomotif. Tujuannya jelas: lepas dari ketergantungan chip Amerika.
Sudah tidak ada lagi batas antara perusahaan mobil dan perusahaan teknologi. “Sudah tidak ada bedanya,” kata Stephen Ma dari Nissan China.
Kalimat itu sederhana. Tapi artinya dalam.
Xpeng sudah memulai. Mobilnya tidak perlu koordinat. Cukup bilang: “Parkir dekat pintu masuk mall.” Mobil akan cari sendiri.
Xiaomi lebih jauh lagi. Lewat HyperOS. Mobil bisa: pesan restoran, order kopi, mencatat aktivitas, bahkan membaca emosi pengemudi. Kalau Anda stres, mobil akan menenangkan Anda.
Konsep ini mengingatkan saya ke Honda NeuV (New Electric Urban Vehicle) saat meliput Tokyo Motor Show 2020 dulu. Saat itu Honda sudah punya konsep “emotion engine”. Lewat AI, mobil jadi teman pengemudi: tahu kapan marah, sedih, senang.
Kata Dan Hearsch dari AlixPartners: AI di mobil China dibuat agar “lebih mudah dikendarai, lebih mudah diajak berinteraksi,”.
Raja teknologi China Huawei siapkan investasi besar. Lebih dari USD 10 miliar. Sekitar Rp170 triliun. Untuk satu hal: komputasi mobil pintar. Karena perang berikutnya adalah ini: chip.
Selain Xpeng dengan chip Turingnya, BYD, Geely, NIO, mulai bikin chip sendiri. Tujuannya sederhana: tidak tergantung perusahaan Amerika Nvidia.
Horizon Robotics meluncurkan Starry 6. Satu chip. Tapi bisa mengatur: mengemudi, kabin, hingga 12 layar sekaligus. Mobil berubah jadi komputer berjalan.
China sudah menang di mobil listrik. Butuh 25 tahun. Sekarang mereka tidak mau menunggu selama itu lagi. Target berikutnya: AI di semua mobil.
Pemerintah China sudah memberi arah. Namanya: “AI Plus”. AI harus masuk ke semua sektor. Termasuk otomotif. Tujuannya jelas: lepas dari ketergantungan chip Amerika.
Sudah tidak ada lagi batas antara perusahaan mobil dan perusahaan teknologi. “Sudah tidak ada bedanya,” kata Stephen Ma dari Nissan China.
Kalimat itu sederhana. Tapi artinya dalam.
Xpeng sudah memulai. Mobilnya tidak perlu koordinat. Cukup bilang: “Parkir dekat pintu masuk mall.” Mobil akan cari sendiri.
Xiaomi lebih jauh lagi. Lewat HyperOS. Mobil bisa: pesan restoran, order kopi, mencatat aktivitas, bahkan membaca emosi pengemudi. Kalau Anda stres, mobil akan menenangkan Anda.
Konsep ini mengingatkan saya ke Honda NeuV (New Electric Urban Vehicle) saat meliput Tokyo Motor Show 2020 dulu. Saat itu Honda sudah punya konsep “emotion engine”. Lewat AI, mobil jadi teman pengemudi: tahu kapan marah, sedih, senang.
Kata Dan Hearsch dari AlixPartners: AI di mobil China dibuat agar “lebih mudah dikendarai, lebih mudah diajak berinteraksi,”.
Raja teknologi China Huawei siapkan investasi besar. Lebih dari USD 10 miliar. Sekitar Rp170 triliun. Untuk satu hal: komputasi mobil pintar. Karena perang berikutnya adalah ini: chip.
Selain Xpeng dengan chip Turingnya, BYD, Geely, NIO, mulai bikin chip sendiri. Tujuannya sederhana: tidak tergantung perusahaan Amerika Nvidia.
Horizon Robotics meluncurkan Starry 6. Satu chip. Tapi bisa mengatur: mengemudi, kabin, hingga 12 layar sekaligus. Mobil berubah jadi komputer berjalan.
Lihat Juga :