Anies Sidak SPBU Shell, Temukan Fakta Pahit: Gaji Karyawan Dipotong, Dipaksa Jualan Kopi
Selasa, 07 Oktober 2025 - 09:20 WIB
loading...
Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, saat melakukan sidak ke SPBU Shell di TB Simatupang setelah sunmori bersama keluarga. Foto: Instagram/Anies Baswedan
A
A
A
JAKARTA - Pemandangan ganjil tersaji di salah satu stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) Shell yang megah di Jalan TB Simatupang, Jakarta.
Di tengah lalu lalang kendaraan ibu kota, deretan pompa bensin justru terdiam membisu, kering kerontang selama berbulan-bulan. Ke sinilah mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, melangkahkan kaki bukan untuk mengisi tangki kendaraannya, melainkan untuk mendengar langsung sebuah kisah getir yang tersembunyi di baliknya.
Di sana, Anies tidak bertemu dengan jajaran manajer, melainkan dengan Fikri, petugas SPBU yang wajahnya mewakili nasib ratusan karyawan lain.
Dengan gamblang, Fikri menelanjangi dampak nyata dari krisis BBM yang melanda tempat kerjanya. Ini bukan lagi sekadar soal antrean panjang atau kelangkaan sesaat; ini adalah pertaruhan nasib dan periuk nasi.
“Karyawan itu (dampaknya) pengurangan hari kerja, ada penyesuaian. Jadi ada jam kerja dan jumlah hari kerja dibatasi, misal dari 22 hari jadi 15 hari kerja (sebulan)," tutur Fikri, seperti terekam dalam video yang diunggah Anies.
Bagi Fikri dan rekan-rekannya, kehilangan tujuh hari kerja berarti kehilangan sepertiga dari pendapatan bulanan mereka.
Ironisnya, di saat mesin-mesin pompa tak lagi beroperasi, fokus bisnis dipaksa bergeser secara drastis. "Kita sekarang fokus ke food. Jualan kopi dan makanan gitu," lanjut Fikri.
Sebuah SPBU yang sejatinya hidup dari deru mesin kendaraan, kini harus bertahan dari seduhan kopi dan penganan kecil. Sebuah strategi bertahan hidup yang menyedihkan.
Sebelum krisis ini terjadi, SPBU tersebut adalah nadi bagi para komuter. Fikri menyebutkan, dalam sehari, tak kurang dari 2.000 konsumen datang silih berganti. Angka fantastis ini terbagi atas 1.200 sepeda motor dan 800 mobil.
Kini, ribuan pelanggan setia itu lenyap, meninggalkan kekosongan yang berdampak langsung pada kantong para pekerja.
Meski belum ada badai pemutusan hubungan kerja (PHK) seperti yang ramai dibicarakan, pengurangan hari kerja adalah pukulan telak yang tak kalah menyakitkan.
"Dampaknya pengurangan hari kerja, pendapatan juga kurang begitu. Harapannya cepat kembali lagi, bensin Shell ada lagi. Harapannya cepat normal, biar teman-teman bisa kerja normal lagi," ujar Fikri dengan nada penuh harap.
Mendengar penuturan itu, Anies Baswedan memberikan respons yang menyoroti gambaran lebih besar. "Mudah-mudahan segera pulih dah, biar semua bisa kerja lagi normal. Kompetisi bisa berjalan dengan baik, semua yang kerja di sini bisa dapat penghasilan seperti biasa," ucap Anies.
Pernyataannya bukan hanya sekadar simpati, tetapi juga sentilan halus terhadap kondisi persaingan usaha dan regulasi yang semestinya menjamin kelangsungan hidup banyak orang.
Kunjungan Anies mungkin hanya sesaat, namun ia berhasil mengangkat sebuah anomali besar ke permukaan: merek global sekelas Shell bisa kehabisan pasokan selama berbulan-bulan di jantung ekonomi negara, dan yang menjadi korban pertama adalah para pekerja di levelpalingbawah.
Di tengah lalu lalang kendaraan ibu kota, deretan pompa bensin justru terdiam membisu, kering kerontang selama berbulan-bulan. Ke sinilah mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, melangkahkan kaki bukan untuk mengisi tangki kendaraannya, melainkan untuk mendengar langsung sebuah kisah getir yang tersembunyi di baliknya.
Di sana, Anies tidak bertemu dengan jajaran manajer, melainkan dengan Fikri, petugas SPBU yang wajahnya mewakili nasib ratusan karyawan lain.
Dengan gamblang, Fikri menelanjangi dampak nyata dari krisis BBM yang melanda tempat kerjanya. Ini bukan lagi sekadar soal antrean panjang atau kelangkaan sesaat; ini adalah pertaruhan nasib dan periuk nasi.
“Karyawan itu (dampaknya) pengurangan hari kerja, ada penyesuaian. Jadi ada jam kerja dan jumlah hari kerja dibatasi, misal dari 22 hari jadi 15 hari kerja (sebulan)," tutur Fikri, seperti terekam dalam video yang diunggah Anies.
Bagi Fikri dan rekan-rekannya, kehilangan tujuh hari kerja berarti kehilangan sepertiga dari pendapatan bulanan mereka.
Ironisnya, di saat mesin-mesin pompa tak lagi beroperasi, fokus bisnis dipaksa bergeser secara drastis. "Kita sekarang fokus ke food. Jualan kopi dan makanan gitu," lanjut Fikri.
Sebuah SPBU yang sejatinya hidup dari deru mesin kendaraan, kini harus bertahan dari seduhan kopi dan penganan kecil. Sebuah strategi bertahan hidup yang menyedihkan.
Sebelum krisis ini terjadi, SPBU tersebut adalah nadi bagi para komuter. Fikri menyebutkan, dalam sehari, tak kurang dari 2.000 konsumen datang silih berganti. Angka fantastis ini terbagi atas 1.200 sepeda motor dan 800 mobil.
Kini, ribuan pelanggan setia itu lenyap, meninggalkan kekosongan yang berdampak langsung pada kantong para pekerja.
Meski belum ada badai pemutusan hubungan kerja (PHK) seperti yang ramai dibicarakan, pengurangan hari kerja adalah pukulan telak yang tak kalah menyakitkan.
"Dampaknya pengurangan hari kerja, pendapatan juga kurang begitu. Harapannya cepat kembali lagi, bensin Shell ada lagi. Harapannya cepat normal, biar teman-teman bisa kerja normal lagi," ujar Fikri dengan nada penuh harap.
Mendengar penuturan itu, Anies Baswedan memberikan respons yang menyoroti gambaran lebih besar. "Mudah-mudahan segera pulih dah, biar semua bisa kerja lagi normal. Kompetisi bisa berjalan dengan baik, semua yang kerja di sini bisa dapat penghasilan seperti biasa," ucap Anies.
Pernyataannya bukan hanya sekadar simpati, tetapi juga sentilan halus terhadap kondisi persaingan usaha dan regulasi yang semestinya menjamin kelangsungan hidup banyak orang.
Kunjungan Anies mungkin hanya sesaat, namun ia berhasil mengangkat sebuah anomali besar ke permukaan: merek global sekelas Shell bisa kehabisan pasokan selama berbulan-bulan di jantung ekonomi negara, dan yang menjadi korban pertama adalah para pekerja di levelpalingbawah.
(dan)
Lihat Juga :