Saat LCGC Ditinggalkan, Mobil Listrik Rp199 Juta Justru Jadi Primadona Baru
Jum'at, 23 Januari 2026 - 10:08 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu, segmen LCGC juga menghadapi serangan fajar dari segmen kendaraan listrik (EV). Pangsa pasar kendaraan elektrifikasi kini sudah tembus lebih dari 16 persen, memakan porsi pasar mobil konvensional dan LCGC, yang kini porsinya tergerus menjadi 83 persen.
Kehadiran pemain baru dari China juga mengubah peta permainan secara fundamental. Model seperti BYD Atto 1 yang dibanderol mulai Rp 199 juta, serta Geely EX2 dengan rentang harga kompetitif, menawarkan proposisi nilai yang sulit ditolak oleh konsumen rasional.
Dengan harga setara LCGC varian tertinggi, pembeli mobil listrik mendapatkan keistimewaan yang tidak dimiliki Agya, Ayla, Sigra, atau Calya: kebebasan dari aturan ganjil-genap.
Insentif fiskal juga menjadi pembeda. Pemilik mobil listrik menikmati pajak tahunan nol rupiah dan hanya diwajibkan membayar Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas (SWDKLLJ) sebesar Rp143.000.
Bandingkan dengan pajak progresif mobil konvensional yang terus naik. Kombinasi antara daya beli yang "babak belur" dan godaan efisiensi mobil listrik inilah yang membuat penjualan LCGC nyungsep, menandai berakhirnya era dominasi mobil murah berbahan bakar bensin di jalanan Indonesia.
Kehadiran pemain baru dari China juga mengubah peta permainan secara fundamental. Model seperti BYD Atto 1 yang dibanderol mulai Rp 199 juta, serta Geely EX2 dengan rentang harga kompetitif, menawarkan proposisi nilai yang sulit ditolak oleh konsumen rasional.
Dengan harga setara LCGC varian tertinggi, pembeli mobil listrik mendapatkan keistimewaan yang tidak dimiliki Agya, Ayla, Sigra, atau Calya: kebebasan dari aturan ganjil-genap.
Insentif fiskal juga menjadi pembeda. Pemilik mobil listrik menikmati pajak tahunan nol rupiah dan hanya diwajibkan membayar Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas (SWDKLLJ) sebesar Rp143.000.
Bandingkan dengan pajak progresif mobil konvensional yang terus naik. Kombinasi antara daya beli yang "babak belur" dan godaan efisiensi mobil listrik inilah yang membuat penjualan LCGC nyungsep, menandai berakhirnya era dominasi mobil murah berbahan bakar bensin di jalanan Indonesia.
(dan)
Lihat Juga :