Insentif Mobil Listrik Dikritik, Gaikindo Buka Suara
Rabu, 24 Mei 2023 - 20:17 WIB
loading...
Wuling dan Hyundai jadi pabrikan yang mendapatkan subsidi mobil listrik, namun dianggap tidak tepat sasaran. Foto: dok Sindonews
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah memberikan insentif pada mobil listrik berupa potongan PPN (Pajak Pertambahan Nilai) sebesar 10 persen. Maka, seharusnya konsumen akan mendapat potongan mulai dari Rp25 juta hingga Rp70 juta. Tergantung dari daerah di mana membeli mobil listrik tersebut.
Sekadar informasi, saat ini baru ada dia produsen yang masuk dalam program bantuan pemerintah, yakni Hyundai Ioniq 5 dan Wuling Air ev.
Kedua model tersebut telah memenuhi syarat, seperti dirakit secara lokal dan memiliki nilai TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) minimal 40 persen.
Namun, program pemerintah ini mendapat kritik dari salah satu calon presiden (capres), yang mengatakan bahwa kebijakan ini tidak tepat. Menurutnya, ini hanya ditujukan untuk orang kaya atau kalangan atas, pasalnya harga mobil listrik masih cukup tinggi.
Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesi (Gaikindo) Yohannes Nangoi merespon hal tersebut. Dia menyebutkan bahwa kritikan tersebut sangat bagus untuk menjadi bahan evaluasi di pemerintah.
“Begini, yang menginisiasi subsidi mobil listrik kan bukan Gaikindo, itu adalah pemerintah. Pemerintah itu targetnya supaya mobil listrik itu laku, lebih banyak terjual dengan beberapa tujuan. Satu, lingkungan lebih bersih, dua yang namanya penggunaan bahan bakar fosil dikurangin. Sehingga yang namanya membeli bahan bakar fosil dari luar negeri bisa ditekan. Ketiga, defisit yang terjadi," kata Nangoi saat ditemui di Jakarta Pusat, Rabu (24/5).
Nangoi mengungkapkan bahwa impor bahan bakar fosil saat ini sudah terlalu besar, yang diklaim mencapai lebih dari Rp600 triliun.
Oleh sebab itu, pemerintah mengeluarkan sejumlah kebijakan demi meningkatkan penjualan dan penggunaan kendaraan listrik di Indonesia.
Sekadar informasi, saat ini baru ada dia produsen yang masuk dalam program bantuan pemerintah, yakni Hyundai Ioniq 5 dan Wuling Air ev.
Kedua model tersebut telah memenuhi syarat, seperti dirakit secara lokal dan memiliki nilai TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) minimal 40 persen.
Namun, program pemerintah ini mendapat kritik dari salah satu calon presiden (capres), yang mengatakan bahwa kebijakan ini tidak tepat. Menurutnya, ini hanya ditujukan untuk orang kaya atau kalangan atas, pasalnya harga mobil listrik masih cukup tinggi.
Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesi (Gaikindo) Yohannes Nangoi merespon hal tersebut. Dia menyebutkan bahwa kritikan tersebut sangat bagus untuk menjadi bahan evaluasi di pemerintah.
“Begini, yang menginisiasi subsidi mobil listrik kan bukan Gaikindo, itu adalah pemerintah. Pemerintah itu targetnya supaya mobil listrik itu laku, lebih banyak terjual dengan beberapa tujuan. Satu, lingkungan lebih bersih, dua yang namanya penggunaan bahan bakar fosil dikurangin. Sehingga yang namanya membeli bahan bakar fosil dari luar negeri bisa ditekan. Ketiga, defisit yang terjadi," kata Nangoi saat ditemui di Jakarta Pusat, Rabu (24/5).
Nangoi mengungkapkan bahwa impor bahan bakar fosil saat ini sudah terlalu besar, yang diklaim mencapai lebih dari Rp600 triliun.
Oleh sebab itu, pemerintah mengeluarkan sejumlah kebijakan demi meningkatkan penjualan dan penggunaan kendaraan listrik di Indonesia.
Lihat Juga :