Ferrari Pastikan Mesin Bensin Jadi Pilihan Utama Bukan Listrik
Sabtu, 11 Oktober 2025 - 18:50 WIB
loading...
Mesin Ferrari. FOTO/ CARSCOOPS
A
A
A
JAKARTA - Seiring dunia otomotif bergerak menuju elektrifikasi, Ferrari tetap berpegang teguh pada identitas intinya, yaitu mesin pembakaran internal (ICE).
Merek Kuda Jingkrak asal Maranello ini telah mengonfirmasi bahwa mereka akan terus mengembangkan mesin V6, V8, dan V12, meskipun model listrik pertama mereka akan segera hadir.
Model listrik pertama Ferrari, yang dikenal sebagai Electrica, dijadwalkan tiba pada akhir tahun depan. Model ini akan melambangkan era baru bagi Ferrari, tetapi bukan berarti berakhirnya era mesin bensin.
Antara tahun 2026 dan 2030, Ferrari berencana meluncurkan lebih dari selusin model baru dan sebagian besar masih akan menggunakan mesin konvensional.
Ferrari menjelaskan bahwa mereka akan memastikan mesin pembakaran yang ada memenuhi standar emisi terbaru, sekaligus meningkatkan efisiensi dan daya spesifik, serta mengadaptasi mesin tersebut dengan bahan bakar alternatif.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun mereka bergerak menuju dunia listrik di masa depan, Ferrari tetap ingin mempertahankan "jiwa" yang membuat setiap mobil mereka istimewa.
Menurut CEO Ferrari, Benedetto Vigna, ia tidak yakin mesin pembakaran akan sepenuhnya punah di pasar mobil mewah.
Hal ini karena pelanggan Ferrari tidak hanya membeli mobil, tetapi juga pengalaman emosional dan suara mesin yang merupakan bagian dari warisan mereka.
Namun, kenyataan tetap menuntut perubahan. Ferrari memperkirakan bahwa pada tahun 2030, 60% dari jajaran modelnya akan dialiri listrik, terdiri dari 40% hibrida dan 20% listrik penuh.
Sisanya, 40% akan tetap mempertahankan mesin bensin murni, menjadikan era baru Ferrari sebuah perpaduan antara tradisi dan teknologi.
Selain powertrain, Ferrari juga memperhatikan aspek Antarmuka Manusia. Mereka akan memperkenalkan sistem kontrol baru yang disebut "phygital" yang merupakan kombinasi elemen fisik dan digital.
Tanda-tanda awal sudah terlihat pada model Ferrari Amalfi yang diluncurkan Juli lalu. Mobil ini hadir dengan setir yang kembali menggunakan tombol asli, setelah banyak pemilik mengeluhkan sistem sentuh kapasitif yang dianggap lebih mengganggu daripada membantu. Ferrari akhirnya mendengarkan suara pelanggan.
Saat ini, Ferrari baru mengonfirmasi satu model bertenaga listrik penuh. Vigna menepis rumor bahwa tidak ada permintaan untuk model bertenaga listrik kedua, dan menjelaskan bahwa model tersebut belum ada.
Namun, kenyataannya pasar EV mewah masih lesu, dengan banyak produsen supercar menunda investasi besar karena permintaan masih rendah. Electrica akan menjadi ujian utama bagi Ferrari, tetapi mampukah mereka mempertahankan keajaiban merek tersebut di dunia tanpa deru mesin?
Merek Kuda Jingkrak asal Maranello ini telah mengonfirmasi bahwa mereka akan terus mengembangkan mesin V6, V8, dan V12, meskipun model listrik pertama mereka akan segera hadir.
Model listrik pertama Ferrari, yang dikenal sebagai Electrica, dijadwalkan tiba pada akhir tahun depan. Model ini akan melambangkan era baru bagi Ferrari, tetapi bukan berarti berakhirnya era mesin bensin.
Antara tahun 2026 dan 2030, Ferrari berencana meluncurkan lebih dari selusin model baru dan sebagian besar masih akan menggunakan mesin konvensional.
Ferrari menjelaskan bahwa mereka akan memastikan mesin pembakaran yang ada memenuhi standar emisi terbaru, sekaligus meningkatkan efisiensi dan daya spesifik, serta mengadaptasi mesin tersebut dengan bahan bakar alternatif.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun mereka bergerak menuju dunia listrik di masa depan, Ferrari tetap ingin mempertahankan "jiwa" yang membuat setiap mobil mereka istimewa.
Menurut CEO Ferrari, Benedetto Vigna, ia tidak yakin mesin pembakaran akan sepenuhnya punah di pasar mobil mewah.
Hal ini karena pelanggan Ferrari tidak hanya membeli mobil, tetapi juga pengalaman emosional dan suara mesin yang merupakan bagian dari warisan mereka.
Namun, kenyataan tetap menuntut perubahan. Ferrari memperkirakan bahwa pada tahun 2030, 60% dari jajaran modelnya akan dialiri listrik, terdiri dari 40% hibrida dan 20% listrik penuh.
Sisanya, 40% akan tetap mempertahankan mesin bensin murni, menjadikan era baru Ferrari sebuah perpaduan antara tradisi dan teknologi.
Selain powertrain, Ferrari juga memperhatikan aspek Antarmuka Manusia. Mereka akan memperkenalkan sistem kontrol baru yang disebut "phygital" yang merupakan kombinasi elemen fisik dan digital.
Tanda-tanda awal sudah terlihat pada model Ferrari Amalfi yang diluncurkan Juli lalu. Mobil ini hadir dengan setir yang kembali menggunakan tombol asli, setelah banyak pemilik mengeluhkan sistem sentuh kapasitif yang dianggap lebih mengganggu daripada membantu. Ferrari akhirnya mendengarkan suara pelanggan.
Saat ini, Ferrari baru mengonfirmasi satu model bertenaga listrik penuh. Vigna menepis rumor bahwa tidak ada permintaan untuk model bertenaga listrik kedua, dan menjelaskan bahwa model tersebut belum ada.
Namun, kenyataannya pasar EV mewah masih lesu, dengan banyak produsen supercar menunda investasi besar karena permintaan masih rendah. Electrica akan menjadi ujian utama bagi Ferrari, tetapi mampukah mereka mempertahankan keajaiban merek tersebut di dunia tanpa deru mesin?
(wbs)
Lihat Juga :