Teknologi Penukaran Baterai Mampu Akselerasi Bertumbuhnya Kendaraan Ramah Lingkungan
Rabu, 27 Mei 2020 - 10:07 WIB
loading...
A
A
A
Percepatan rencana bisnis Oyika ini pada akhirnya akan turut membantu mengembangkan industri motor listrik di Indonesia secara keseluruhan.
Hal ini tentunya dapat membantu berbagai pihak, termasuk pemerintah Indonesia untuk mengejar target peningkatan jumlah kendaraan listrik beserta Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU) atau swap station dengan teknologi yang lebih maju.
Tak hanya itu, investasi yang mendorong percepatan rencana tersebut juga bisa menjadi peluang kemitraan dengan berbagai brand lokal Indonesia.
Harapannya, saat kemitraan ini terjalin, Oyika dapat membantu produsen sepeda motor listrik di Indonesia untuk memperluas pasarnya. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga hingga ke wilayah lain di Asia Tenggara.
"Kemitraan dengan Banpu NEXT juga akan mempercepat adopsi transportasi ramah lingkungan dan memungkinkan kami untuk berkontribusi dalam mitigasi perubahan iklim," ujar Albert Soerjonoto, Wakil Direktur Oyika Indonesia.
Namun, tantangan utama dalam mengadopsi kendaraan ramah lingkungan ini adalah harganya yang lebih mahal dari kendaraan bermotor konvensional.
Infrastruktur pengisian baterainya juga masih terbatas. Sehingga, membuat banyak pengendara khawatir soal jarak tempuh perjalanannya.
Hal ini tentunya dapat membantu berbagai pihak, termasuk pemerintah Indonesia untuk mengejar target peningkatan jumlah kendaraan listrik beserta Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU) atau swap station dengan teknologi yang lebih maju.
Tak hanya itu, investasi yang mendorong percepatan rencana tersebut juga bisa menjadi peluang kemitraan dengan berbagai brand lokal Indonesia.
Harapannya, saat kemitraan ini terjalin, Oyika dapat membantu produsen sepeda motor listrik di Indonesia untuk memperluas pasarnya. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga hingga ke wilayah lain di Asia Tenggara.
"Kemitraan dengan Banpu NEXT juga akan mempercepat adopsi transportasi ramah lingkungan dan memungkinkan kami untuk berkontribusi dalam mitigasi perubahan iklim," ujar Albert Soerjonoto, Wakil Direktur Oyika Indonesia.
Namun, tantangan utama dalam mengadopsi kendaraan ramah lingkungan ini adalah harganya yang lebih mahal dari kendaraan bermotor konvensional.
Infrastruktur pengisian baterainya juga masih terbatas. Sehingga, membuat banyak pengendara khawatir soal jarak tempuh perjalanannya.
Lihat Juga :