Tsunami Limbah 1 Juta Ton Baterai Mobil Listrik China di 2030
Sabtu, 03 Januari 2026 - 11:55 WIB
loading...
Pekerja di fasilitas daur ulang resmi memilah ribuan modul baterai kendaraan listrik bekas; lonjakan limbah baterai di China kini memicu kekhawatiran lingkungan akibat maraknya praktik daur ulang ilegal. Foto: ist
A
A
A
CHINA - China resmi jadi pemimpin perlombaan mobil listrik dunia dengan dominasi pasar yang mutlak. Namun, raksasa Asia itu duduk di atas "bom waktu" ekologis yang berdetak kencang.
Jutaan baterai bekas kini membanjiri pasar, memicu bangkitnya ekonomi bawah tanah atau gray market berbahaya, tepat di saat Beijing mati-matian membangun sistem daur ulang yang beradab untuk menjinakkan limbah racun masa depan.
Wang Lei, 39, warga Beijing, adalah saksi hidup dari siklus ini. Pada Agustus 2025, ia memutuskan berpisah dengan mobil listrik yang dibelinya sembilan tahun silam.
Saat Wang membeli mobil tersebut pada 2016, ia merasa menjadi pionir inovasi domestik. Namun, seiring waktu, kesehatan baterai menurun drastis dan garansi telah kedaluwarsa.
Mengganti baterai baru biayanya selangit, sehingga menjualnya adalah opsi paling rasional. Melalui aplikasi Douyin, ia menemukan pengepul baterai lokal di pinggiran kota yang berani menawar tinggi.
Wang akhirnya melepas mobilnya seharga 8.000 Yuan atau sekitar Rp17,6 juta (kurs Rp 2.200 per Yuan). Ditambah subsidi pemusnahan mobil (scrappage subsidy) dari pemerintah, Wang mengantongi total 28.000 Yuan atau setara Rp61,6 juta. Bagi Wang, masalah selesai. Namun bagi China, masalah baru saja dimulai.
Tsunami Limbah: 1 Juta Ton di 2030
Dalam satu dekade terakhir, berkat subsidi pemerintah yang royal, kepemilikan kendaraan listrik (EV) di China meledak. Pada akhir 2025, hampir 60 persen mobil baru yang terjual di China adalah mobil listrik atau plug-in hybrid.
Namun, hukum fisika tak bisa dilawan. Baterai lithium-ion memiliki batas usia. Pakar industri daur ulang menyebutkan bahwa baterai dianggap "pensiun" dari mobil ketika kapasitasnya turun di bawah 80 persen.
Lembaga riset EVtank mengestimasi volume total baterai EV yang pensiun di China mencapai 820.000 ton pada 2025 saja, dan angkanya diprediksi menembus 1 juta ton per tahun pada 2030.
Tumpukan limbah ini menguji ekosistem daur ulang China yang belum matang sepenuhnya. Hingga akhir November 2025, tercatat ada sekitar 180.000 perusahaan yang terlibat dalam daur ulang baterai.
Ledakannya luar biasa: lebih dari 30.000 perusahaan baru terdaftar sejak Januari 2025, dan lebih dari 60 persen total perusahaan baru berdiri dalam tiga tahun terakhir. Sayangnya, angka ini mencakup pasar gelap yang tak teregulasi.
Mengapa? Karena mereka memangkas biaya operasional dengan mengabaikan standar keselamatan dan lingkungan.
Gary Lin, mantan pekerja di beberapa bengkel daur ulang tak berizin antara 2022 hingga 2024, membongkar praktik mengerikan ini.
Menurutnya, para pekerja membongkar baterai secara paksa (brute force), menyusun ulang sel-sel yang masih hidup menjadi paket baru, dan menjualnya kembali seolah-olah itu barang "baru".
"Semuanya dilakukan dengan cara yang sangat kasar. Air limbah yang digunakan untuk merendam baterai sering kali dibuang langsung ke selokan," ungkap Lin.
Jika baterai sudah terlalu rusak, mereka hanya menghancurkannya dan menjualnya kiloan kepada pengekstraksi logam langka. Risiko kebakaran, ledakan, serta kontaminasi racun ke tanah dan air menjadi ancaman nyata yang diabaikan demi profit.
