Ironi Mobil Listrik: Impian Hijau Pemerintah Mengancam Pabrik Komponen Lokal
Selasa, 26 Agustus 2025 - 17:32 WIB
loading...
A
A
A
Keluhan pun mulai mengalir deras ke meja Gaikindo. Para pengusaha komponen merasa tercekik. Pesanan menurun, volume produksi merosot, dan bayang-bayang efisiensi mulai menghantui.
“Walau kami (Gaikindo) tidak menaungi komponen, tetapi beberapa perusahaan komponen sudah mengeluhkan. Kalau kita terus-terusan volume penjualannya seperti ini, kita berat karena supply (pasokan pesanan) semakin menurun,” ungkap Kukuh, menyuarakan jeritan para pengusaha yang nasibnya kini di ujung tanduk.
Kebijakan pemerintah yang memberikan insentif untuk mobil listrik impor memang bertujuan mulia: mempercepat adopsi kendaraan ramah lingkungan.
Namun, kebijakan ini tampak seperti pedang bermata dua. Di satu sisi ia memoles citra Indonesia sebagai negara yang pro-lingkungan, namun di sisi lain ia secara perlahan menggerogoti fondasi industri manufaktur otomotif yang telah dibangun puluhan tahun.
Pertanyaan kritis pun menggantung di udara: untuk siapa sebenarnya transisi energi ini? Apakah untuk segelintir konsumen kelas menengah yang mampu membeli mobil impor, atau untuk keberlangsungan industri nasional dan nasib 1,5 juta pekerjanya?
Gemerlap mobil listrik impor kini menjadi pertaruhan besar, antara melaju kencang menuju target emisi nol atau berisiko memadamkan tungku-tungku produksi di pabrik dalam negeri.
“Walau kami (Gaikindo) tidak menaungi komponen, tetapi beberapa perusahaan komponen sudah mengeluhkan. Kalau kita terus-terusan volume penjualannya seperti ini, kita berat karena supply (pasokan pesanan) semakin menurun,” ungkap Kukuh, menyuarakan jeritan para pengusaha yang nasibnya kini di ujung tanduk.
Kebijakan pemerintah yang memberikan insentif untuk mobil listrik impor memang bertujuan mulia: mempercepat adopsi kendaraan ramah lingkungan.
Namun, kebijakan ini tampak seperti pedang bermata dua. Di satu sisi ia memoles citra Indonesia sebagai negara yang pro-lingkungan, namun di sisi lain ia secara perlahan menggerogoti fondasi industri manufaktur otomotif yang telah dibangun puluhan tahun.
Pertanyaan kritis pun menggantung di udara: untuk siapa sebenarnya transisi energi ini? Apakah untuk segelintir konsumen kelas menengah yang mampu membeli mobil impor, atau untuk keberlangsungan industri nasional dan nasib 1,5 juta pekerjanya?
Gemerlap mobil listrik impor kini menjadi pertaruhan besar, antara melaju kencang menuju target emisi nol atau berisiko memadamkan tungku-tungku produksi di pabrik dalam negeri.
(dan)
Lihat Juga :