Sejarah IMI yang Lebih Tua dari Sumpah Pemuda dan Boedi Oetomo
Jum'at, 12 Februari 2021 - 16:41 WIB
Cerita berdirinya IMI memang sangat menarik karena sebagai organisasi usianya sudah sangat tua yakni 115 tahun dan masih terus eksis hingga kini. Lahir pertama kali pada 27 Maret 1906 di Semarang, Jawa Tengah nama pertama yang digunakan IMI adalah Javasche Motor Club (JMC). Saat itu Javasche Motor Club adalah perkumpulan para warga Belanda dan orang-orang elite Indonesia yang memiliki kendaraan bermotor.
Dahulu kala memiliki sepeda motor atau mobil adalah suatu hal yang sangat ekslusif. Orang pertama yang memiliki sepeda motor di Indonesia adalah John C. Potter, masinis pertama di pabrik gula Oemboel Probolinggo, Jawa Timur.Dia memesan sendiri sepeda motor itu ke pabriknya, Hildebrand und Wolfmüller, di Muenchen, Jerman. Begitu juga dengan Pakubuwono X yang membawa Benz Victoria Phaeton langsung dari Jerman.Baca juga : Pabrik Tesla di China akan Buat Tesla Termurah di Dunia
Namun Javasche Motor Club bukanlah hanya organisasi kumpul-kumpul belaka. Mereka mengisi kegiatan mereka dengan membuat peta jalan yang memang sangat berguna buat para pemilik kendaraan bermotor. Edukasi kendaraan melalui buku serta yang paling penting adalah membuat papan jalan serta informasi jalan di daerah-daerah tertentu.
Mengendarai kendaraan bermotor di masa kolonial memang sangat sulit dan sering terjadi kecelakaan. Dari situlah JMC kemudian tergerak membuat sistem pemberian medali bagi para sopir. Medali itu diberikan bagi para sopir yang berhasil mengendarai kendaraan dengan selamat. Untuk mendapatkan medali itu sangat sulit karena tidak boleh mengalami kecelakaan selama sepuluh tahun.
Dan yang menarik, para sopir tersebut bukanlah orang Belanda atau orang Indonesia elite para pemilik kendaraan. Para sopir itu adalah kebanyakan orang Indonesia karena memang para warga Belanda itu memang sungkan memiliki jabatan yang elite dan tidak ingin bekerja keras mengendarai kendaraan bermotor. Bagi para sopir mendapatakan medali dari JMC adalah hal yang sangat membanggakan.
Dahulu kala memiliki sepeda motor atau mobil adalah suatu hal yang sangat ekslusif. Orang pertama yang memiliki sepeda motor di Indonesia adalah John C. Potter, masinis pertama di pabrik gula Oemboel Probolinggo, Jawa Timur.Dia memesan sendiri sepeda motor itu ke pabriknya, Hildebrand und Wolfmüller, di Muenchen, Jerman. Begitu juga dengan Pakubuwono X yang membawa Benz Victoria Phaeton langsung dari Jerman.Baca juga : Pabrik Tesla di China akan Buat Tesla Termurah di Dunia
Namun Javasche Motor Club bukanlah hanya organisasi kumpul-kumpul belaka. Mereka mengisi kegiatan mereka dengan membuat peta jalan yang memang sangat berguna buat para pemilik kendaraan bermotor. Edukasi kendaraan melalui buku serta yang paling penting adalah membuat papan jalan serta informasi jalan di daerah-daerah tertentu.
Mengendarai kendaraan bermotor di masa kolonial memang sangat sulit dan sering terjadi kecelakaan. Dari situlah JMC kemudian tergerak membuat sistem pemberian medali bagi para sopir. Medali itu diberikan bagi para sopir yang berhasil mengendarai kendaraan dengan selamat. Untuk mendapatkan medali itu sangat sulit karena tidak boleh mengalami kecelakaan selama sepuluh tahun.
Dan yang menarik, para sopir tersebut bukanlah orang Belanda atau orang Indonesia elite para pemilik kendaraan. Para sopir itu adalah kebanyakan orang Indonesia karena memang para warga Belanda itu memang sungkan memiliki jabatan yang elite dan tidak ingin bekerja keras mengendarai kendaraan bermotor. Bagi para sopir mendapatakan medali dari JMC adalah hal yang sangat membanggakan.
Lihat Juga :