Secara teknis, ada dua jalur resmi bagi baterai bekas: cascade utilization (penggunaan bertingkat) di mana baterai dipakai ulang untuk penyimpanan energi stasioner atau kendaraan kecepatan rendah, dan daur ulang penuh (full recycling) untuk mengambil logam berharganya.
Raksasa industri seperti CATL, BYD, dan Geely juga turun tangan menciptakan siklus tertutup (closed loop).
CATL, produsen baterai terbesar di China, melalui anak usahanya Brunp, telah membangun sistem canggih dengan lebih dari 240 depo pengumpulan. Mereka memiliki kapasitas pembuangan tahunan 270.000 ton dengan tingkat pemulihan logam nikel, kobalt, dan mangan di atas 99 persen.
BYD juga menjalankan operasi daur ulangnya sendiri, sementara Geely membangun sistem "manufaktur sirkular". Alex Li, insinyur baterai di Shanghai, menegaskan bahwa produsen adalah pihak yang paling siap menangani limbah ini karena mereka memahami kimiawi dan rantai pasoknya.
Pemilik mobil dari merek yang bangkrut ini menjadi "yatim piatu". Tanpa dukungan pabrikan resmi untuk mengambil kembali baterai bekas, mereka terpaksa lari ke pasar gelap, memperparah sirkulasi limbah tak terkontrol.
Tahun 2026 akan menjadi titik krusial. China harus berpacu dengan waktu untuk membangun sistem end-of-life yang komprehensif, yang mampu melacak, menggunakan kembali, dan mendaur ulang jutaan ton baterai sebelum "pasar hantu" mengubah solusi hijau ini menjadi bencana lingkungan baru.
Jutaan baterai bekas kini membanjiri pasar, memicu bangkitnya ekonomi bawah tanah atau gray market berbahaya, tepat di saat Beijing mati-matian membangun sistem daur ulang yang beradab untuk menjinakkan limbah racun masa depan.
Wang Lei, 39, warga Beijing, adalah saksi hidup dari siklus ini. Pada Agustus 2025, ia memutuskan berpisah dengan mobil listrik yang dibelinya sembilan tahun silam.
Saat Wang membeli mobil tersebut pada 2016, ia merasa menjadi pionir inovasi domestik. Namun, seiring waktu, kesehatan baterai menurun drastis dan garansi telah kedaluwarsa.
Mengganti baterai baru biayanya selangit, sehingga menjualnya adalah opsi paling rasional. Melalui aplikasi Douyin, ia menemukan pengepul baterai lokal di pinggiran kota yang berani menawar tinggi.
Wang akhirnya melepas mobilnya seharga 8.000 Yuan atau sekitar Rp17,6 juta (kurs Rp 2.200 per Yuan). Ditambah subsidi pemusnahan mobil (scrappage subsidy) dari pemerintah, Wang mengantongi total 28.000 Yuan atau setara Rp61,6 juta. Bagi Wang, masalah selesai. Namun bagi China, masalah baru saja dimulai.
Tsunami Limbah: 1 Juta Ton di 2030
![Tsunami Limbah 1 Juta Ton Baterai Mobil Listrik China di 2030]()
Dalam satu dekade terakhir, berkat subsidi pemerintah yang royal, kepemilikan kendaraan listrik (EV) di China meledak. Pada akhir 2025, hampir 60 persen mobil baru yang terjual di China adalah mobil listrik atau plug-in hybrid..jpg)
Namun, hukum fisika tak bisa dilawan. Baterai lithium-ion memiliki batas usia. Pakar industri daur ulang menyebutkan bahwa baterai dianggap "pensiun" dari mobil ketika kapasitasnya turun di bawah 80 persen.
Lembaga riset EVtank mengestimasi volume total baterai EV yang pensiun di China mencapai 820.000 ton pada 2025 saja, dan angkanya diprediksi menembus 1 juta ton per tahun pada 2030.
