Riset Deloitte Bongkar Alasan Mengapa Orang Indonesia Belum Move On dari Mobil Bensin
Jum'at, 17 Juli 2026 - 16:46 WIB
• Pengalaman berkendara — 48 persen
• Ketersediaan stasiun pengisian daya — 47 persen
Pemerintah merespons celah keterjangkauan ini dengan memastikan rencana insentif kendaraan listrik untuk mobil dan sepeda motor listrik mulai Juni 2026.
Lee Seong Jin, Automotive Sector Leader Deloitte Asia Tenggara, menilai langkah ini tepat waktu tapi belum cukup.
"Rencana pemerintah untuk memperkenalkan insentif kendaraan listrik merupakan langkah yang sangat baik dan tepat waktu. Data kami menunjukkan bahwa biaya adalah faktor paling sensitif bagi konsumen Indonesia dalam membeli kendaraan. Meski demikian, insentif saja tidak akan cukup untuk menutup celah tersebut. Para pengendara masih menanyakan hal-hal praktis mengenai tempat pengisian daya dan ketersediaan infrastrukturnya saat dibutuhkan. Dan pertanyaan-pertanyaan ini memerlukan solusi tingkat ekosistem yang melampaui sekadar urusan harga," ungkapnya.
Sebanyak 69 persen responden Indonesia berniat beralih merek pada pembelian berikutnya — tertinggi kedua di Asia Tenggara.
Yang lebih tegas lagi, 41 persen sudah benar-benar berpindah merek pada kendaraan yang mereka pakai sekarang.
Ini tingkat perpindahan merek aktual tertinggi di kawasan, dan 69 persen dari kelompok yang sudah pindah ini berniat pindah lagi.
• Performa kendaraan — 66 persen
• Harga — 54 persen
• Portal media daring — 57 persen
• Kunjungan ke dealer resmi — 55 persen
Soal pengalaman pembelian, dua hal paling dihargai konsumen: transparansi harga (51 persen) dan penawaran harga yang menguntungkan (45 persen).
• Ketersediaan stasiun pengisian daya — 47 persen
Pemerintah merespons celah keterjangkauan ini dengan memastikan rencana insentif kendaraan listrik untuk mobil dan sepeda motor listrik mulai Juni 2026.
Lee Seong Jin, Automotive Sector Leader Deloitte Asia Tenggara, menilai langkah ini tepat waktu tapi belum cukup.
"Rencana pemerintah untuk memperkenalkan insentif kendaraan listrik merupakan langkah yang sangat baik dan tepat waktu. Data kami menunjukkan bahwa biaya adalah faktor paling sensitif bagi konsumen Indonesia dalam membeli kendaraan. Meski demikian, insentif saja tidak akan cukup untuk menutup celah tersebut. Para pengendara masih menanyakan hal-hal praktis mengenai tempat pengisian daya dan ketersediaan infrastrukturnya saat dibutuhkan. Dan pertanyaan-pertanyaan ini memerlukan solusi tingkat ekosistem yang melampaui sekadar urusan harga," ungkapnya.
Loyalitas Merek Indonesia Termasuk yang Paling Rapuh
Di luar soal NEV, pasar otomotif Indonesia punya karakter lain yang mencolok: konsumennya gampang pindah merek.Sebanyak 69 persen responden Indonesia berniat beralih merek pada pembelian berikutnya — tertinggi kedua di Asia Tenggara.
Yang lebih tegas lagi, 41 persen sudah benar-benar berpindah merek pada kendaraan yang mereka pakai sekarang.
Ini tingkat perpindahan merek aktual tertinggi di kawasan, dan 69 persen dari kelompok yang sudah pindah ini berniat pindah lagi.
Apa yang Menentukan Keputusan Beli
• Kualitas produk — 68 persen• Performa kendaraan — 66 persen
• Harga — 54 persen
Sumber Informasi yang Paling Berpengaruh
• Media sosial dan ulasan influencer — 62 persen (tertinggi di regional)• Portal media daring — 57 persen
• Kunjungan ke dealer resmi — 55 persen
Soal pengalaman pembelian, dua hal paling dihargai konsumen: transparansi harga (51 persen) dan penawaran harga yang menguntungkan (45 persen).
Lihat Juga :