Kebijakan Trump Picu Kenaikan Harga Mobil! Konsumen AS Siap-Siap Tekor Rp187 Juta!

Selasa, 04 Maret 2025 - 10:36 WIB
loading...
Kebijakan Trump Picu...
Mobil-mobil yang diproduksi di Kanada dan Meksiko akan dikenai kenaikan tarif oleh pemerintah AS sehingga lebih mahal. Foto: Reuters
A A A
AMERIKA - Harga kendaraan baru di Amerika Serikat diprediksi mengalami lonjakan drastis. Ini gara-gara penerapan tarif baru yang akan diberlakukan oleh Presiden Donald Trump.

Anderson Economic Group (AEG) mengungkapkan bahwa kendaraan crossover listrik (EV) bisa mengalami kenaikan harga lebih dari USD12.000 (sekitar Rp187 juta) jika tarif impor 25% dari Kanada dan Meksiko mulai diterapkan.

Trump mengonfirmasi bahwa tarif tersebut akan resmi berlaku mulai hari Selasa.

Dampak Tarif: Harga Mobil Naik Drastis

Dampak tarif ini tidak hanya berlaku bagi kendaraan yang diimpor langsung dari Kanada dan Meksiko, tetapi juga bagi komponen kendaraan yang sering kali melintasi perbatasan beberapa kali selama proses produksi. Biaya tambahan ini hampir pasti akan dibebankan kepada konsumen AS, sebagaimana disebutkan dalam laporan AEG.

Kenaikan harga tidak hanya terbatas pada kendaraan listrik. Kendaraan populer lainnya juga terkena dampak tarif ini:

Crossover berbahan bakar bensin: naik minimal USD3.500 (Rp54 juta)

Truk pikap: naik hingga USD8.000 (Rp125 juta)

SUV full-size: naik hingga USD9.000 (Rp140 juta)

Mobil kecil: naik sekitar USD6.200 (Rp97 juta)

Lebih mengejutkan lagi, laporan AEG tidak mencantumkan dampak dari tarif baja dan aluminium Trump yang terpisah, yang bisa semakin meningkatkan biaya produksi mobil.

Tarif Diberlakukan di Tengah Kenaikan Harga Kendaraan

Lonjakan harga kendaraan ini terjadi pada saat harga rata-rata mobil baru di AS telah mencapai USD47.465 (Rp740 juta) menurut situs riset otomotif Edmunds.

Bahkan, hampir 1 dari 5 pembeli kini membayar lebih dari USD1.000 (Rp15,6 juta) per bulan untuk cicilan mobil mereka.

Trump mengatakan pekan lalu bahwa tarif ini kembali diberlakukan setelah berakhirnya negosiasi selama satu bulan dengan Kanada dan Meksiko. Tarif ini diterapkan setelah laporan terbaru Consumer Price Index (CPI) menunjukkan bahwa harga barang dan jasa naik lebih dari yang diperkirakan.

Reaksi dari Produsen Mobil Besar

Para eksekutif dari General Motors (GM), Ford (F), dan Stellantis (STLA) telah mengadakan pertemuan dengan Departemen Perdagangan AS untuk memperingatkan konsekuensi ekonomi yang serius dari tarif yang diusulkan ini. Ford dan Stellantis secara khusus menekan Gedung Putih untuk menargetkan jutaan kendaraan impor yang tidak memiliki komponen buatan AS.

Dalam laporan Bloomberg, CEO Ford, Jim Farley, mengkritik kebijakan tarif yang hanya diterapkan pada Kanada dan Meksiko, sementara produsen lain seperti Hyundai dan Kia dari Korea Selatan tidak terkena tarif tambahan meskipun mereka mengekspor 600.000 unit ke AS setiap tahun. Hal yang sama berlaku bagi Toyota dari Jepang, yang juga mengimpor 500.000 kendaraan ke AS tanpa tarif tambahan.

“Saya tidak mengerti mengapa kita membahas tarif ini sementara Hyundai-Kia mengimpor 600.000 unit ke AS tanpa tarif tambahan, dan Toyota bisa mengimpor setengah juta kendaraan tanpa tarif tambahan. Jika kita akan memiliki kebijakan tarif, maka harus menyeluruh bagi seluruh industri,” ujar Farley dalam laporan keuangan Q4 Ford.

“Kita tidak bisa hanya memilih negara tertentu untuk dikenai tarif sementara pesaing impor kita menikmati keuntungan besar tanpa terkena dampaknya.”

Dampak Langsung pada Industri Otomotif AS

Banyak kendaraan populer dari Big Three (GM, Ford, dan Stellantis) yang akan terdampak oleh tarif terhadap Kanada dan Meksiko. Beberapa model yang diproduksi di luar AS antara lain:

1. GM: Silverado dan Sierra diproduksi di AS, Meksiko, dan Kanada.

2. Ford: Model seperti Maverick, Bronco Sport, dan Mustang Mach-E dibuat di Meksiko.

3. Stellantis: Produksi Chrysler Pacifica minivan berada di Kanada, sedangkan Dodge Charger Daytona EV juga dirakit di luar AS.