Tumpukan limbah ini menguji ekosistem daur ulang China yang belum matang sepenuhnya. Hingga akhir November 2025, tercatat ada sekitar 180.000 perusahaan yang terlibat dalam daur ulang baterai.
Ledakannya luar biasa: lebih dari 30.000 perusahaan baru terdaftar sejak Januari 2025, dan lebih dari 60 persen total perusahaan baru berdiri dalam tiga tahun terakhir. Sayangnya, angka ini mencakup pasar gelap yang tak teregulasi.
Pasar Hantu: Cara Kotor Main Bersih
Ironi terbesar dalam industri ini adalah persaingan tidak sehat antara pemain legal dan ilegal. Pusat daur ulang ilegal atau "pasar hantu" mampu menawarkan harga beli yang lebih tinggi kepada konsumen seperti Wang Lei.Mengapa? Karena mereka memangkas biaya operasional dengan mengabaikan standar keselamatan dan lingkungan.
Gary Lin, mantan pekerja di beberapa bengkel daur ulang tak berizin antara 2022 hingga 2024, membongkar praktik mengerikan ini.
Menurutnya, para pekerja membongkar baterai secara paksa (brute force), menyusun ulang sel-sel yang masih hidup menjadi paket baru, dan menjualnya kembali seolah-olah itu barang "baru".
"Semuanya dilakukan dengan cara yang sangat kasar. Air limbah yang digunakan untuk merendam baterai sering kali dibuang langsung ke selokan," ungkap Lin.
Jika baterai sudah terlalu rusak, mereka hanya menghancurkannya dan menjualnya kiloan kepada pengekstraksi logam langka. Risiko kebakaran, ledakan, serta kontaminasi racun ke tanah dan air menjadi ancaman nyata yang diabaikan demi profit.
Upaya Pemerintah dan Raksasa Industri
Pemerintah China bukannya tinggal diam. Sejak 2018, Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi telah merilis lima "daftar putih" (white lists) perusahaan daur ulang resmi yang kini berjumlah 156 perusahaan. Mereka diwajibkan mematuhi standar ketat pemulihan logam seperti litium, nikel, kobalt, dan mangan.Secara teknis, ada dua jalur resmi bagi baterai bekas: cascade utilization (penggunaan bertingkat) di mana baterai dipakai ulang untuk penyimpanan energi stasioner atau kendaraan kecepatan rendah, dan daur ulang penuh (full recycling) untuk mengambil logam berharganya.
Raksasa industri seperti CATL, BYD, dan Geely juga turun tangan menciptakan siklus tertutup (closed loop).
CATL, produsen baterai terbesar di China, melalui anak usahanya Brunp, telah membangun sistem canggih dengan lebih dari 240 depo pengumpulan. Mereka memiliki kapasitas pembuangan tahunan 270.000 ton dengan tingkat pemulihan logam nikel, kobalt, dan mangan di atas 99 persen.
BYD juga menjalankan operasi daur ulangnya sendiri, sementara Geely membangun sistem "manufaktur sirkular". Alex Li, insinyur baterai di Shanghai, menegaskan bahwa produsen adalah pihak yang paling siap menangani limbah ini karena mereka memahami kimiawi dan rantai pasoknya.
Tantangan Merek "Yatim Piatu"
Namun, ada lubang besar dalam jaring pengaman ini. Tidak semua konsumen bisa kembali ke pabrikan asal mobil mereka. Perang harga di China telah memakan korban: lebih dari 400 merek EV kecil dan startup bangkrut dalam lima tahun terakhir, menyisakan hanya sekitar 100 merek aktif saat ini.Pemilik mobil dari merek yang bangkrut ini menjadi "yatim piatu". Tanpa dukungan pabrikan resmi untuk mengambil kembali baterai bekas, mereka terpaksa lari ke pasar gelap, memperparah sirkulasi limbah tak terkontrol.
Tahun 2026 akan menjadi titik krusial. China harus berpacu dengan waktu untuk membangun sistem end-of-life yang komprehensif, yang mampu melacak, menggunakan kembali, dan mendaur ulang jutaan ton baterai sebelum "pasar hantu" mengubah solusi hijau ini menjadi bencana lingkungan baru.
(dan)
Lihat Juga :