4. Volkswagen (VW): Model seperti Tiguan SUV dirakit di Meksiko.

5. BMW: Model sport M2 juga dibuat di pabrik BMW di Meksiko.

Dalam laporan terbarunya, CEO GM, Mary Barra, menyatakan bahwa perusahaan mungkin akan memindahkan sebagian produksi ke AS jika tarif mulai berlaku. Namun, ini juga akan menyebabkan kenaikan biaya tambahan yang bisa dibebankan kembali kepada konsumen.

Sementara itu, Honda (HMC) juga mempertimbangkan untuk memproduksi Civic Hybrid generasi terbaru di AS guna menghindari potensi tarif. Reuters melaporkan bahwa keputusan ini sedang dalam pertimbangan untuk menghindari kenaikan harga yang bisa mempengaruhi daya saing model hybrid mereka.

Baca juga: Biaya Pajak Mobil Honda CR-V Semua Tahun dan Tipe

Tarif Bisa Memukul Konsumen AS

Meskipun pemerintahan Trump berharap dapat meningkatkan produksi mobil dalam negeri, masih belum jelas apakah konsumen AS bersedia membayar lebih untuk kendaraan yang dibuat di dalam negeri. Tarif impor 25% dari Kanada dan Meksiko ini bisa menjadi pukulan telak bagi pasar otomotif AS, dengan lonjakan harga mobil yang signifikan.

Apakah langkah ini akan berhasil menekan impor dan meningkatkan produksi dalam negeri? Atau justru akan membebani konsumen AS dengan harga kendaraan yang semakin tinggi? Waktu akan menjawab dampak kebijakan tarif ini terhadap industri otomotif di AmerikaSerikat.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Trump Usir 200 Ribu...
Trump Usir 200 Ribu Sopir Truk Imigran di Tengah Krisis Perang Iran
Karyawan Ford yang Diberi...
Karyawan Ford yang Diberi Jari Tengah oleh Trump Kena Diskors
Mengapa Pajak Mobil...
Mengapa Pajak Mobil di Indonesia Tertinggi di Dunia? Ini Jawaban yang Mengejutkan Publik.
Era Pajak Motor Listrik...
Era Pajak Motor Listrik Seharga Secangkir Kopi Telah Tiba, Mulai Rp35 Ribu-Rp243 Ribu Setahun!
Kebijakan Donald Trump...
Kebijakan Donald Trump Dituding Jadi Pemicu Mercedes-Benz Beli Mesin BMW
Ketegangan Meningkat,...
Ketegangan Meningkat, Trump Ancam Pangkas Subsidi Tesla dan SpaceX
Ini Detail Cekcok Trump...
Ini Detail Cekcok Trump dan Mohammed bin Salman Gara-gara Perang Iran
1 Tahun Berkuasa, Kekayaan...
1 Tahun Berkuasa, Kekayaan Trump Bertambah Rp25 Triliun
Siapkan Kemenangan pada...
Siapkan Kemenangan pada Pemilu Pertengahan, Trump Gelar Konvensi Partai Republik
Rekomendasi
KPK Buka Peluang Panggil...
KPK Buka Peluang Panggil Menhut terkait Penerimaan Pelepasan HPT Bupati Kuansing
Rekonstruksi Kasus Penganiayaan...
Rekonstruksi Kasus Penganiayaan YTR , Taufik Hidayat Peragakan Pukul Pakai Golok dan Sundut Korban
Ini Identitas Pilot...
Ini Identitas Pilot Asal Amerika yang Tewas usai Pesawatnya Dibakar di Papua
Berita Terkini
Ternyata Ini Alasan...
Ternyata Ini Alasan Koenigsegg Tidak Mau Bikin Mobil Listrik
Sistem Isi Daya Dua...
Sistem Isi Daya Dua Arah Memicu Persaingan antara BMW, VW, dan BYD
Honda Terbitkan Obligasi...
Honda Terbitkan Obligasi Rp44 Triliun: Bukan Ekspansi, tapi Ganti Rugi
Kenapa CEO Honda Toshihiro...
Kenapa CEO Honda Toshihiro Mibe Minta Maaf ke Pemegang Saham?
Densu Jadi Wajah Baru...
Densu Jadi Wajah Baru Caroline.id, Strategi Kepercayaan di Tengah Pasar Mobil Bekas yang Makin Sengit
Benedetto Vigna: Jika...
Benedetto Vigna: Jika Mobil Otonom Bisa Mengemudi Sendiri, Mengapa Membeli Ferrari
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved